Angkot dan balada ketika menaikinya

20130427103421_711

Setengah jam berlalu dan Nina baru bisa bernafas lega. Akhirnya angkot penyalamat datang juga, dengan cekatan Nina masuk ke dalamnya. Kakinya yang sudah lelah berdiri sekarang harus menahan beban tubuh karena dia hanya mendapat celah duduk lima belas milimeter. Wangi semerbak keringat lelaki di sampingnya sukses membuat pening.

Panas dan macetnya kota Medan membuat siapapun gerah. Lelaki di samping Nina mengipas-ngipas dengan tangannya, membuat hidung Nina tiba-tiba merasa keram. Musik disko dangdut berdentam mencoba mendamaikan otak setiap penumpang namun apalah daya, justu dia salah satu faktor pembuat suntuk. Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing yang seragam: ingin cepat-cepat keluar dari angkot.

Dua puluh lima menit berlalu dan gempita hadir dalam hati Nina, sebentar lagi dia akan sampai di kampusnya. Dengan semangat dia bersiap-siap walau harus sedikit mengerinyit karena kakinya mulai kaku.

“Bang pinggir!” seru seorang ibu-ibu yang membawa beras dengan wadah dari anyaman kulit pisang.

Angkot berhenti, ibu itu berjalan keluar dengan membungkuk, ketika dia hampir menjangkau pintu keluar seseorang ikut bangkit dan berjalan keluar. Begitu terus hingga diangkot hanya tersisa tiga orang. Nina melotot, tiba-tiba dia merasa dikhianati nasib.

Dua menit kemudian kampus Nina terlihat. Nina sudah mengambil ancang-ancang untuk keluar secepat mungkin.

“Bang pinggir!”

Abang supir angkot masih asik menjalankan mobilnya.

“Bang! Pinggir!” seru Nina lebih kuat, namun hentakan lagu dangdut lebih membahana.

“Baaaang! Pinggeeer!” hatinya memanas, wajah Nina sudah matang.

Angkot di rem mendadak membuat tiga penumpang si supir sedikit terjungkal kedepan. Nina harus berjalan kembali karena si supir menghentikan angkotnya jauh di depan kampus dan Nina pun tak sudi berlama-lama duduk di sana menunggu si supir memundurkan angkotnya.

Dipandanginya si supir angkot dengan emosi, sang supir hanya tersenyum memohon maklum.

“Maaflah, Kak. Tak dengar aku suara kakak tadi”

Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Nina, dengan beringas dia menyodorkan uang dua puluh ribuan ke si supir. Sang supir hanya tertegun, dia mengalihkan wajah hitam jenakanya kebangku penumpang lalu berseru dengan lantang.

“Woi, Lek*! Ada tukaran duit sepuluh ribu dua kau?”

Tak ada jawaban, dia beralih memandang Nina “Kakak cantek tak ada uang keci’?”

Nina merogoh tasnya dengan membabi buta. Uang lima ribu lusuh dia berikan ke si supir dan dengan cepat dia mengambil lagi uang dua puluh ribunya lalu pergi dari hadapan si supir dengan cepat sambil mendumel.

*)Lek : Bro.

Advertisements

2 thoughts on “Angkot dan balada ketika menaikinya

  1. aku kira mereka ngomong dengan logat melayu ternyata batak :’v

    itu si supir kesannya kek ngerayu si Nina gitu wkwkwk

    berhubung Nina itu temen aku di sekolah, jadinya aku memvisualisasikan Nina di cerita ini sebagai Nina temenku di sekolah :”v

    ceritanya kereeeen banget 😀

    Like

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s