Satu hari

dsc_0064

Upacara telah selesai, teman-teman sekelasnya masih sama namun mereka tak lagi berada dikelas yang sama. Mereka naik kelas, semuanya. Seragam putih-merah mereka masih cerah, pertanda itu masih baru. Tiga bulan lagi akan ada yang membeli baju baru lagi, entah siapa.

“Juna!”

Seseorang memanggilnya, Juna membalikkan badan. Koko tersenyum lebar dan merangkul bahu Juna dengan erat.

“Aku duduk sama kamu, ya?”

Tanpa sadar mata Juna melebar. Tidak, sama sekali dia tak boleh duduk dengan Koko. Anak itu suka mencuri mainan teman sekelasnya.

“Aku … aku duduk sama …” Mata Juna menari, mencari siapa temannya yang belum mendapat teman sebangku. Hanya Ayu yang sendiri, Juna menelan ludah.

“Aku duduk sama Ayu,” ujar Juna lemah.

“Ciee! Juna duduk sama Ayu, ciee!” Koko berteriak dengan lantangnya lalu kabar itu tersebar dengan mulus ke seluruh  kelas. Juna menuju meja Ayu dengan pelan, wajah Ayu merah padam.

Mereka berdua tak saling bicara karena teman-teman yang sibuk menertawakan mereka. Akhirnya keributan itu berhenti saat guru datang. Kelas tak begitu hening, masih terdengar jelas bisikan-bisikan kecil.

Bapak guru menyuruh membuka buku dan menulis. Juna membuka kotak pensilnya dan membuka matanya lebar-lebar ketika mengetahui kenyataan mengerikan.

Pensilnya sudah begitu pendek.

Juna memandang kesamping, ternyata Ayu juga ikut melihat tragedi itu. Dengan sigap Ayu mengambil si pensil dan mengukur pensil itu dengan kelingkingnya.

Pensil itu setinggi kelingking Ayu.

“Juna, mamah kamu bakalan meninggal,”ujar Ayu dengan nada serendah mungkin.

“Enggak, ah! Orang aku belum pakai pensilnya!”ujar Juna sambil merebut pensil pembawa sial itu dan membuangnya ke lantai.

Ayu tak berujar, dia hanya fokus melihat pensil yang tertidur dilantai dengan nanar lalu kembali menulis pelajaran. Dihiraukannya Juna yang masih diam ketakutan.

*****

Pukul sebelas, diperjalanan pulang Juna telah menemukan seekor kadal, lima buah kelereng, dan satu cup air mineral yang berubah menjadi kandang ikan cere. Ketakutan tadi pagi menguap entah kemana.

Sesampainya dirumah dia segera mandi karena bajunya yang berbau sama dengan bau got. Dia makan dengan khidmat sambil menonton sinetron dengan ibu. Kejadian tadi pagi menghantuinya, dia duduk dengan gelisah.

“Mah, pensil Juna udah habis,” ujar Juna dengan lemah.

“Nanti sore kamu beli di warung, ya,” ujar ibu tanpa berpaling dari layar televisi.

Juna kembali menyuap nasi sambil menonton sinetron. Dalam hati dia bertanya, bagaimana sinetron itu bisa malam hari padahal disini sedang siang? Pertanyaan itu mengerubungi otaknya, namun dia hanya diam, terus memenuhi perutnya.

Dengan sigap dia keluar setelah makan. Ikan cere, kadal, dan kelereng sudah menanti untuk dia mainkan. Namun langkah berhenti, ibu memanggilnya.

“Juna, tidur siang dulu sana!”

Argh! Tidur siang. Kenapa harus ada tidur siang? Juna menolak dengan sengit, namun karena baru hidup di dunia dia tak bisa menang melawan sang ibu. Dia hanya bisa cemberut.

“Ya udah, kamu cuci piring dulu, sana! Terus boleh main-main.”

Mata Juna tiba-tiba berbinar, dengan sigap menuju dapur. Dicucinya piring-piring itu dengan semangat. Disusunnya dengan riang walau piring-piring itu masih berminyak begitu banyak.

Akhirnya dia bisa keluar, tanpa menunggu sore, tanpa harus tidur siang. Kelereng di kantong, kadal di tangan kiri, dan ikan cere di tangan kanan. Dia siap berperang, dia siap menambah koleksi kelerengnya, dia siap bermain.

END.

Untuk teman SD ku, terima kasih sudah membuatku menangis histeris karena mitos pensil itu.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s