Dia Zahra

eindbeeld

Dia menangis, antara bahagia dan sedih. Lelaki berseragam itu memporakporandakan tempat mencari nafkah nya, tempat dia duduk memamerkan paha dan dada, tempat dia mendapat lelaki yang ingin menghabiskan malam dan uang, tempat dia terengah lalu tidur dalam rasa bersalah kepada ayah dan ibu nya.

Ibu nya tersenyum bangga, anak nya bakal jadi pegawai kantoran. Dia tak tau kalau anak nya hanya lulusan SMA, bahkan yang sarjana pun belum tentu bisa jadi pegawai. Dia mengiringi kepergian sang anak dengan air mata tanpa tau kalau dia akan membiarkan anak gadis nya menggembel dijalanan ibu kota, makin lama dekil menutupi kulit kuning langsat nya.

Ditengah malam dia menangsis, putus asa dengan harapan Ibu yang sudah menjulang begitu tinggi. Dia menghapus air mata nya, mandi ditoilet umum yang pesing lalu berjalan malu-malu, mencoba menjajakan diri. Tak perlu ijazah, tak perlu membuat berlembar lamaran kerja dan koneksi, yang dia perlukan hanyalah wajah yang manis, dan tubuh mengggugah. Dia memiliki nya.

Malam itu uang yang dia dapatkan cukup untuk seminggu kedepan. Pria itu puas memerawani dia. Dia tersenyum malu-malu saat mengambil segepok uang itu. Hati nya benar-benar menciut. Hari itu resmilah dia menjadi peramu syahwat. Pagi nya dia berjalan dan duduk dengan tak nyaman, pedih menguasai nya. Berkali-kali dia memejamkan mata guna menahan sakit.

Sebulan setelah itu dia mengirim uang untuk ibu nya. Ibu begitu bahagia, dia memanggil anak yatim dan membagikan makanan serta uang saku untuk mereka. Ibu bercerita dengan semangat. Dia tak berkata apapun untuk membalas senang hati sang ibu dan setelah telepon itu ditutup dia menangis sejadi-jadi nya.

Tiga tahun berlalu. Dia bersenggama entah dengan berapa pria, bahkan beberapa kali dia berhadapan dengan sesama perempuan. Setiap bangun tidur tubuh nya lelah minta ampun. Kadang dia menangis kuat dikost-an nya, merindukan rumah dikaki gunung, merindukan saat dia masih sering dikepang ibu. Setelah merindu dia kembali bangkit, menyibakkan air mata, lalu kembali berjalan menantang dosa.

Setelah tempat dia bekerja dihancurkan pemerintah menggiring dia kelembaga sosial, membuat nya bisa memasak dan menjahit. Memberinya modal dan harapan untuk kehidupan baru milik nya. Dia takut, masa depan seperti hutan rimba yang tak punya ujung, dia ada ditepian hutan ragu untuk masuk atau membalikkan badan dan kembali seperti dulu.

Dia menghembuskan nafas, mencoba menguatkan diri. Jilbab krem nya kembali dia rapikan letak nya dikepala. Dia melihat bayangan diri nya dicermin, kembali menghembuskan nafas. Dia mengambil tas nya. Tiket kereta api sudah berbaring dimeja kecil didekat jendela kamar tempat dia tinggal sementara di lapas ini. Dia mengambil tiket itu, tiket menuju ibu nya. Hidup nya sudah lebih baik, dia sedikit punya muka untuk bertatap muka dengan ibu dan ayah.

Tak akan dilihat nya waktu dulu. Dia tak akan membicarakan nya. Biar dia yang mengetahui sendiri, orang tua nya tak perlu tau.

“Zahra, itu mobil nya udah nunggu nak”

Dia menoleh kearah pintu, ibu pelatih nya tersenyum hangat. Dia membalas senyuman itu, lalu memeluk wanita yang dianggap nya sebagai ibu nya sendiri.

“Zahra balik dulu ya bu” Ujar nya sambil mencium punggung tangan ibu pelatih nya.

“Kirim salam sama ibu bapak mu ya”

Dia mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan menjauh dari wanita yang menemani nya selama ini. Ketika dia hampir tak kelihatan oleh ibu pelatih nya, dia melambaikan tangan dengan semangat. Hati nya sedikit sesak, tangan nya mulai berhenti melambai, ibu pelatih masih memandangi nya sambil tersenyum. Dia kembali berjalan dengan diri nya sendiri, Zahra yang dia kenal selama ini kembali muncul. Dia mengusap air mata nya dengan ujung jilbab krem yang dia kenakan, sesak tadi hanya sekejap, saat ini syukur memenuhi bagian-bagian diri nya.

Advertisements

4 thoughts on “Dia Zahra

  1. Admin

    Halo, Nebula! Selamat, ya kamu sudah menjadi bagain resmi dari BIW! 😀
    Btw, Nebula, BIW mengirim e-mail ke kamu dengan adanya satu lampiran. Semoga, isinya berkenan, ya! Jangan lupa dicek 😀

    Like

  2. nesaya

    Aku agak nyesek waktu liat berita tentang diary salah satu dari mereka yang sebenernya pingin banget balik kejalan yang bener dan terciptalah ratusan kata-kata abrusd ini :’) Kita do’akan aja mereka dapat pekerjaan yang lebih baik lagi ya 🙂
    Hai Nana, aku Ibul sama-sama dari garis 98, blog aku gak ada yang istimewa kali 😀

    Like

  3. Heavadissia

    Yaampun ini… ini terlihat semacam side story dari orang2 yg digrebek polisi beberapa waktu lalu. sementara kita tertawa bahagia dan mengumpat-umpat sama wanita2 yg rela menjajakan tubuhnya, kita nggak pernah tahu apa yg benar2 jadi alasan mereka. Yaampun aku sampe ngga tahu dan nggak bisa mengungkapkan apa yg aku pikirin. Cuma, yeah, cerita kamu amazing banget. Dan indah. Dan nyata tiap frasanya.
    Salam kenal, aku Nana dari garis 98 yg sedang kuker sambil blogwalking/? Dan terdampar di blog cantik kamu 😄

    Like

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s