Kurcaci Dari Timur

tumblr_mxgjnf8oI01siy7m0o1_250

“Hello!”

Seseorang memanggil nya. Widya menoleh kebelakang, objek yang pertama kali dia lihat adalah sebuah perut. Widya mendongak, lelaki ini tinggi sekali.

****

Rambut hitam, mata nya hitam, kulit nya sawo matang dan bawaan nya yang begitu banyak  membuat Adrien yakin bahwa itu gadis yang memang ditunggu nya. Perempuan itu membungkukkan badan, kerepotan sendiri dengan barang-barang nya.

“Hello!”

Perempuan itu menoleh kepada nya, dia mencoba tersenyum tapi sayang senyum nya tak dapat dilihat gadis itu karena dia malah melirik perut nya sambil merenung.

Excusme?” Adrien ikut membungkuk dan kembali tegak ketika si perempuan itu tersadar dari lamunan nya. Adrien sedikit terkejut, gadis ini lebih pendek dari bahu nya.

kdt

“Selamat datang di Belgia” Sapa Adrien dengan senyum semanis mungkin “Saya Adrien Dufint, mahasiswa dari Université Libre de Bruxelles”

Widya membalas senyuman nya. Dia harus sedikit mendongak untuk melihat mata hijau Adrien. Widya menaruh tas yang entah diisi apa oleh ibu nya dikampung. Lalu mengulurkan tangan.

“Widya” Ujar nya sambil tersenyum “Widya Tara, Proffesor Laront sudah memberitahu”

Adrien memanggil nama Widya dengan susah payah, akhir nya dia berhasil walaupun nama gadis itu berubah menjadi ‘Widya Tara’ dengan sengau dimana-mana .Widya sama sekali merasa tak keberatan, mata nya memperhatikan Adrien yang mengambil tas-tas nya sambil tertawa.

“Bawaan kamu banyak sekali?” Tanya Adrien dengan bahasa inggris nya yang khas. Widya hanya tersenyum.

‘Karena saya orang Indonesia Mas’ batin Widya.

Mereka berjalan keluar dari stasiun. Keluar dari perlindungan pemanas udara distasiun Widya sedikit menggigil karena angin dingin yang menyergap nya. Adrien tampak biasa saja, walaupun rambut brunette nya sedikit melenggok ditiup angin.

“Profesor Loan saat ini sedang berada di Stanford. Jadi supaya kamu gak mati bosan di Prancis kita singgah dulu di Brussels, besok sore kita kesana”

Widya mengangguk dengan kaku, wajah nya sudah membeku.

“Kamu bakalan saya bawa ketempat-tempat bagus disini. Tenang saja, kamu gak bakal  bosan disini”

Adrien membukakan pintu mobil nya dan mempersilahkan Widya masuk. Widya sedikit terperangah. Padahal tangan Adrien sudah penuh oleh tas-tas nya yang berat, tapi lelaki itu tetap membukakan pintu untuk nya.

“T-tterima kasih” Ujar Widya sembari masuk kedalam mobil.

Adrien mengangguk sambil tersenyum, lalu menutup pintu mobil dengan lembut. Widya duduk dengan kaku, menunggu Adrien yang memasukkan tas-tas Widya dibagasi belakang. Lalu Adrien membuka pintu mobil dan masuk kemudian melirik Widya.

Rahang nya bagus, bibir tipis dan pink, pipi nya sedikit bersemu. Widya baru menyadari Adrien adalah lelaki tampan. Dia tak bisa melihat begitu jelas tadi karena lelaki itu begitu tinggi bagaikan mercusuar.

“Apa kamu kena jet lag?” Tanya Adrien sambil memakai sabuk pengaman nya.

“Tidak, saya tidak jet lag

Adrien memelototkan mata nya takjub “Wow, padahal kamu pergi antar benua”

Widya tersenyum sedikit. Pesawat tadi sangatlah bagus, tidak seperti bus yang selalu dia tumpangi setiap berangkat kesekolah dulu. Bau ikan asin akan menyerbak mewangi dibus itu, apalagi ditambah cuaca yang panas. Bagaimana jadi nya kalau Adrien sesekali masuk kedalam bus itu? Widya tertawa membayangkan nya.

“Apa ada yang lucu?” Adrien memperhatikan Widya, tangan nya sudah mantap memegang kemudi.

Widya menggeleng kemudian dia melempar pandangan kejalanan Brusseles yang kebanyakan dilintasi mobil dan sepeda. Musim dingin akan segera berakhir, salju mulai meleleh ditepi jalanan. Adrien bahkan tadi hanya memakai kemeja ketika menjemput nya. Tapi kenapa Widya masih menggigil padahal mantel nya supertebal dan dia memakai tiga lapis baju lagi?

Mungkin dia karena dia tidak memakai sarung.

Lamunan Widya luluhlantak karena suara deheman Adrien. Lelaki itu merasa canggung.

“So, kamu udah persiapan buat tiga bulan di Prancis Tara?” Tanya Adrien sambil memusatkan pandangan mata nya kejalanan.

“Oik”

Adrien tertawa sejenak “Kamu belajar bahasa Prancis”

“Oik, oik”

“Selain oik, kamu bisa apa lagi?”

“Angguung…angguung” Ujar Widya, menambahkan sedikit sengau pada nama penyanyi lokal yang terkenal di Prancis itu, lalu melirik Adrien dengan semangat “Mercedez…mercedez”

Adrien mendelik bingung, dilihat nya Widya sekilas lalu kembali menatap jalanan didepan nya “Mercedez?”

“Merci..merci”

Adrien terbahak “Mungkin lebih baik kamu komunikasi pakai bahasa inggris aja. Logat Prancis kamu sama sekali gak bisa diandalkan”

“Itu jahat Tuan—“

“Dufint, Adrien Dufint.” Jawab Adrien dengan sedikit terkekeh.

Widya mengangguk, lalu menutup mulut nya karena dia sedang konsentrasi memandang jalanan yang tepian diselimuti salju tipis. Beberapa orang duduk sambil meminum kopi di caffe-caffe yang dinding depan nya hanya dibatasi dengan kaca transparan.

*****

Malam sudah datang. Widya memilih bermalam diapartemen Adrien, dengan sedikit ngeri dia masuk kedalam apartemen lelaki tampan itu, untung saja ini di Belgia, kalau tidak bisa-bisa tetangga nya akan melaporkan dia keorang tua nya dan diakhir nya dengan amukan bapak yang berapi-api. Gaya hidup orang eropa benar-benar membuat adrenalin Widya meningkat drastis.

Adrien menghampiri Widya yang masih melamun diruang tamu nya. Kurcaci ini hanya melihat langit-langit apartemen.

“Tara?”

Perempuan itu tak menjawab.

“Tara? Widya Tara?”

Mata nya menatap Adrien dengan sedikit kaget. Adrien tersenyum ramah “Kamu tidur dikamar yang ini”

Widya, mendekati ruangan yang tadi ditunjuk Adrien “Ini?”

“Iya, ini kamar kakak ku. Apartemen ini sebenar nya milik dia.”

Widya mengangguk, jika dia bertanya lebih lanjut maka itu tidak sopan.

“Baiklah, selamat istirahat—“

“Widya, panggil saya Widya saja”

“Okay, selamat istirahat Widya”

*****

Siang ini tak sedingin semalam. Mungkin karena matahari sudah mulai mendapat kekuasaan dari ratu dingin. Widya dan Adrien duduk dipusat jajanan kaki lima yang begitu indah, tak ada kesan kumuh disana. Nama nya juga eropa.

Hari ini baik dia dan Adrien bangun kesiangan. Rencana mereka untuk beriwisata gagal, akhir nya mereka hanya keliling-keliling tak jelas dengan tas Widya dibagasi. Hingga akhir nya perut menuntun mereka ke pusat jajanan ini.

“Widya? Kamu hobi sekali melamun”

“Ah..Dufint” Widya tergagap, mata nya menari-nari mencari hal apa yang bisa diperbincangkan. Adrien tau kesulitan Widya saat ini. Dia tertawa.

“Kamu mau kemana lagi? Sebentar lagi sore, bus mu akan datang”

Kening Widya berkerut “Aku ingin melihat patung anak kecil yang sedang buang air kecil”

Adrien tergelak “Ah iya! Aku lupa. Itu adalah tempat yang wajib dikunjungi oleh turis bukan?”

Adrien bangkit dan menarik tangan Widya. Widya yang belum nalar hanya mengikuti tarika Adrien. Ketika sadar bahwa seorang lelaki dengan wajah aduhai menggenggam tangan nya yang berwarna kuning langsat pipi Widya memerah. Jantung nya berdebar. Rezeki memang banyak bentuk nya.

Manekin pis, anak kecil kribo itu tak malu telanjang bulat didepan banyak orang yang kencing disana. Patung seronok ini menjadi ikon wisata Belgia, sungguh Widya tidak mengerti. Banyak orang mengambil foto diri nya dengan patung itu atau menjadikan sang patung objek foto. Widya menatap Adrien yang sedang dikerumuni beberapa perempuan. Adrien terlihat nyaman-nyaman saja dikelilingi oleh mereka. Tanpa sengaja Adrien menggerakkan kepala nya dan menujukan mata nya ke Widya. Setelah berbasa-basi sebentar akhir nya dia berhasil keluar dari betina-betina itu. Dia menghampiri Widya.

“Maaf, tidak sopan mendiamkan wanita” Ujar Adrien sambil memandang Widya dengan tatapan minta dimaklumi.

Widya tersenyum “Tidak apa-apa, saya cuma ingin tanya, bukankah setengah jam lagi bus saya bakal datang?”

Adrien tertawa “Kenapa hari ini saya pelupa sekali? Saya minta maaf tadi bangun kesiangan, seharus nya kita bisa ketempat-tempat lain”

“Tidak apa-apa. Bukankah Belgia dan Prancis hanya sebatas mata memandang?”

“Kita akan bertemu lagi?”

“Ya, tentu saja”

Adrien tersenyum “Saya akan sangat menantikan nya Widya”

 

*****

Adrien menurunkan tas-tas Widya lalu kembali berdiri tegak dengan sedikit terengah. “Kita sampai”

“Terima kasih banyak atas bantuan nya monsieur

“Bukankah saya sudah bilang? Jangan pakai bahasa Prancis”

Widya tertawa begitu pula Adrien. Padahal baru semalam mereka saling tau. Adrien tak menyangka kurcaci berkulit eksotis ini begitu menyenangkan. Beberapa jam bersama nya terasa sebentar, seharus nya tadi malam mereka begadang saja. Adrien menatap Widya yang memasuki bus nya dan membalas lambaian tangan Widya. Dia akan merindukan perempuan ini, tas berat nya, dan sengau berlebihan nya ketika mencoba berbahasa Prancis.

Bus berjalan. Widya tak lagi melambaikan tangan nya, Adrien masih memandangi bus yang dia tumpangi. Widya tak menyangka  Adrien begitu bersahabat. Beberapa jam mereka bertemu mereka tak lagi merasa canggung satu sama lain. Bus sudah semakin jauh, dia tak bisa lagi melihat Adrien. Mungkin mercusuar itu sudah kembali kemobil nya. Dia akan merindukan lelaki itu, tinggi badan nya dan sengau-sengau yang dia tunjukkan saat ia memanggil nama Widya.

END

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s