Rahasia Namira

A woman’s heart is a deep ocean of secrets.
– Rose Dawson

“Emang dosa kalau OTP gak sesuai sama official pair? Mereka aja gak ribut, kenapa malah kamu yang ribut-ribut?”

“Gak! Noh-Ohm forever! Gak ada Ohm-Mick!”

“Phun? Haha! Masa dia sama Ohm? Pendekan juga dia dibanding Ohm.”

Namira menutup sambungan telepon itu dengan gusar. Matanya bersinar marah, bibirnya masih mengomel tak jelas. Angga yang sedari tadi menonton perdebatan sambil memasang wajah tak mengerti akhirnya punya kesempatan untuk sedikit masuk ke dunia kekasihnya ini.

“Mira?” panggil Angga dengan hati-hati, jangan sampai dia yang menjadi sasaran amukan.

Mira tersentak, refleks dia menutup mulutnya “aduh, maaf, ya. Tadi aku ngomongnya kenceng banget, ya?”

Angga mengangguk lambat, Mira menelan ludah.

“Tadi kamu seru banget berantem sama temen kamu. Sebegitu nyebelinnya, ya dia?”

“i—iya, ga. Dia tadi kepala batu banget.”

“Kalian debat tentang apa sih?” tanya Angga dengan wajah penuh keingintahuan.

Mira spontan membelalakkan mata, dengan gugup dia meminum coffee latte. Setelah seteguk kopi berhasil masuk ke tenggorokannya dia berbicara tentang hal lain seolah apa yang di tanya Angga tadi tak nyata.

Angga menghela napas, Mira selalu seperti ini. Hampir sepuluh bulan mereka sepakat menjadi sepasang kekasih, namun Mira selalu tenggelam dengan dunianya sendiri. Dunia itu begitu berharga hingga tak ada seseorang pun yang tahu apa yang dia lakukan.

Kadang dia berdebat dengan orang, tertawa cekikikan, menjerit histeris hingga menangis sesenggukan. Dia berbicara sepatah dua patah bahasa yang berbeda; awalnya berimbuhan –San, lalu –Oppa , ada juga berkali-kali dia berteriak Hermoso dan yang akhir-akhir ini adalah –Pi

Baohan, Yuxioyo, Takumigii, Bothnewyear dan yang terakhir Ohmnoh adalah istilah-istilah yang sampai saat ini tak dimengerti Angga. Ingin saja dia mencari tahu namun dalam hatinya dia mau Namira sendiri yang menceritakan apa yang menjadi kesukaannya.

Handphone dan laptopnya adalah benda yang paling sakral bagi Namira. Tak seorang pun boleh menyentuh itu semua. Apa mungkin Namira selama ini selingkuh? Dia cantik, menyenangkan dan periang. Belasan lelaki pasti meliriknya hingga sekarang. Angga menghela napas lagi, dia baru sadar karena lamunannya dia tak memperhatikan Namira yang asik bercerita tentang pertandingan bulu tangkis.

***

Makin lama Angga makin tak tahan. Begitu banyak dinding yang membatasinya dengan Namira, dan ironinya adalah Namira sendiri yang membangun dinding-dinding itu. Dia hanya ingin mengenal Namira, namun perempuan itu selalu menolak dan mengelak. Angga tahu dia dinomor-duakan oleh Namira, nomor satu tentu dunia antah-berantah yang tak boleh diinjak orang itu.

Kekesalan Angga memuncak. Dirumah Namira mereka menonton film, namun yang benar-benar menonton hanyalah Angga, sedangkan Namira sibuk membalasi pesan entah dengan siapa. Angga merampas handphone Namira.

“Angga! Kamu apa-apaan, sih?” bentak Namira sembari mengambil handphone-nya lagi.

Angga membatu. Matanya menatap handphone ditangan Namira dengan emosi.

“Angga, kamu kenapa?” tanya Namira dengan nada yang lebih lembut.

“Udah deh, Mir. Kalau kamu lebih nyaman sama handphone kamu mending gak usah ngajak-ngajak aku buat nonton film kayak begini. Buang-buang waktu!”

“Kok kamu jadi sensi gini, sih?”

Angga diam. Sia-sia melawan wanita, bagaimana pun selalu mereka yang benar.

Suasana tegang, Angga kembali serius menonton film dan tak peduli lagi dengan Namira yang terus memperhatikannya.

“Angga! Ngomong, dong! Masa iya kita diem-dieman kayak begini? Oke, aku minta maaf udah nyuekin kamu, aku gak bakalan kayak begini lagi,” ujar Namira sambil memegang paha Angga.

“kamu ngapain sih dari tadi?” tanya Angga denga nada yang masih ketus.

Namira membeku, tangannya meremas paha Angga untuk menyalurkan kegugupannya. Angga melihat tangan Namira dan kembali memandang Namira dengan wajah bingung. Namira hanya diam, wajahnya seperti seorang tertuduh.

“Mir? Kamu selingkuh, kan?” akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Angga. Setelah sekian lama pikiran itu terpendam di otaknya. Dia sudah berlatih jawaban yang terburuk, semoga dia siap.

Mira menggeleng keras “enggak, ga! Beneran!”

Angga memejamkan mata sambil menghela napas, dia tidak bisa mundur lagi. Semuanya harus jelas hari ini.

“Kamu selalu sibuk sama dunia kamu sendiri, tapi gak pernah mau terbuka sama aku. Bahkan orang kalau sahabatan gak pernah punya rahasia antara yang satu sama yang lain, mereka terbuka. Kita ini pacaran, Mir. Aku udah ceritain ke kamu siapa aku, kapan giliran kamu? Kapan kamu mau ngenalin diri kamu lebih dalam lagi ke aku?”

Namira memandang Angga dengan seksama. Dia tahu ini akan terjadi, Angga tidak mungkin selamanya bertanya-tanya sendiri apa yang dia lakukan. Dia hanya tidak ingin Angga pergi, dia terlalu menyayangi lelaki ini. Tapi dia tidak bisa mundur lagi, diusapnya layar handphone-nya lalu diberikannya handphone itu ke Angga, semoga dia siap dengan reaksi terburuk Angga.

Layar handphone itu menyala. Sebuah chat-an yang sangat banyak terlihat. Angga hanya membaca dengan serius apa yang dibicarakan Namira sesaat sebelum ini. Jidatnya mengkerut.

‘Udah nonton Make It Right, gak?’

‘Udah, gemes pas adegan Tee buka celana Fuse >.<’

Angga melotot, diliriknya Namira dengan perlahan. Siapa sangka mereka membahas seseorang membuka celana seseorang.

‘Kata-katanya, sih mereka baru kenal pas sebelum syuting scene itu, tapi udah langsung disuruh kayak begitu :D’

‘wahahaha, beneran? Sutradaranya Stanley*, kali. Jadi mabok :D’

‘Tapi, kok rasanya mukanya Tee ada rasa-rasa Phun, ya?’

‘Ya elah, masih aja inget Phun. Gantengan juga Tee, lah.’

‘Enggak! Ohm yang paling ganteng!’

‘Terserah, deh. Eh, itu yang pakai behel ganteng bangeeeeet >.< lucu.’

‘Yang mana?’

‘Yang lari-lari waktu Fuse mau ketemu Jean. Yang ketangkep berdua sama temennya satu lagi. Btw, Fuse imut.’

‘Imutan juga Noh.’

‘Imutan juga Mick.’

‘Imutan juga Angga.’

‘Imutan Angga? Yang ada Angga itu mutan.’

“Ini maksudnya apa, Mir? Kamu gemes lihat orang lain ngebuka celana orang?” tanya Angga dengan wajah shock.

“Ini gak kayak apa yang dipikiran kamu. Make it right itu web drama tentang anak sekolahan, kok.”

“Coba lihat!”

“Kuota aku abis!”

“Pakai handphone aku!”

Namira tak berkutik, Angga membuka you tube dan mulai mencari web drama itu. Intro drama itu dimulai. Namira merasa punya tanggung jawab mengenalkan Angga kepada dunianya.

“Ini Fuse,”

Angga mengangguk lambat.

“Ini Tee,”

“Ha?!” teriak Angga dan spontan  kepalanya memutar menghadap Namira. Namira menggangguk meyakinkan.

Episode pertama dari drama itu selesai ditonton Angga. Semuanya jelas sudah, ini adalah dunia yang Namira masuki dan begitu senang dengan dunia ini. Semua penjelasan Namira membuatnya mengerti betapa berarti dia bagi perempuan itu. Dia hanya masih shock dengan pengetahuan baru ini. Dia akhirnya mengerti apa yang diperbincangkan Namira di chat-an itu. Namira benar-benar tak bisa ditebak.

END

Stanley : Seorang foto laki-laki mabuk yang mencoba berpose seksi namun malah menghasilkan gambar yang lucu, karenanya dia menjadi salah satu karakter meme.

Ps: Tidak apa – apa kalau kalian tidak mengerti cerita ini. Tidak apa-apa 🙂

Advertisements

One thought on “Rahasia Namira

  1. Hahahahhaaa, ini kocak.. yaa, gak semua org bisa ngertiin perilaku dan masalah fangirl di dunia ini, wkwk. Dan nyatanya isi chatroom trkadang malah beda jauh sama percakapan di dunia nyata yg malah jd jaim2an gitu xD
    (Jangan2 fuse dan tee ini homogen *?*)

    Lucu dan suka sama ceritanya, Bul 😀

    Like

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s