Dark Age

hiding-place

Kau tidak berdaya, segera pergi dari daratan Yunani! Lindungi nyawa mu Lirvya. Pergilah ke Vatikan, Mekkah, Pinggiran sungai Gangga atau dimanapun tempat suci dibumi ini. Mereka akan mendatangi mu, aku benar-benar tak mau membayangkan apa yang terjadi selanjut nya.

Pergi saat matahari benar-benar nyata, tidak tertutup awan sedikit pun. Bersembunyilah ditempat suci untuk menunggu saat itu datang. Berdoalah saat dikapal. Tuhan sangat baik Lirvya, Tuhan akan melindungi kita.

Lidya.

Surat ini baru sampai, Lirvya membaca nya dengan tubuh gemetar. Lidya sudah menyerah, dia bersembunyi entah kemana. Meninggalkan Lirvya, perempuan manja yang tak tau apa-apa.

Menjadi keturunan bangsawan, memiliki banyak budak, memiliki banyak keinginan dan semua nya pasti dikabulkan karena uang berlimpah, sesempurna itulah hidup Lirvya.

Mendapat warisan yang amat banyak berarti mewarisi segala tradisi dalam keluarga, termasuk melanjutkan keanggotaan kelompok penyembahan yang pendahulu nya ikuti. Namun saat kejayaan kebangsawanan akan berakhir itu adalah petaka. Gelar bangsawan tidak akan berarti jika kau tak punya harta. Hidu Lirvya diujung tanduk, dia sama sekali tak bisa membeli budak untuk persembahan. Dia harus lari karena jika tertangkap dialah yang harus dikirim ke gunung api untuk menjadi persembahan. Para iblis itu tak akan mau menunggu, mereka akan datang dan langsung meminta. Lirvya tak ingin mati, dia benar-benar harus bergegas.

****

“Phoebe!”

Perempuan berambut pirang yang berdiri sambil berkacak pinggang langsung menoleh kebelakang dan berlari mendekati Lirvya.

“Lirvya, gadis dunia timur” Phoebe menepuk punggung Lirvya, berusaha menenangkan napas teman lama nya yang berburu karena berlari dengan kencang nya. Phoebe tertawa “Gaun mu bisa rusak Lirvya, harga gaun ini bisa memperbaiki kapal ku”

“Kau tidak melaut?” Tanya Lirvya tanpa membalas candaan Phoebe. Sinar jenaka dalam mata Phoebe berganti, air muka nya berubah menjadi serius.

“Tentu tidak Lirvya, pleiades* belum tampak walaupun ini sudah Mei”

Tubuh Lirvya langsung ambruk, Phobe menahan nya dan membantu nya kembali berdiri. “Kau ingin kemana Lirvya?”

“Aku tidak tau Phoebe, aku sungguh tidak tau. Aku benar-benar kehabisan harta untuk membeli budak”

Phoebe mendesah, kejayaan keluarga baik ini akhir nya runtuh juga. “Kau tau apa yang terjadi jika kita berlayar tanpa izin dari atlas*”

Lirvya mengangguk, dia tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dewa sengaja tak menampakkan pleiades karena dia tak ingin pendosa seperti nya lolos dari tanah ini. Phoebe merangkul pundak Lirvya, dia menatap Lirvya sambil tersenyum bersahabat.

“Keluarga mu dengan baik nya memerdekakan kami Lirvya, kalian menjadikan ku pelaut walaupun banyak yang menertawakan keluarga mu. Aku tidak akan lupa jasa kau dan keluarga mu. Aku akan membawa mu ketempat aman, matahari akan selalu bersinar disana. Pada malam hari banyak bintang yang bersinar. Kau ku pastikan aman. Kita akan berlayar besok, bersiaplah”

Lirvya memeluk Phoebe dengan erat. “Terima kasih Phoebe, aku sungguh berterima kasih”

Phoebe menepuk punggung Lirvya “Ini perjalanan yang panjang, pulanglah kerumah dan bersiap”

Lirvya melepas pelukan nya dan mengangguk. Lalu dia kembali berlari dengan cepat nya sambil mengangkat sedikit gaun ungu nya. Renda-renda gaun itu berkibar menemani hentakan kaki Lirvya.

****

Tiga minggu sudah mereka mengapung disamudra. Hanya langit dan laut yang terlihat, tak ada tanah. Benar-benar membuat putus asa. Horizon tampak diufuk barat menemani bersembunyi nya matahari. Malam akan datang, angin dingin berhembus cukup kencang hari ini. Para awak kapal mulai menghisap rokok dan meminum cairan rempah untuk menghangatkan tubuh. Hanya dia dan Phoebe wanita disini. Phoebe tak punya masalah karena para lelaki perkasa itu adalah anak buah nya, namun tidak untuk Lirvya. Dia hanyalah perempuan yang sejak kecil diajarkan bagaimana untuk duduk dengan baik, makan dengan baik, berpakaian dengan baik, dan berias. Dia tak bisa membaur, Phoebe terlalu sibuk dibelakang kemudia kapal. Akhir yang bisa dilakukan Lirvya hanyalah membaca buku dikamar, melihat lautan dan makan. Dia mati bosan.

Derap langkah membuat Lirvya kehilangan konsentrasi. Dia menutup buku dan melihat kearah pintu kamar nya. Apakah Phoebe dan anak buah nya? Kenapa banyak sekali derap kaki?

Langkah terdengar semakin dekat. Lirvya hanya diam, jantung nya berdegup kencang. Lalu semua nya senyap. Tak ada suara apapun, begitu mencengkram. Lirvya mencoba bangkit untuk melihat apa yang terjadi.

‘Brak!’

Baru selangkah dia berjalan suara pintu kamar nya berdentam dengan kuat. Sekelompok orang memakai jubah putih berdiri dihadapan nya. Lirvya refleks mundur, mencoba melindungi diri nya. Namun akhir nya dia terjatuh diranjang merangkak kesudut kamar nya.

“Kau mencoba lari Lirvya” Suara lelaki itu membahana. Tak lama seorang berbadan tinggi besar berjalan dengan pelan. Hanya dia yang memakai jubah hitam, bibir itu tersungging jahat. Lirvya tanpa sadar menangis.

“Aku…aku tidak punya apa-apa lagi Tuan. Mohon ampuni aku” Ujar Lirvya dengan suara bergetar.

“Kenapa kau tidak bilang?” Tanya lelaki itu dengan nada bersimpati, namun semua orang tau bahwa nada itu ditujukan untuk menghina Lirvya “Aku sudah mengambil adik mu sebagai persembahan, jadi kau bisa tenang”

Seseorang masuk kembali masuk sambil menggendong sesuatu yang tertutupi kain putih. Jantung Lirvya berdebar mengantisipasi.

Sang ketua membuka kain itu dan terlihat lah Lidya yang sudah membiru digendongan. Mata nya melotot denga bola mata yang mulai memutih. Mayat Lidya dicampakkan begitu saja kedepan Lirvya. Luka sabetan dileher Lidya begitu dalam. Lirvya menatap mayat Lidya sambil menutup mulut, air mata berhamburan keluar dari mata indah nya.

“Lidya?” Lirvya mengelus rambut hitam adik nya. Tangan nya bergetar. Dengan cepat dia memeluk Lidya, meratapi adik kecil nya.

“Lidya! Lidya!” Teriak nya sambil mengguncang tubuh kaku itu. Lidya tak menjawab, wajah nya masih menampilkan eksperesi yang sama, terkejut dan ketakutan.

Lelaki itu tertawa puas melihat reaksi Lirvya “Kau membuat ku banyak membunuh orang Lirvya, lihat sekeliling mu. Orang-orang yang membantu pelarian mu juga terkena sial yang kau punya. Mereka mati!”

Dengan terisak Lirvya membaringkan tubuh Lidya. Dia turun dari ranjang nya dan mencoba berdiri menatap langsung para anggota sekte.

“Langit mengetahui kebiadaban kalian! Neptunus, Uranus dan Atlas akan menghakimi kalian dineraka!” Teriak Lirvya sambil berusaha menampar semua lelaki itu. Namun usaha nya sia-sia, dengan cepat tangan nya dipegang dengan kuat hingga dia meringis kesakitan. Lirvya dipaksa berlutu didepan lelaki berjubah hitam.

“Kau menjadi orang taat huh?” Lelaki itu tersenyum sinis kemudian dengan cepat dia menjambak rambut Lirvya sambil menatap perempuan itu dengan bengis “Apa kau tetap akan berkata seperti ini ketika kau masih punya harta? Kenapa kau baru mengingat dewa disaat susah?”

Lirvya menatap lelaki itu dengan tatapan menantang walau air mata masih menetes dengan deras. Mereka saling bertarung lewat tatapan.

Kilatan cahaya menyilaukan mata Lirvya sesaat. Saat mata nya kembali membuka dia melihat sebilah pedang yang sudah berada didepan nya. Lirvya mendongakkan kepala nya, melihat sang ketua yang tersenyum penuh kemenangan.

“Kirimi aku surat jika kau dihakimi oleh Neptunus, Uranus dan Atlas Lirvya”

‘cras!’

Pedih menjalar dari leher nya, Lirvya menutup mata nya sambil meringis. Darah memancur keluar dari luka dileher. Lirvya sesak nafas, dia tersungkur jatuh sambil mencoba menggapai jubah hitam didepan nya, mengharap sedikit belas kasih. Paru-paru nya seperti ingin meledak. Kematian sangat menyakitkan. Dia terbatuk dan memuntahkan darah, dada nya benar-benar nyeri.

Lalu Lirvya tak bergerak. Mata nya melihat jubah hitam didepan nya dengan nanar. Nafas terakhir sudah berhembus beberapa detik yang lalu.

“Buang semua mayat-mayat dikapal ini!”

Sang ketua keluar dari kamar Lirvya sambil melihat kesegala arah, mencari seseorang.

“Phoebe!” Seru Sang ketua.

“Ya” Suara itu terdengar dari buritan. Lalu seorang perempuan lari sambil tersenyum. Sang ketua membalas senyuman nya.

“Bawa kami pulang kembali ke Yunani”

Perempuan itu mengangguk dengan lembut dan tersenyum, manis sekali “Baik Tuan”

 

END


**) Pleiades : Salah satu gugus bintang. Para penyair kuno percaya kalau ingin melaut tunggu ketika pleiades muncul bersama matahari di awal bulan Mei.

***) Atlas : Dewa yang menyangga langit. Pernah liat iklan koyo cabe tentang aladin kasih koyo ke kakek-kakek yang mikul bumi? Kakek-kakek itu Atlas.

 

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s