Seduhan Cinta

Aku menghiraukan kau pergi, tersenyum saat kau kembali. Menikmati kehangatan di setiap suap yang terhidang.
— Endah n Rhesa – Ruang Bahagia

**

Pukul dua siang, matahari sedang panas-panasnya. Adi mengipas-ngipas badannya dengan kaus oblong, Setelah sholat Jum’at dan mengenyangkan diri Adi hanya ingin bermalas-malasan saat ini. Asap rokok keluar dari mulutnya.

“Seharusnya kita ndak boleh ngopi sambil ngerokok kalau habis makan, mas,” ujar Idar sembari menghidangkan segelas kopi hitam dengan asap masih mengepul.

“Loh, siapa yang bilang?”

“Aku lihat di TV, bisa kena serangan jantung.”

“Nanti lah itu soal serangan jantung. Yang penting sekarang aku habisin kopimu dulu.”

“Ya, seenggaknya jangan merokok, lah, mas. Kasihan Bayu, dia masih kecil.”

Adi mengangguk sambil mematikan rokoknya yang baru terbakar. Tanpa suara dia menghirup air gula berwarna hitam itu. Disandarkannya tubuhnya di dinding bambu. Diperhatikannya Idar yang sedang asik mengayun anak pertama mereka yang masih berumur lima bulan, shalawat badar begitu damai terdengar, ikut membuai Adi hingga matanya semakin lama menjadi berat.

Adi terbangun dari tidur ayam-ayamnya, Idar mengguncang tubuhnya perlahan.

“Mas, aku mau ke pasar, jaga Bayu, ya.”

Adi merenggangkan tubuhnya sambil melihat jendela “panas-panas kayak begini, Dar?”

Idar tersenyum “kalau gitu mas aja yang ke pasar.”

Adi membalikkan tubuhnya dan kembali tidur.

Idar mengambil dompet plastik di meja kecil. Dipakainya jilbab putih dan bercermin sejenak.

“Jaga Bayu, ya, mas.”

Hatinya entah kenapa berdesir. Adi mengangkat kepala, Idar sudah meraih gagang pintu. Sesaat sebelum dia menutup pintu dia tersenyum ke arah Adi. Adi terdiam, Idar terlihat cantik sekali tadi.

Hanya sekejap perasaan aneh itu datang. Adi kembali melanjutkan tidurnya. Perlahan alam bawah sadar mengambilnya.

 **

Tangisan Bayu membangunkannya. Dengan malas Adi merangkak menuju ayunan anaknya dan menggendong Bayu sambil menepuk-nepuk punggung anaknya. Dengan wajah khas orang baru tidur Adi mengambil sebotol susu yang sudah diseduh Idar sebelum pergi.

Pukul setengah empat, Idar belum juga pulang. Adi berjalan keluar dengan Bayu yang masih dalam gendongannya. Bayu sudah tenang, dia kembali menggosok-gosok mata kecilnya dengan mulut yang menyedot susu dalam dot.

“Bang Adi!” Murni berlari dengan kalap.

“Kenapa, Mur?” Adi menatap Murni dengan tatapan takjub. Anak gemuk ini begitu cepat berlari tadi.

“Kak Idar ditabrak orang!” Murni menjawab dengan teriakan. Matanya memerah, napasnya tersengal.

Adi terdiam, hampir saja Bayu jatuh dari gendongannya. Diberikannya Bayu pada Murni lalu dengan cepat dia berlari seperti orang gila. Meninggalkan Murni yang menangis terisak sembari mengelus kepala Bayu yang mulai tertidur.

**

Hampir tengah malam, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an masih terdengar dari rumah kecil berdinding anyaman bambu. Didalamnya dua puluh orang duduk menyender dengan kitab suci dipangkuan, beberapa orang masih menangis.

Suasana sore hingga malam masih terasa sendu. Idar yang lembut dan baik hati meninggal karena tabrak lari. Beberapa orang masih saling mengenang perangai lembut Idar, kulit kuning langsatnya, bakwan yang biasa dia berikan secara cuma-cuma untuk berbuka puasa.

Adi duduk lemas di pojok, matanya kosong. Air matanya telah habis lantaran menangis sepanjang sore.

Dilihatnya dengan mata kepala sendiri bagaimana Idar terbujur kaku di jalanan, pucat dan genangan darah di sekelilingnya, kopi dan susu berhamburan. Jantungnya seperti berhenti, lalu berdetak lagi namun entah mengapa rasanya sakit sekali. Adi menangis meraung, dielusnya jilbab putih yang berbecak darah di kepala Idar. Idar memasang wajah damai, Adi memeluk Idar, tak peduli dengan kerumunan orang yang mengelilinginya.

Bayu menangis lagi, Adi tersentak, anaknya tak berhenti menangis sejak tadi. Dengan gontai dia berjalan menuju dapur yang hanya dipisahkan selembar dinding anyaman bambu.

Susu Bayu tinggal setengah, mungkin tiga-empat hari lagi habis. Mata Adi kembali berair, dengan terisak dia menyeduh susu. Siapa sangka bagian saat Idar menyeduh susu menjadi memori yang begitu berharga. Adi menggit bibirnya, menahan isakan agar tak keluar. Tanpa sengaja dia melihat gelas kopi yang tadi dia minum masih berdiri di meja lengkap dengan ampasnya. Adi tak kuat menahan beban tubuhnya, dia menangis lagi. Digenggamnya dot Bayu dengan kuat, beberapa orang mendatanginya, memeluknya sembari mengingatkannya untuk tetap tabah. Adi masih menangis, sekian lama dia berbahagia lantaran dirawat oleh Idar yang begitu penyayang hingga tak pernah membayangkan ruang-ruang bahagia dalam rumahnya menjadi persemayaman Si penyeduh air cinta itu.

END

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s