Kuntilanak di bangku panjang

321859__mechanism-gears-point_p.jpg

Kenapa dia sering melamun di kursi panjang yang terlindung kegelapan? Perempuan itu hanya duduk termenung, dia tak menunggu siapa-siapa, ini bukan kali pertama dia di sana. Rambutnya panjang, wajahnya putih dan banyak berbecak hitam, dia duduk disana dan sering menunduk. Lalu pulang ketika sudah lewat tengah malam.

“Rio, jangan diintipin gitu, ah. Gak sopan.” Ibu menaruh segelas susu di meja belajar, menatap Rio yang masih menggeluti aktivitas mengintipnya.

“Bu, itu kok Tante Setyo gak pernah larang anaknya keluar tengah malam gini, sih?”

“Kamu mau tau aja urusan orang!” Ibu menepuk punggung Rio “Dari pada ngurusin orang mending kamu urusin tuh skripsi kamu! “

Rio membalikkan tubuhnya dan memandang Ibu dengan tatapan curiga “Ah, ibu, gimana sih? Itu si Claren bener-bener nyeremin bu, tiap malem dia tuh duduk di bangku depan rumah kita aja, emang ibu gak takut kalau dia punya temen-temen gak kasat mata?”

Ibu terkekeh pelan dan kembali memukul tangan Rio “Kamu udah mau sarjana, Yo. Lagian, Claren itu baik, loh.”

“Ya kan gak salah kalau Rio mikir begitu? Ini bukan sekali-dua kali Claren duduk disitu. Ibu gak pernah liat mukanya? Aneh banget loh Bu!”

“Hush! Kamu kok makin ngelantur ngomongnya?  Udah ah! Ibu mau tidur. Kamu jangan lama-lama tidurnya, ini udah tengah malam.”

Rio mengangguk sekilas, matanya masih ingin mengintip tetangganya dari balik gorden jendela. Ibu memukul punggung Rio, membuat tatapan tajam dan akhirnya Rio takluk pada pandangan itu lalu duduk manis di meja belajarnya.

Rio akhirnya tenggelam dalam skripsinya, tak lagi ingat pada perempuan aneh itu. Malam makin larut, dinginnya dini hari membuat Rio terbawa kantuk. Sambil menguap lebar dia menjatuhkan badan di ranjang lalu terlelap.

***

Jam sebelas malam. Rio sedikit menyesal kenapa ikut teman-temannya menyelesaikan skripsi di kost-kostan mereka, tak ada satu kalimat pun yang diketiknya dia ketika di sana.

Dia membeku, lagi-lagi Claren duduk di bangku depan rumahnya. Entah kenapa jantung Rio berdegup. Bagaimana jika apa yang dia katakan pada ibu kemarin malam benar? Tentang Claren punya teman-teman tak kasat mata.

Rio ketakutan, namun dia tetap berjalan. Kakinya terasa kaku saat digerakkan.  Tangannya berkeringat dan dingin, Claren benar-benar terlihat seperti kuntilanak jika dilihat langsung. Ya, kuntilanak, tapi kuntilanak bermotif polkadot. Banyak bercak hitam dikulitnya, ternyata bercak itu bukan hanya ada diwajah.

Rio berjalan di hadapan Claren, gadis itu memperhatikannya. Lehernya disetel untuk mengarah kedepan, tak ia izinkan si leher menoleh ke kiri walau matanya yang nakal masih terus menoleh.

“Hai, Rio.”

Rio terkesiap, kuntilanak itu menyapanya.

“C— claren” Balas Rio dengan terbata, kakinya tak lagi bisa digerakkan.

 Claren tersenyum, Rio terkesima. Di balik kulitnya yang bermotif ternyata perempuan ini mempunyai senyuman yang khas, dan manis.

“Mamah kamu marah-marah tadi karena kamu belum pulang juga, dia bilang kamu lagi skripsi tapi masih sanggup main-main gak jelas.”

Itu adalah pertama kalinya Rio mendengar Claren berbicara. Suara Claren lembut dan ramah. Suara itu seperti ajakan bagi Rio untuk berbincang lebih lama. Rio duduk di samping Claren dengan ragu.

“Ibu tadi curhat sama kamu?”

Claren tertawa kecil “Iya. Mamah kamu lucu,” Claren  memandang Rio sesaat “Kamu jalan kayak zombie tadi, segitu takutnya sama aku?”

“Eh? Bukan gitu.” Rio duduk dengan gelisah “Kita kan gak pernah bicara sebelumnya, jadi rasanya pasti canggung kalau aku jalan di depan kamu”

Claren mengangguk dan menunduk, meninggalkan Rio dengan segala pertanyaan yang bermunculan di otaknya.

Kenapa Claren duduk di sini setiap malam? Kenapa kulit Claren ditutupi bercak-bercak hitam? Kenapa Claren begitu misterius? Kenapa dia baru tahu di balik kulit polkadot itu ternyata Claren cantik sekali?

“Kamu pasti ngerasa terganggu karena aku duduk di sini tiap malam, kan?”

“Enggak, enggak, kok.”

Claren berdiri dan menatap Rio “Kapan-kapan main kerumah, kalau kamu mau aku punya kenalan yang bisa bantuin kamu nyusun skripsi.”

“Makasih Claren, gak usah repot-repot.”

“Santai aja,” ujar Claren sambil berjalan menjauh dari Rio.

Rio memandangi Claren hingga perempuan itu hilang ditikungan menuju rumahnya. Rio menghela napas. Claren adalah kuntilanak tercantik yang pernah dia lihat, jika Claren benar-benar kuntilanak pasti dia adalah seorang mahadewi di alam sana.

END

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s