Dirty Dancing

Aku anak perempuan dari seorang laki-laki yang kupanggil ayah.

**

Pinggul Serena meliuk-liuk seperti pensil inul. Dia bahagia dengan pekerjaannya, berpakaian hampir telanjang dan menjajakan tarian pengundang syahwat. Teman-temannya sudah punya handphone keluaran terbaru, jelas saja dia tak akan mau kalah. Sasarannya malam ini adalah laki-laki tua bangka yang merasa masih perkasa. Mereka akan memberi uang, meminum viagra, mencumbu Serena sebentar dan menyerah lantaran viagra tak bisa melawan kehendak Tuhan yang ingin lelaki hidung belang itu menjadi tua. Serena bisa melayani banyak orang dalam semalam.

Suasana kelab malam ini lebih ramai dari pada biasanya. Ada sekumpulan orang-orang tua yang asik berjudi di meja samping panggung tempat dia menari. Sasaran yang benar-benar Serena harapkan. Dia harus mengeluarkan energi lebih untuk menari lebih provokatif.

Salah satu dari sekumpulan itu bersorak, dia adalah pemenang dari majelis perjudian. Dua orang lelaki menyurunnya turun dari panggung dan mendekati mereka, Serena menurut. Inilah yang dia tunggu dari tadi, tubuh mulus ini tidak akan pernah gagal memancing birahi lelaki macam mereka. Aroma uang dan handphone baru begitu harum di hidung Serena.

“Ayo menari!” teriak salah satu dari kawanan bejat itu.

Serena tertawa kecil, dia makin menggeliat. Beberapa orang mengelus paha Serena lambat-lambat, mata mereka seperti anak ayam tidak makan dua hari, liar.

“Anton! Kenapa diam saja? Barang bagus ini, gak mau ambil?”

Serena refleks menoleh ke orang yang diajak bicara. Hentakan pinggulnya berhenti, matanya melebar. Ayahnya sedang fokus menghitung uang hasil kemenangan judinya.

“Hey! kenapa berhenti? Capek, ya?” Seseorang mendudukan Serena di pangkuannya. Serena hanya diam, matanya masih memandang tajam ayahnya.

“Ton, lihat! Ini cewe ngeliatin lu terus. Minta duit dia!”

Lelaki paruh baya itu tertawa dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu dari tumpukan uang judinya. Dilemparnya uang itu dengan santai sambil tertawa.

Bersamaan dengan melayangnya uang-uang itu dia terpaku. Anaknya berpakaian hampir telanjang dengan duduk di pangkuan lelaki sesusianya dengan gerayangan tangan-tangan nakal. Anton berdiri, ditariknya Serena dan melangkah menjauh dari gerombolannya. Perasaan malu, marah, kaget bergabung seperti gado-gado. Dia membawa Serena ke ruang ganti kelab itu, rahangnya mengeras. Serena hanya diam pasrah ketika tangannya ditarik dengan kasar.

“Ton! Ini duit lu!” teriak temannya sambil melambaikan uang.

“Ngapain lu panggil, sih? Biarin aja, anggap aja Si Anton bayarin kita minum.”

“Nanti dia bayar tuh cewe pake apa? Kondom?”

“Iya kali.”

Mereka tertawa keras lalu memanggil waitress  dengan semangat.

END

Advertisements

5 thoughts on “Dirty Dancing

  1. Hahahah, Bul… Ckckck, ini deskripsinya cukup liar tp pesan moralnya nampol sumpah, huhuhu. Ih, suka suka sukaa X)
    Btw, kata tuhan dikapital ya Bul, wkwk. Ku panggil juga digabung pnulisannya, hehe.
    Sipsip, teruslah menulis cerita yg unik2 Bul 😀

    Like

    1. halo, kak dilla sayang~ makasih udah mau baca ya, kaak *xoxo*
      oh iya >.< makasih ya kak udah mau ngingetin…padahal udah dibaca berkali-kali tapi masiiih ajaa ada yang kelewat :'
      kakak juga keep writing yaa~

      Liked by 1 person

      1. Hihihi, gapapaaa. Aku juga masih sering ketinggalan sana-sini kalau ngebeta sndiri, wkwk. Progress Ibul udah mantep pokoknya 😀
        Makasi ya bul 😀

        Like

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s