[Fanfiction] The Madness And Happiness Maker

tumblr_nx8kjauZ6s1rep284o1_1280

Sequel from The Blue Marshmallow

*****

Semangkuk marshmallow biru pemberian Taemoo tempo hari masih dalam proses penghabisan. Jiyeon memakan benda lembut itu sambil menatap layar laptop nya duduk menyandar ditepi ranjang. Menonton film yang gagal dilihat nya karena ketiduran dengan Taemoo hingga menjelang malam. Beberapa kali Jiyeon tersenyum saat melihat adegan romantis difilm itu.

Konsentrasi nya buyar, seseorang mengetuk pintu kamar nya. Belum lagi Jiyeon mengizinkan masuk pintu kamar nya sudah terbuka. Taemoo tersenyum sambil mengangkat alis tebal nya

”Anneyong!”

Jiyeon menatap lelaki itu sambil menyipitkan mata “Sejak kapan kau menjadi sedikit sopan?”

Taemoo mengendikkan bahu, lalu duduk ditepi ranjang tempat Jiyeon melakukan me time nya. Ikut menghabiskan marshmallow biru. Tangan nya menekan tombol spasi hingga film yang ditonton Jiyeon ter-pause .

Jiyeon menampakkan death glare nya “ya! Shin tae…”

“Sujeong marah besar”

Wajah Jiyeon makin terlihat kesal, kenapa gadis itu harus dibawa-bawa? Tapi rasa penasaran nya juga tak bisa dibendung “kenapa?” Tanya dengan nada sinis.

“Dia marah karena white day kemarin aku tidak menemui nya”

Amarah Jiyeon meledak, mata nya memelototi Taemoo “Kenapa dia marah? Bukan nya kalian sudah menghabiskan waktu seminggu di Jepang? Argh! Benar-benar menyebalkan anak itu!” Omel Jiyeon. Bahu nya naik turun.

“Jiyeon-ah! Kenapa kau emosi sekali?” Tanya Taemoo dengan nada candaan “Tenanglah gadis penuh emosi, jangan sampai kau berubah jadi hijau” Ujar Taemoo sambil mengelum punggung Jiyeon.

Jiyeon melirik Taemoo sejenak lalu mengalihkan pandangan nya kefilm yang ter-pause. Sujeong, gadis tengik itu kerja nya hanya marah, mengamuk, marah, mengamuk saja. Apa dia merasa begitu berharga? Apa dia tak ingat kalau dia mengejar Taemoo dengan begitu agresif hingga Taemoo tak berkutik? Kenapa dia marah-marah hanya karena Taemoo tak menemui nya? Padahal sebelum itu mereka bertemu selama seminggu penuh, menyelusuri Jepang bersama dari pagi hingga malam. Apa Sujeong tak mensyukuri itu? Gadis serakah. Dia mengambil Taemoo dan menyita seluruh waktu nya. Membuat Taemoo harus melulu ada didekat nya dan membuat Jiyeon merana sendiri menunggu Taemoo ada waktu untuk nya. Padahal Taemoo adalah milik Kim Jiyeon.

“Jiyeon-ah. Wajah mu menyeramkan”

Lamunan Jiyeon terhenti. Dia baru sadar bahwa wajah Taemoo begitu dekat. Jantung nya berdebar keras, wajah nya memanas. Taemoo tertawa, dicubit nya pipi Jiyeon dengan gemas.

“Ternyata kau bukan Hulk, kau adalah Hell boy. Wajah mu merah sekali”

“Apa kau melihat bekas potongan tanduk dikepala ku?” Tanya Jiyeon sambil menunjuk kepala nya. Berusaha bersikap sebiasa mungkin.

Well, mungkin orang-orang yang punya indra keenam pasti bisa melihat nya, Hell Girl”

“Ya!”

Taemoo tak peduli dengan teriakan kekesalan Jiyeon. Diambil nya laptop yang ada dipangkuan Jiyeon. “Sampai kapan film ini ter-pause?” Tanya Taemoo, lalu ditekan nya lagi tombol spasi hingga film itu kembali berjalan.

Mereka menoton film sambil memakan marshmallow, kadang beberapa kali Jiyeon maupun Taemoo harus mengambil persediaan marshmallow dari kotak kayu ketika marshmallow yang berada dimangkuk habis.

Suasana diam, mereka menonton dengan serius. Entah kenapa, Ekor mata Jiyeon beberapa kali melihat Taemoo yang memandang nya sambill tersenyum. Hingga satu kali dia menghembuskan nafas, merasa lega. Hari ini Taemoo bahagia. Bukankah seharus nya hari ini adalah yang buruk untuk nya?

****

Juli, bulan yang panas membara. Bulan dimana pemakaian AC dan kipas angin meningkat. Bulan surga untuk mata lelaki. Hati Jiyeon pun ikut memanas. Jiyeon adalah wanita yang mudah kesal, dan dia tak pernah menyembunyikan kekesalan nya. Terutama untuk satu laki-laki itu, dia tau sifat Jiyeon. Jika Jiyeon mencoba bersikap manis didepan nya lelaki itu akan mengerinyitkan dahi lalu berusaha menahan tawa.

“seharus nya kau bilang dulu pada ku!” Jiyeon tak segan-segan berteriak dihalte.

“Lihat saja nanti Shin Taemoo! Ketika kau pulang aku akan membuat kau menyesal pernah terlahir kedunia!” Ujar Jiyeon dengan penuh penekanan.

Bukan takut Taemoo justru tertawa. Tak ada nada takut sedikit pun. Bahkan ketika dia mengatakan diri nya takut pun itu seperti lawakan. Jiyeon makin naik pitam.

Sambungan telepon itu terputus. Jiyeon memutuskan nya.Taemoo mencoba menghubungi nya lagi dan Jiyeon tak menganggkat. Lalu sebuah sms masuk.

“Maaf Jiyeon-ah. Aku akan langsung menemui mu kalau sudah sampai. Kita akan minum soju sampai kau puas. Arrachi?”

SMS itu membuat Jiyeon sedikit tenang. Dia tak bisa berlama-lama kesal kepada Taemoo, walaupun Taemoo adalah manusia yang paling mahir membuat nya kesal. Jiyeon mengambil keranjang piknik disamping nya. Lalu berjalan pulang kerumah, menyiapkan makian untuk Taemoo ketika mereka bertemu nanti.

Tiga hari yang lalu Taemoo mengajak nya untuk piknik ditaman. Jiyeon menyetujui nya dengan bahagia. Tak bisa tidur karena tak sabar. Ketika hari- H itu datang, ketika Jiyeon sudah menunggu dihalte, Taemoo menelepon nya dan membatalkan janji itu. Dia harus ikut dengan teman-teman nya ke China.

Dia juga pergi ke China dengan Sujeong.

Jiyeon kembali marah. Hati nya sakit, tapi dia tak bisa mengeluarkan nya. Beberapa kali air mata nya jatuh, ditepis nya dengan kasar. Dia ingin cepat-cepat pulang kerumah,masuk dan mengunci kamar lalu menangis sejadi-jadi nya.

Menyakitkan sekali mencintai Taemoo. Tapi dia terlalu sayang untuk berhenti mencintai lelaki itu. Sekarang dia mulai ragu, apakah ada kesempatan untuk nya? Bukankah hal-hal yang baik akan menghampiri orang-orang yang sabar? Jiyeon menangis sambil memeluk kotak bekas marshmallow yang cukup besar itu.

Jiyeon bangkit lalu berjalan menuju cermin besar yang berdiri disudut kamar nya. Memandang bagaimana rupa nya saat ini. Riasan mata yang hancur, garis hitam menghiasi pipi nya, hidung dan mata yang merah juga membengkak. Jelek sekali.

Seseorang mencoba membuka pintu nya, tapi tak bisa karena terkunci. Jiyeon melihat kearah pintu dengan refleks. Pintu kamar nya diketuk. Jiyeon melompat-lompat didepan cermin, panik sendiri.

Diapun pasrah, dengan lemas ia berjalan menuju pintu kamar nya. Membuka pintu dan terkejut melihat Taemoo yang juga terkesiap memandang penampilan nya yang acak kadul.

“Jiyeon-ah, gwenchana?” Tanya Taemoo masih dengan wajah nya yang shock.

Jiyeon tak bisa lagi menahan perasaan nya. Dipeluk nya Taemoo dan kembali menangis dengan keras. Taemoo membeku dengan sikap Jiyeon, sama sekali tak menyangka dengan reaksi Jiyeon. Dia kira Jiyeon akan meluapkan kekesalan nya dan memarahi Taemoo satu harian.

Dia hanya berencana mengerjai Jiyeon. Dia pun ada dihalte tadi, tertawa melihat amukan Jiyeon yang tak peduli orang-orang memandangi nya dihalte. Ketika yakin Jiyeon telah pulang dia buru-buru membeli bunga tapi sedikit terkendala karena dia terjebak macet. Sama sekali diluar ekspektasi nya Jiyeon menjadi sekacau itu.

Taemoo kembali sadar. Lalu membalas pelukan Jiyeon sambil mengelus kepala gadis itu.

****

Mereka terdiam. Taemoo duduk menunduk sambil melipat bibir nya agar tak ada tawa yang keluar. Jiyeon juga menunduk, jiwa nya telah kembali, dan dia merasa malu.

Jiyeon menghela napas “Taemoo-ya, bisakah kau pulang dulu?”

Taemoo memandang Jiyeon yang menunduk “Kenapa aku harus pulang? Bukan nya aku sudah melihat semua nya?”

Mendengar ucapan Taemoo yang dihiasi dengan nada ingin tertawa Jiyeon menendang-nendang udara dengan brutal, lalu berdiri dan melompat seperti kangguru “Argh!! Ya Tuhan! Aku malu sekali!” Teriak nya sambil menuntup wajah.

Taemoo tertawa tebahak, dia memukul lutut Jiyeon sebagai permulaan tawa nya. Wajah kacau Jiyeon yang sedari tadi melalang buana dipikiran nya dan tingkah Jiyeon saat ini tak bisa lagi membuat nya menahan tawa. Dia tertawa hingga perut nya kaku.

“Sudah selesai tertawa nya?” Ujar Jiyeon, lalu dia kembali duduk “Kau tega sekali Shin Taemoo!”

“Mianhae, Jiyeon-ah” Taemoo berusaha keras menghentikan tawa nya “Sebegitu kecewa nya kau tadi?”

“Aku terlalu kesal, kenapa kau tidak membatalkan nya jauh-jauh hari?” Tanya Jiyeon sambil mempoutkan bibir nya.

Taemoo merangkul Jiyeon “Santai saja Jiyeon-ah! Jangan terlalu serius.”

Jiyeon menepis rangkulan Taemoo dengan kasar, emosi nya kembali datang “Enak saja kau berkata seperti itu! Coba saja kau yang ada diposisi ku! Kau menunggu dan tiba-tiba orang yang kau sukai seenak jidat nya membatalkan rencana yang membuat mu tak bisa tidur selama dua malam!”

Taemoo mengangguk sambil tersenyum, Jiyeon tak sadar dengan apa yang dia katakan.

“Membayangkan mu pergi bersama dengan perempuan itu. Benar-benar membuat ku muak! Benar-benar membuat ku ingin mematahkan kaki mu!” Jiyeon memandang Taemoo dengan mata berkilat marah, mata nya kembali berkaca-kaca, bahu nya naik turun menahan emosi yang membakar.

Lalu sedetik kemudian mata nya yang menatap Taemoo dengan tajam kehilangan fokus nya. Dia melihat kebawah, memutuskan kontak mata nya. Dia tak bisa mundur lagi.

“Jiyeon-ah, aku sudah berpisah dengan Sujeong. Jadi jangan coba-coba berusaha mematahkan kaki ku”

Jiyeon melirik Taemoo sekejap, rasa shock itu belum bisa menutupi rasa malu nya. Bagaimana tidak? Dia tadi terlalu emosi hingga tak sadar dengan semua yang dia katakan!

Taemoo mengerti lirikan Jiyeon “Kau tau saat kita menonton film dikamar mu sambil makan marshmallow? Aku baru pulang dari rumah Jiyeon, ya dia memang marah besar. Dan akhir nya dia memutuskan ku”

“Kenapa kau tidak bilang pada ku?” Tanya Jiyeon tanpa melihat Taemoo.

“Bagaimana aku bisa bercerita dengan mu? Saat nama Sujeong ada dipembicaraan kita tanduk dikepala mu timbul, telinga mu mengeluarkan asap.” Taemoo mendekatkan wajah nya “Wajah mu amat sangat mengerikan! Lihat! Aku sampai merinding!” Taemoo mengulurkan tangan nya didepan ajah Jiyeon. Jiyeon menepis nya dengan kasar. Taemoo tertawa.

“Kau kasar sekali memperlakukan orang yang kau sukai”

Jiyeon menunduk, wajah nya memerah hingga ketelinga nya. Taemoo kembali tertawa.

“Kau menggemaskan sekali” Ujar Taemoo sambil membelai rambut Jiyeon. Jiyeon masih menunduk, terlalu malu untuk memperlihatkan wajah nya.

“Jiyeon-ah, lihat aku” Ujar Taemoo sambil menyentuh dagu Jiyeon, mencoba membuat gadis itu melihat nya. Namun Jiyeon membuat kaku leher nya. Usaha Taemoo sia-sia.

“Kenapa kau malu? Saat aku tidur kau berani sekali mengatakan ‘Saranghae, Shin Taemoo’ ” Taemoo makin mendekatkan wajah nya “Bukankah kau mengatakan itu saat aku tidur Kim Jiyeon? Jangan khawatir, nado saranghae Kim Jiyeon”

Refleks Jiyeon mengangkat wajah nya dan kembali shock saat melihat Taemoo begitu dekat. Taemoo tersenyum, dengan cepat dia mencium kening Jiyeon. Jiyeon membeku, jantung nya seperti ingin meledak.

“Kau mengatakan nya saat aku baru pulang dari Jepang. Aku belum benar-benar tidur, jadi aku bisa mendengar mu membisikan itu ditelinga ku” Taemoo mengela napas nya “Aku menyukai mu sejak awal, tapi kau hanya menganggapku teman. Aku mencoba melupakan mu dengan menerima ajakan kencan Sujeong. Tapi ketika melihat mu begitu emosi saat mendengar nama Sujeong itu membuat ku senang. Kau wanita yang tak mudah ditebak Jiyeon-ah, aku mencintai sisi itu, aku mencintai sisi emosional mu yang begitu menggemaskan, aku mencintai segala sisi yang ada didirimu, semua sifat yang membuat mu sebagai Kim Jiyeon yang periang, mudah kesal, dan membuat hari-hari ku penuh tawa.”

Jiyeon membeku, dia tak lagi menunduk tapi mata nya kosong menatap lurus kedepan. Dia memang malu dengan pengakuan nya tadi, tapi dia sama sekali tak menyesal. Ketika mendengar semua kata yang keluar dari mulut Taemoo ribuan kupu-kupu diperut Jiyeon kembali bangun, terbang dan menggelitik perut nya. Taemoo juga mencintai nya.

Lamunan Jiyeon terhenti. Taemoo memeluk nya. Dagu lelaki itu menempel dipucuk kepala Jiyeon, membuat Jiyeon menahan senyum. Dia bahagia, kejelekan wajah nya hari ini benar-benar membawa keberuntungan.

Tanpa sadar Jiyeon melihat benda itu, sebuket mawar merah tertidur disamping Taemoo. Jiyeon melirik Taemoo tapi hanya jakun nya yang terlihat. Lalu dia kembali memandang mawar itu, apa itu untuk nya?

Jiyeon memejamkan mata nya, berharap waktu berhenti, dia ingin Taemoo memeluk nya lebih lama. Kalau saja dalam lima menit Taemoo sudah melepaskan pelukkan ini jangan salahkan Jiyeon kalau dia akan mematahkan lengan kekasih nya sendiri.

END

 

.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s