Untittled

Masalahnya ayahmu mati dua hari lalu.  Datang saja sekarang,  lalu tertawa. Kau hanya tinggal melihat tanah basah. Dapat ku bayangkan bagaimana hidungmu menghirup bau tubuh si lelaki tua.  Bau tanah,  sekarang aku bisa tahu bagaimana bau tanah.

Dia datang kekawinanmu dengan tergopoh,  kamu hanya tertawa dan memandang sekilas.  Tanganku sakit membimbingnya berjalan,  mulutku berbusa mengingatkan dia betapa hinanya kau.  Tapi dia yang murni hatinya berkeras kepala,  dia tahan sakit kakinya, dia tahan gatal telinganya,  namun akhirnya dia harus menahan pahit dan patah hati karena kau hanya mau memandang kami sekilas.

Masalahnya saat dia sakit dia menjual rumah ini. Dia tau badannya akan mati. Dia bertanya apa aku sudah mengabarimu tentang dia yang sedang sekarat.  Aku berkata sudah.  Lalu,  dia terdiam. Dipenghujug nyawa dia kembali patah hati.

Rumah ini laku dua miliar,  bukan kau saja orang kaya sekarang.  Ijinkan aku tertawa, uang itu diberikan ayahmu untukku dan kuterima dengan derai air mata. Derajat kami seimbang denganmu,  coba saja pandang aku seperti kau memandang kami saat pesta kawinan tempo lalu, akan kucolok matamu!

Kau terus berkeras hati, terserah saja.  Kau tak pernah dianggap lagi. Lelaki yang kau cibiri bau tanah yang terkubur dua hari lalu bukanlah majikanku.  Dia ayahku.

Advertisements

3 thoughts on “Untittled

  1. Astaga, aku suka banget sama cara kamu bawainnya. Tulisan yang jahat, sedih, dan cukup blunt itu jadi salah satu favoriteku dan komposisi sedihnya di cerita ini paaas banget, gak menye tapi lebih ke marah 👍👍

    Review dikit ya? Hehe. Ku+kata kerja itu disambung, jadi nulisnya kayak kubayangkan 😉

    Last, keep making something awesome ya! 🙂

    Like

    • Halo! Wah makasih ya udah mau nyempatin baca apalah apalah ini… Dan aku seneng deh kamu suka sama tulisan ini.. Hihi 😂❤️

      Makasih juga buat review-nya. Tulisannya berantakan emang, aku males banget ngedit *janganditiru* nanti aku bakal perbaiki lagi.. Sekali lagi makasih yaaa *xoxo

      Like

  2. miris TT bayangin bapaknya dateng ke acara pernikahan dgn tergopoh bikin hatiki sakit TT tega banget sih itu anak yaaallah… semoga kami tidak termasuk anak2 yg durhaka pd ibu bapak kami.

    nice writing, siosilo 😉

    Like

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s