Hiding In The Dark

Apakah ini sebuah awal petaka saat kegelapan menolongmu dari hal yang mengerikan?

***

Petaka itu muncul tiga belas tahun yang lalu.

Aku masih berumur sepuluh tahun. Malam gelap karena sedang mati lampu, di bawah pencahayaan petromax kami duduk. Wak Aseng, tetanggaku yang paling putih dan paling jenaka asik memutar-mutar lidi di dalam telinga sambil merem-melek keenakan, kadang dia menggelinjang saking nikmatnya. Ayah dan ibu keluar membeli makanan untuk pertemuan suci kami ini.

Wak Aseng yang tinggal sendirian di rumahnya sejak ditinggal istrinya memang selalu bertandang di rumah kami jika malam tiba. Mungkin dia kesepian, saat istrinya ada dia tak merasakannya namun ketika wanita cantik itu pergi baru dia tau betapa menyenangkannya jika punya seorang anak. Hanya ada dua rumah di lingkungan ini, rumahku dan wak aseng . Rumah terdekat dari rumah kami berjarak tiga ratus meter lagi lantaran terpisah kebun kopi dan semak belukar.

“Lilly, jangan diam terus! Tuh, sana nimbrung sama kakak-kakakmu!” ujar Wak Aseng dengan tangan yang masih asik memutar lidi, aku tersenyum.

“Jangan duduk di tempat gelap, Li. Banyak nyamuk di situ, terus gak kelihatan juga loh dari sini … nanti kalau kamu tiba-tiba ngilang gimana?”

“Enggak kok, wak,” balasku.

“Thomas! Itu adikmu urusin. Jangan banyak – banyak cerita hantu, lah! Nanti hantunya beneran datang, loh!”

Thomas melirik Wak Aseng dengan wajah tengilnya yang melegenda “sini kalau berani tuh setan! Aku ladenin,” ujarnya yang dibalas tawa kedua kakakku yang lainnya.

Wak Aseng  menyerah membujukku untuk ikut ke dalam majelis dongeng hantu yang sedang kakak-kakakku buat, lidi dan telinganya adalah nikmat yang tak boleh dia lewatkan.

“Dor!”

Suara ledakkan terdengar nyaring dari tempat kami duduk. Sontak kami semua terlonjak kaget dan bertanya-tanya suara ledakkan apa itu. Beberapa menit kemudian suara itu menjadi sebuah candaan, tawa-tawa kecil hingga menggelegar unjuk aksi di malam gelap gulita berhias petromax.

Namun dengan begitu cepat tawa itu berganti dengan teriakan. Wak Aseng berteriak sembari punggungnya yang berlapis kaos putih mulai memiliki warna merah yang makin melebar. Aku membeku sambil menutup mulut, mataku melotot melihat Wak Aseng yang tersungkur ke lantai.

Kakak-kakakku yang kaget sontak bangkit berdiri, wajah mereka yang terkena cahaya begitu shock. Keringat bermunculan dari dahi mereka. Tak ada satu pun yang berbicara, mereka melihat dengan awas ke jalanan yang gelap gulita. Aku masih menutup mulut, air mata tidak bisa lagi ku bendung.

Suara derap langkah yang makin mendekat membuat hati kami menciut. Audrey menangis sembari memengang tangan Damian yang gemetaran. Mata kami liar mencari sosok apa yang datang, derap langkahnya makin lambat dan dekat, entah sepatu apa yang dia pakai hingga suara yang dia hasilkan ketika berjalan begitu menyeramkan.

Lalu diam, diam yang mencekam. Kakak-kakakku masih berdiri membeku tak bisa berpindah posisi hanya mata kami yang bergerak lebih luwes dari biasanya. Suara sekecil apapun membuat jantung kami serasa naik ke tenggorokkan.

Derap langkah itu terdengar lagi. Lampu petromax menjelaskan bagaimana besarnya lelaki yang berdiri dibalik pagar kami. Dia tersenyum lebar, tangan kanannya bersembunyi dibalik punggung yang berbalut jaket kulit hitam. Isakan Audrey makin besar namun kami semua tak mampu bergerak sedikit pun. Ketakutan merajai kami, air mata makin deras keluar dari mataku dan tanganku masih belum bisa terlepas dari mulutku.

Dia membuka kunci pagar kami dengan santai. Decitan kancing dengan lubang kunci pagar yang berkarat mungkin adalah suara yang terakhir kali akan kami dengar. Pagar itu terbuka, dia berjalan dengan pelan dan suara sepatu boots yang menyeret membuat kami sesak napas. Dia tertawa sembari melihat kakakku yang membeku ketakutan.

Sebuah pedang kecil ternyata yang ada di dalam genggaman tangan kanannya. Tebasan pertamanya mendarat diperut Thomas. Thomas limbung dengan darah yang tercecer bercampur dengan segala properti pencernaannya.  Audrey ikut jatuh setelah darah bermuncratan dari lehernya, Damian segera menyusul mereka setelah terkena tusukan berkali-kali.

Masih merasa belum puas lelaki itu masih terus melancarkan tusukan-tusukan untuk Wak Aseng, Thomas, Audrey dan Damian. Ditumpuknya mayat-mayat itu dan dia duduk di atasnya, membuat darah semakin banyak keluar seperti jeruk peras. Dia tertawa kecil diatas mayat kakak-kakak dan tetanggaku. Aku yang masih tak berkutik,  mati-matian menahan isakan yang selalu mendesak ingin keluar. Aku tak boleh bersuara.

Lelaki itu turun dari singgahsananya, menggambar sesuatu yang aneh dengan darah korban-korban yang entah punya salah apa padanya namun aku tak tahu apa yang dia gambar lantaran bayangan tumpukan mayat yang melindungi gambar itu dan dia melakukan sesuatu dengan wajah mereka. Aku masih terus menunggu dengan takut dan akhirnya dia melenggang pergi dengan santainya.

Walaupun aku yakin dia tidak ada lagi di sekitarku tubuhku masih diam tak mampu digerakkan. Hanya isakanku yang memecah kehenginan gelap.

“Kak Audrey,” panggillan yang bisa aku buat hanyalah sebuah bisikan. Audrey hanya diam, darah segar masih mengalir lancar dari lehernya yang terluka lebar.

“Kak Thomas,” aku mencoba menggerakkan tanganku, namun tanganku hanya terkulai lemas dan gemetaran.

“Kak Damian,” suaraku bergetar, tak ada gunanya aku memanggil mereka. Mereka sudah lenyap.

Suaraku tak bisa lagi keluar, leherku tercekat. Dua jam kemudian listrik menyala. Aku masih dalam posisi yang sama.

Ketika listrik menerangi teras rumah kami aku sontak berteriak melihat sebuah pemandangan yang tak akan pernah bisa ku lupakan. Di dekat mereka terdapat tanda panah yang mengarah kepadaku dan mata mereka menatap ku dengan nanar.

Ternyata pembunuh itu tahu aku ada.

Lalu gelap dan saat cahaya mulai menerobos ke mataku, aku berada di kamarku sendiri. Suara sirine polisi memecah malam yang larut, berpuluh-puluh mulut orang berbicara tak teratur. Ibu terduduk lemas di hadapanku, hatinya sedang hancur, begitu hancurnya hingga dia tak sanggup mengeluarkan air mata dan hanya bisa memandangku dengan tatapan kosong.

Handphone seseorang berdering di sampingku, beberapa orang menoleh dan tak berbuat apa pun. Si penelpon sepertinya tak kenal kata menyerah, deringan handphone itu akhirnya membuatku jengah. Dengan lemah ku angkat panggilan itu.

Aku membelalakkan mata. Hanya ada suara tawa dari seseorang di sana. Dia tak mengatakan apapun, hanya tertawa keras. Aku memutuskan panggilan dengan tangan bergetar lalu memandangi sekitar, mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan di sekitarku. Ibu masih duduk termenung, orang-orang masih berbincang tanpa mempedulikanku.

Air mata keluar begitu saja dari mataku, sambil menjerit histeris aku bangkit dari tidurku lalu lari keluar dari rumah.

Dia masih terus mengikutiku sampai sekarang. Aku tahu dia ada di sekelilingku, terus menerorku hingga aku hanya bisa menyesal kenapa dia tak ikut membunuhku.

END

Advertisements

4 thoughts on “Hiding In The Dark

  1. Hi, nebula 🙂 Aku Sher 98L, salam kenal. Sebenernya udah lama follow dan kepingin baca ya, tapi baru sempet hehe.

    Anyway anyway, this is sooo gloomy and creepy. Jenis-jenis yang sengaja ditinggal buat diterror, kayak kita pasti mati tapi gak tau kapan dan gimana 😦 hahaha.

    Keep writing ya!

    Like

    1. Halo, Sher Aku juga kelahiran 98, salam kenal juga ^^ Makasih loh, ya udah mau nyempetin baca tulisan santen basi ini dan ngefollow juga >.<

      iya, sher…saking gak tahannya diterror terus hingga dia mikir lebih beruntung yang dibunuh daripada dia.

      makasih ya, kamu keep writing juga ^^

      Like

  2. Wahahaha Bul, aku baca ini pas di luar lagi hujan deras dan pas banget :((
    Aku kirain itu hantu doang yg nakut2in mereka ternyata…..
    Aku spicles baca scene gore *?* nya ibul, huhu. Takjub ibul kok kuat ngetiknya :^^ Dan trnyata si aku luput dibunuh gegara gelap :O tp pas tanda panah dan tatapan mata dari ke empat korban sukses buat aku ikutan brgidik ngeri. Ah, Ibul ini top markotop dah 😀
    Ditunggu cerita berikutnya, Bul 😀

    Like

    1. makasih udah mau baca, kak ^^ seneng deh kakak suka .< gak tau juga sih kak kenapa bisa nulis beginian cuma ini satu-satunya tulisan dimana jariku gak berhenti ngetik sebelum kata end diketik >.< 😀 sekali lagi makasih ya kak udah mau baca tulisan amburadul ini, lopyu, kak *mendadakalay 😀

      Liked by 1 person

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s