Penghilang Bosan

5577177d0423bd50228b4567

Banyak tetangga ku yang berkata bahwa mereka tak suka hujan tapi tingkah laku mereka mengatakan lain hal. Lidah bisa bersilat, tapi tubuh selalu berbahasa jujur. Itulah kenapa saat nanti kita dialam barzah mulut kita digembok Allah dan anggota badan lah yang menjawab wawancara malaikat Munkar dan Nakir. Super sekali.

Masalah klasik, ketika musim hujan pasti akan ada musim banjir. Banjir sudah macam kawan kami setiap tahun, ketika dia tak datang kami bertanya-tanya dalam hati, kemana pula sahabat karib yang datang beberapa kali dalam setahun itu?

Dari aku baru bisa membaca iqro’ sampai sudah sebesar ini tak pernah kudengar tetangga ku mengeluh persoalan banjir. Sekarang saja, para pemuda-pemudi kampung ku -kecuali aku- mulai berkeluh kesah mencari perhatian dengan memfoto banjir dan menyebarkan ke media sosial. Padahal setelah mereka mengeluh didunia maya mereka langsung berenang-renang kegirangan.

Kampung ku tak pernah bergerak terburu-buru, semua perlahan tapi pasti, damai sentosa, kadang damai itu dirusak oleh rumor penjual mainan keliling punya peliharaan tuyul, orang menikah dan menyewa kibot* yang berdentum-dentum sampai tengah malam, tetangga berselisih paham dan saling memaki ditengah jalan, bapak-bapak yang mengamuk lantaran batu akik nya dicuri bocah berandalan saat ditinggal sholat jum’at, polisi yang datang lalu membuat para bandar dan pemain togel menyebur ke sungai yang terbentang dibelakang kampung kami, atau tertangkap nya ular dan biawak yang makan ayam lima ekor, dan banjir.

Kampung ku damai sentosa, dan membosankan. Kejadian-kejadian itu membuat kampung kami mendapat hiburan sesaat bagaikan disisipkan nya hari minggu diantara hari-hari lain nya.

Ketika banjir kampung ku terasa lebih semarak, anak-anak kecil berenang-renang di air kuning kecoklatan, para bapak-bapak menggotong tv atau peralatan elektronik yang lain, dan mamak-mamak asik melarang anak nya yang tergoda karena kawan nya mandi banjir.

Aku jadi teringat dulu, ketika aku masih SD. Sepulang sekolah aku digendong ayah kawan ku untuk melewati banjir yang sudah sepinggang, hati ku riang tak kepalang, tak sabar aku berenang, tapi aku tak mungkin bisa mandi banjir jika ibu ku tak mengizinkan. Untuk mendapatkan izin dari nya, Ibu membuat ku harus melakukan apapun yang disuruh nya agar aku bisa mandi banjir.

“Mak, dedek mau mandi banjer”

“ganti baju dulu, nanti baru mandi banjer” ujar ibu ku sambil menaikkan kasur.

setelah selesai ganti baju aku kembali meminta izin mandi banjir, ibu ku menyuruh ku makan dulu, setelah itu menyuci piring dulu, dan terakhir menyuruh ku tidur siang dulu.

Ketika aku bangun hari sudah sore dan banjir telah surut sampai semata kaki. Teman-teman ku pun duduk santai dimeja berkaki tinggi diteras rumah nya, sedang makan nasi dengan ikan kelotok sambal. Ayah, ibu dan kakak mereka membersihkan lumpur didalam rumah. Teman-teman ku sudah mandi dan bedak tebal tak rata sudah menghiasi muka mereka.

Kontan saja aku menangis, ibu ku mengecewakan aku, sedih sekali hati ku. Akhir nya aku diam setelah diberi dua ratus perak.

Di Jakarta banjir selalu surut setelah dua hari atau lebih, dan ditempat ku banjir selalu surut saat sore hari, jika sudah mencapai dua meter banjir akan surut besok pagi. Kami selalu iri dengan Jakarta yang banjirnya bisa sampai lebih dari dua hari, sedangkan kami hanya mendapat jatah mandi banjir dari sepulang sekolah sampai jam lima sore, besok nya sisa-sisa kesenangan itu hanya berupa lumpur.

Ingin sekali kami mandi banjir tanpa berhenti. Mungkin karena masih kecil kami tak paham apa itu penyakit kulit atau kurang nya sumber air bersih, yang kami tau ketika banjir kami bisa bermain air atau membuat sampan dari batang pisang yang hanyut dan melakukan hal-hal yang seru lain nya lalu besok nya kami akan dimanja-manja karena kami demam.

*kibot = Organ tunggal

 

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s