Shine Seine Part 1

black-and-white-couple-girl-happy-Favim.com-843253.jpg

Perempuan itu berjalan pelan ditaman berlantai rumput hijau muda, sendirian. Gerimis mulai datang, dia berteduh dibawah pohon rindang, melihat beberapa pasangan berlari menuju mobil mereka atau membentang payung. Dia tersenyum sambil memejamkan mata. Dulu hidup nya tak seindah ini, tak ada masalah, tak ada kesedihan, semua nya berjalan mulus.

Lalu datang lelaki itu, kelam dan biru. Seolah kesedihan dunia ditanggung sepenuh nya dibahu kekar nya. Tak pernah tersenyum. Tetapi, ketika dia tersenyum sinar wajah nya begitu menyilaukan mata. Membuat semua nya terasa jelas, bahwa sang perempuan telah jatuh cinta, begitu saja.

***

Tak ada yang lebih menjengkelkan daripada kelas pagi. Well, bagi Seine. Sneakers yang tali nya tak terikat tidak bisa menghentikan lari nya ditangga.Kelas Professor Laront akan dimulai tujuh menit lagi. Jantung nya berdebar, olahraga pagi dan reputasi Professor itu adalah penyebab nya.

Dilorong beberapa mahasiswa memperhatikan. Seine sama sekali tak peduli, mereka tak bisa menyelamatkan nya. Tapi ketidakpedulian itu harus berakhir, diujung lorong sana Zayn memperhatikan nya. Tak ada ekspresi, tapi itu benar-benar membuat Seine kehilangan konsentrasi. Mata nya tak berhenti membalas tatapan Zayn.

‘brak!’

Suara buku terjatuh. Semua orang dilorong itu refleks mengalihkan padangan mereka kesatu objek. Seine sama sekali tak berpindah posisi,dia hanya memejamkan mata, sadar akan kebodohan nya.

Lalu tawa bergema disana, membuat perempuan itu menunduk malu. Wajah nya memerah, buku-buku tentang ekonomi nya yang super tebal berserakan seperti tak bertuan. Seine mendesis, kaki kiri nya nyeri.

Kemungkinan untuk tak terlambat ketika kelas Professor Laront sangat kecil sekarang. Mahasiswa-mahasiswa itu sama sekali tak peduli dengan penderitaan nya, sama sekali tak peduli dengan pengusiran tersirat dari Professor Laront jika dia sampai dikelas nanti. Seine frustasi, mata nya memanas.

Lalu dia mengutip buku-buku Seine. Seine mengadahkan kepala nya. Zayn, dia orang pertama yang menolong Seine, wajah nya datar, dia tak kasihan dan tak juga tertawa dengan musibah yang menimpa Seine.

“Kau bisa berdiri?” Zayn menatap Seine, mata biru nya sungguh indah.

Seine mengangguk kaku “Aku…Aku mungkin bisa”

Tangan kanan Zayn memegang bahu Seine, memberikan kekuatan perempuan itu untuk berdiri. Seine bangkit dengan wajah mengerinyit, dia memandang kebawah. Ditatap nya tali sepatu putih yang terlentang dilantai coklat itu dengan nanar

“Kau seperti nya terkilir” Bisik Zayn sambil membopong Seine keluar dari lorong sial itu.

“Ini tidak terlalu sakit” Ujar Seine, dia memberanikan diri menatap wajah Zayn “Terima kasih”

Zayn tak bereaksi apa-apa. Dia hanya menatap kedepan. Tangan nya mencengkram bahu Seine dengan kuat, seolah Seine akan jatuh jika cengkraman itu terlepas. Tangan kiri lelaki itu memegang buku-buku Seine. Dia tak mungkin mengenal Seine, karena mereka tak pernah berbicara sebelum nya. Seine hanya melihat nya sesekali.

Zayn mendudukkan Seine dikursi taman. Dia menatap Seine dengan tajam. “Kau teledor sekali”

Seine menunduk “Aku buru-buru, Aku terlambat masuk kelas Professor Laront”

Zayn duduk disamping Seine, kembali memandangi perempuan itu “Pada akhir nya kau juga tidak akan kesana” Ujar Zayn sambil memandang kaki Seine.

Seine menghembuskan nafas, apa yang dia lakukan sia-sia.

“Tadi itu, memalukan sekali kan?”

Seine memandang Zayn yang memang sedari tadi memandang nya. Zayn tak bisa lagi menahan rasa geli nya, dia tersenyum lebar lalu menunduk sambil tertawa kecil.

Seine terpana, jantung nya berdebar lagi. Zayn tersenyum, ini adalah sesuatu yang jarang terjadi. Bibir tipis itu melengkung keatas seperti bulan sabit. Mata biru itu menyipit, begitu mempesona, Zayn bahkan punya sebuah lesung pipi kecil diujung bibir nya.

Dia harus menyuruh paru-paru nya untuk bernafas.

Zayn kembali menatap Seine dengan tatapan nya yang biasa “Maafkan aku Seine”

Seine hanya mengangguk kaku, jantung nya belum bisa diajak berdamai.

Zayn menepuk pundak Seine dan berdiri. Lalu dengan santai dia berjalan kembali kedalam kampus. Seine terbelalak,sadar akan sesuatu. Dia mencoba untuk berdiri namun gagal karena nyeri itu datang lagi.

“Za…Zayn?” Panggil Seine dengan ragu. Zayn menghentikan langkah nya, dia berbalik menatap Seine. Tatapan nya melembut entah mengapa.

“ya?”

“Kau tau namaku?”

Zayn tersenyum tipis, namun tatapan itu berubah menjadi tatapan Zayn biasa nya “Kau Seine Hamsworth kan?”

Seine diam. Senyum itu, dia pernah melihat nya. Senyum itu tak asing sama sekali untuk nya, dia kenal dengan senyum itu. Tapi, dimana dilihat nya?

***

Lelaki itu turun dari mobil nya sambil membawa sebuah payung hijau. Gerimis mulai datang, dia tersenyum. Tempat ini tak sesepi dua belas tahun yang lalu.

Sungai Seine mengalir tenang, lelaki itu tersenyum. Teringat kenangan dua belas tahun lalu ketika dia gagal bunuh diri. Gadis itu tanpa sengaja terpeleset jatuh tepat dibelakang nya, teriakan nya benar-benar membuat panik orang yang ada disana yang kebetulan hanya lelaki itu sendiri.

Sang gadis tersenyum, wajah nya memerah menahan malu. Dia bertanya apa yang dilakukan sang lelaki dan begitu histeris saat mengetahui dia akan bunuh diri.

Lelaki itu mengurungkan diri, dia mati terpana dengan ramai nya dunia gadis itu. Membuat nya jatuh tenggelam dalam sungai cinta yang begitu warna-warni. Dia jatuh ke Seine, sungai nya.

***

Zayn menghapus air mata nya dengan kasar. Asap putih keluar dari mulut nya ketika dia menghembuskan nafas. Suhu minus lima belas derajat celcius akan menguntungkan untuk dia.

Setidak nya dia akan langsung mati.

Sungai Seine akan menjadi gream reaper nya. Zayn tersenyum miris. Dia baru dua belas tahun hidup tapi harus punya masalah seberat ini, apa tuhan sudah gila?

Ayah nya bangkrut dan menjadi pemabuk, seorang wanita dipungut nya dan dijadikan pelampiasan nafsu. Wanita itu mengambil seluruh harta ayah nya dan membuat mereka sama sekali tak punya apa-apa. Ibu bunuh diri malam itu, menenggak teh yang entah dicampurkan nya dengan apa. Zayn histeris melihat ibu nya kejang-kejang dengan busa keluar dari mulut nya.

Zayn menghirup udara dingin sebanyak-banyak nya. Membuat hidung nya membeku. Dia menutup mata, meresapi saat-saat terakhir hidup nya. Air mata mengalir deras.

‘Ibu!’

‘brak!’

Zayn membuka mata nya lebar-lebar. Pekikan itu, benar-benar pekikan yang luar biasa, telinga nya seperti tersumbat sesuatu untuk beberapa saat.

Zayn menoleh kebelakang. Seorang gadis terduduk mengenaskan dibelakang nya. Dia memijat pergelangan kaki nya sambil mendesis, sama sekali tak tau ada Zayn yang menonton semua adegan nya tadi. Akhir nya dia sadar, dia mengadahkan kepala nya, memandang Zayn yang berdiri dipembatas antara taman rumput dengan sungai Seine.

Pipi nya memerah, dia tersenyum terpaksa. Menutupi pikiran nya yang pasti sedang memaki-maki diri nya sendiri.

“Halo! Suara ku tadi kuat sekali ya?” Sapa nya dengan suara sedikit bergetar

Zayn hanya mengangguk. Gadis itu menunduk, sekarang telinga nya ikut memerah.

“Aku Seine” Ujar Sang gadis sambil mengulurkan tangan nya tinggi-tinggi. Dia berusaha mengenyahkan perasaan malu nya.

“Seine?”

“Ya, Seine. Kau ada masalah dengan orang yang punya nama Seine?”

“Tidak”

Seine memandang Zayn dari ujung kepala sampai kaki, masih terduduk “Kau sedang apa?”

“Well, sebenar nya aku ingin bunuh diri”

“Apa?” Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangan nya yang terbalut sarung tangan merah. Pekikan nya jauh lebih kuat “Kau gila! Kenapa lelaki tampan seperti mu harus bunuh diri?”

“Aku punya masalah”

“Aku juga punya masalah! Aku tadi tanpa sengaja memasukkan uang ayah ku keperapian. Tapi aku hanya kabur, tidak bunuh diri seperti mu!”

Zayn hanya diam. Walaupun mereka sebaya tapi Zayn tau membanding-bandingkan masalah siapa yang paling berat adalah sebuah tindakan konyol. Dia turun dari pagar pembatas jalan itu. Lalu duduk disamping gadis aneh ini. Bokong nya untuk beberapa saat tersengat dingin.

“Kau tidak jadi bunuh diri?”

“Tidak”

Gadis itu membuka mulut nya, Zayn tau apa yang akan dia tanyakan “Suara mu sangat kuat. Aku takut orang akan kesini dan situasi bisa runyam”

“Oh begitu” gumam sang gadis.

Zayn mengulurkan tangan nya “Kau Seine kan?”

“Ya” Gadis itu memandang Zayn sambil tersenyum. Zayn membeku, dunia seperti berhenti saat melihat senyuman itu. Dunia gadis didepan nya pasti sangat bahagia, sangat berwarna. Kebahagiaan itu menular, hati Zayn entah mengapa menjadi hangat. Dia membalas senyuman Seine.

“Aku Zayn”

“Kau Zayn dan Aku Seine, pelafalan nama kita mirip!”

Kemudian Seine bercerita tentang kehidupan nya. Begitu banyak cerita namun Zayn mendengarkan celotehan Seine tanpa bosan. Gadis itu bercerita dengan bibir nya, tangan nya, mata nya dan senyuman nya. Malam itu Zayn benar-benar jatuh ke dalam Seine, tak ingin keluar lagi. Walau dia tak lagi diingat, hanya dianggap anak laki-laki nekad yang ingin bunuh diri.

Bertahun berlalu dan Seine tak lagi mengenal nya. Terlihat jelas ketika mereka berpas-pasan. Seine sama sekali tak melirik nya. Dia tak lagi mengenal Zayn.

“Za…Zayn?” Suara itu begitu lirih, namun telinga Zayn terlatih untuk mendengar suara Seine, dari oktaf tertinggi sampai terendah. Zayn tersentak, dengan kaku dia memutar tubuh nya, melihat Seine yang masih duduk dibangku taman.

Apa dia mengingat kejadian itu? Jantung Zayn berdetak.

“ya?” Suara nya bergetar, apa Seine merasakan nya?

“Kau tau namaku?”

Seketika seluruh tubuh Zayn seperti tak bertulang, dada nya nyeri. “Kau Seine Hamsworth kan?” ujar nya sambil memaksakan sebuah senyum.

Seine tak lagi memandang nya, mata nya menatap kebawah namun tatapan itu kosong. Kulit diantara alis nya sedikit berkerut. Zayn tak ingin lagi berada disana, dia mengambil langkah lebar-lebar. Menjauh dari sungai nya.

***

Advertisements

One thought on “Shine Seine Part 1

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s