Warna

Aku akan menjelaskan segalanya, kau hanya perlu meminta.

*

“Menurutmu seperti apa itu warna?” Risa mengarahkan wajahnya ke kiri, padahal Rio ada di kanannya.

“Warna? Tidak pernah ada yang bertanya seperti itu kepadaku.”

“Pasti menyenangkan menjadi dirimu. Setidaknya kau pernah melihat warna, bagaimana daun yang berwarna hijau, langit berwarna biru, bunga berwarna putih. Kau pasti bisa membayangkan warna-warna itu.”

“Kau sangat ingin melihat warna, ya?”

Risa mengangguk semangat namun sedetik kemudian dia sadar bahwa Rio tak akan bisa melihat anggukannya “iya, aku sangat ingin.”

“Aku tahu bagaimana rasanya mencoba berimajinasi tentang sesuatu yang ingin kau lihat namun selalu gagal.”

“Kau ingin melihat sesuatu juga? Bukannya kau kecelakaan saat berumur dua puluh dua tahun? Memangnya apa yang belum pernah kau lihat?”

Rio menghela napasnya, dia mencengkram tongkat perabanya semakin kencang “kau, seharusnya aku melihatmu dua tahun lebih awal.”

Suasana mendadak hening, Rio menelan ludah. Apa Risa masih ada disana? Rio mengumpat dalam hati, mulutnya benar-benar tak bisa dikontrol.

“Risa?” panggil Rio sambil meraba kursi panjang yang sedang dia duduki.

Risa yang masih shock berusaha kembali mencairkan suasana “kk … kenapa kau ingin melihatku?” ujarnya berusaha sewajar mungkin.

Rio tersenyum kecil, mungkin lebih baik jika dia terus maju “suaramu sangat merdu, pasti kau cantik sekali.”

Risa tertawa “apa hubungannya suara dengan wajah?”

“Kau meragukan aku? Begini-begini aku pernah melihat.”

“Baiklah Tuan-yang-pernah-melihat, kenapa kau yakin sekali aku ini cantik? Bagaimana kalau tidak?”

Rio hanya tertawa namun tak berniat menjawab. Sejak kecelakaan yang membuatnya begitu ingin mati saja hanya suara Risa yang membuatnya begitu bergairah. Tiga kali seminggu dengan bahagia dia ke rumah sakit, walaupun dia sendiri tak ada jadwal pemeriksaan. Suara Risa adalah oase, menyadarkannya bahwa slogan ‘Dengan bersyukur hidup akan menjadi lebih bahagia’ memang benar adanya. Dia tahu bahwa Risa sangat cantik, tidak mungkin tidak. Walaupun seluruh manusia sepakat wajah Risa buruk rupa Rio tak akan pernah mau percaya.

***

Empat bulan kemudian …

Risa duduk sendiri di kursi panjang di lorong rumah sakit. Rio tak pernah lagi terdengar suaranya. Dua tahun lalu pertama kalinya dia mendengar suara Rio yang ketus duduk di sampingnya, menunggu giliran pemeriksaan. Lambat laun mereka saling menandai suara masing-masing, menyapa, berbasa-basi, lalu bercerita tanpa canggung lagi.

Apa mungkin Rio dirujuk ke rumah sakit lain? Risa sering mendengar bahwa Rio anak konglomerat.

Bahkan kemungkinan besar dia sedang menjalani perawatan di luar negeri. Bagaimana pun juga dua tahun adalah waktu yang lama bagi seorang yang pernah bisa melihat untuk menunggu antrian donor.

Risa memaklumi itu, hanya saja hatinya berkata lain. Dia ingin sekali ada Rio seperti dulu, berbicara dengannya, menjelaskan berbagai rupa-rupa dunia hingga dia bisa berimajinasi. Walau pun dia bisa membaca di buku-buku namun mendengar langsung penjelasan Rio terasa begitu berbeda. Dia merindukan lelaki itu.

Dadanya menyesak, Risa menghembuskan napasnya dengan berat.

Tiba-tiba sebuah aroma tercium olehnya. Ini bukan aroma makanan. Dia pun tak familiar dengan aroma ini. Risa terus mengendus wangi yang berseliweran di hidungnya sambil terus berpikir apa wangi ini pernah dia cium.

“Apa parfumku wanginya tidak enak?”

Risa melebarkan matanya, tangannya sibuk meraba-raba kursi panjang yang dia duduki.

“Aku di depanmu, Risa.”

Risa menjerit tertahan, tangannya meraba-raba udara. Rio menggenggam tangan Risa dan menurunkannya.

“Imajinasiku benar, kan? Kau cantik sekali. Aku jatuh hati untuk kedua kalinya,” ujar Rio sambil menggenggam tangan Risa makin erat.

“Apa sekarang kau sudah bisa menjelaskan seperti apa warna?”

“Apa saja akan aku jelaskan, kau hanya perlu meminta.”

Risa tertawa “aku ingin kau menjelaskan sesuatu.”

Rio tersenyum kecil “apa yang harus aku jelaskan? Warna bajumu?”

Risa menggeleng, dibalasnya genggaman Rio lau tersenyum lebar “jelaskan tentang wajahmu. Sekarang wajahmu adalah hal yang paling ingin kulihat, biarkan aku berimajinasi tentang itu.”

END

Advertisements

2 thoughts on “Warna

  1. Aaa ibuul aku senyum2 sndiri bacanya, huhu. Dialognya ringan tapi cakeepp. Uhuhu. Aku sukaa!
    Btw btw, ibul pernah share gak buku/novel/penulis favorit atau yg sering dibaca? Aku penasaran, ehehe.
    Keep writing, Bul! 😀

    Like

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s