Ibu Pertiwi

masuk-sekolah

Matahari sedang enak-enak nya bersantai dilangit. Saking enak nya sampai tak sadar bahwa dia membuat bumi begitu panas. Dua anak SD berlari-lari tak menentu dihalaman sekolah yang berumput. Murni dan Tiwi bermandi peluh, bukan karena kepanasan tapi asik bermain kejar-kejaran.

Tiwi berhenti berlari. Napas nya memburu “Murni, udah ah main nya”

“Yah Tiwi” gerutu Murnia sambil mengerucutkan bibir nya. Dengan santai dia mendekati Tiwi yang sudah berbaring direrumputan halaman sekolah. Dia pun ikut berbaring.

“Tiwi, ibu kamu besok dateng ya?”

Tiwi mengangguk “iya, mudah-mudahan ibu gak ke Malaysia lagi. Aku gak mau belajar ngaji sama Kakek Narto”

“Kakek Narto suka marah-marah kan?” Tanya Murni yang dibalas anggukan oleh Tiwi.

“Nanti kalau ibu kamu udah pulang dari Malaysia aku mau ikut kamu belajar ngaji deh”

Tiwi memandang Murnia dengan penuh tanya “Tapi kan kamu orang china Mur. Nanti mamah kamu marah lagi”

Murni tersenyum lebar hingga gigi-gigi susu nya nampak “Kalau gitu aku nemenin kamu aja, habis ngaji kamu kerumah aku ya. Kita nonton Princess”

Tiwi kembali mengangguk semangat, dua anak perempuan itu tertawa sambil mengambil tas yang tadi mereka letakkan begitu saja dipinggiran halaman sekolah mereka. Pulang sambil bergandengan tangan, kadang mereka berlari-lari.

***

Hari ini Tiwi tak masuk. Murni lemas karena teman akrab nya tak bisa bercengkrama dengan nya. Mungkin hari ini Tiwi harus menjemput ibu nya di bandara, karena semalam mamah nya mengatakan bahwa bandara itu sangat jauh dari rumah mereka.

Semalam ketika sampai dirumah Murni langsung melapor kepada mamah nya bahwa ibu Tiwi akan pulang. Dia merengek minta dimasakan kue karena Murni berjanji akan mengajak Tiwi kerumah nya untuk menonton koleksi DVD Princess nya. Melihat Tiwi begitu bahagia dengan kepulangan ibu nya turut membuat hati Murni ikut ceria.

Pulang sekolah akhir nya datang. Waktu membosankan disekolah tanpa Tiwi akhir nya berakhir. Apa Tiwi sudah pulang dari bandara? Mungkin sekarang dia sedang belajar mengaji dengan ibu nya. Tak apalah kalau dia tak bermain dengan Tiwi hari ini. Dia akan merapihkan kamar nya supaya Tiwi bisa bermain dengan nya besok.

Toples-toples kecil berisi biskuit coklat dan biskuit kelapa sudah menghiasi meja diruang tamu nya. Murni tersenyum bahagia. Dia mengambil toples-toples itu dan membawa mereka kekamar nya.

Dimalam hari nya Murni akhir nya tertidur dengan perasaan tak sabar. Pagi hari begitu lama bagi nya.

Namun ketika pagi datang dan pelajaran pertama telah selesai Tiwi tak juga datang. Murni bertanya-tanya dalam hati, apa bandara sebegitu jauh nya? Hati nya penuh rasa ingin tau. Dia pun memutuskan untuk pergi kerumah Tiwi.

***

Diteras rumah Tiwi ada seorang perempuan yang sedang merokok. Rambut nya pirang dan tangan nya dihiasi kutek merah. Dia tak sadar bahwa Murni memperhatikan nya.

“Heh! ngapain disitu?” Hardik siperempuan menyeramkan itu ke Murni.

“Kak, Tiwi nya mana? Kok dia gak sekolah?”

Perempuan itu menghisap rokok dan mengeluarkan nya dengan perlahan “Dia ngurus adik nya dulu, besok dia bakal sekolah. Udah! sana! sana!”

Murni lari karena hardikan perempuan itu yang semakin menyeramkan. Si perempuan kembali menghisap rokok murah nya sambil mengangkat satu kaki nya. Menikmati hisapan-hisapan itu dan menghembuskan asap dari mulut nya seperti naga jahat yang ingin membakar sebuah desa.

Keesokan hari nya Tiwi memang datang kesekolah. Murni yang begitu bersemangat kembali bingung ketika Tiwi yang begitu lemas. Ketika bel istirahat berbunyi Murni langsung memgang tangan Murni dengan semangat. Untuk hari ini jajanan tak bisa menggoda nya.

“Tiwi, kamu jadikan kerumah aku? Kita jadikan nonton Princess?”

Tiwi hanya menggeleng sambil menunduk. Bahu nya mulai bergetar.

“Loh kenapa? Ibu kamu gak ngizinin kamu buat nonton princess? kalau gitu kita ngerjain PR sama-sama deh”

Tiwi tak menjawab. Tetesan air mata membasahi rok merah nya.

“Kok kamu nangis? Ibu kamu ngajar ngaji nya kayak Kakek Narto ya?”

Tiwi menatap Murni, air mata mengalir dipipi tembam nya “Kayak nya Ibu aku gak bisa ngaji lagi deh Mur” ujar Tiwi dengan mata yang merah.

“Kok gitu?” tanya Murni sambil menggaruk kepala nya

“Ibu aku pulang bawa adik bayi, terus rambut nya kayak uban, warna kuku nya kayak mamah kamu. Dia juga jadi suka ngebentak-bentak Mur”

Tiwi mulai menangis. Teman nya hampir tak pernah dimarahi oleh siapapun, hingga hati menjadi lembut dan mudah hancur karena satu bentakkan. Ibu nya pasti memarahi nya semalam. Tangan mungil Murni mengelus punggung Tiwi, mencoba menenangkan sahabat nya. Mulut nya ikut tertarik kebawah, mata nya mulai ikut memerah. Hati nya turut hancur ketika ibu sahabat nya sudah berubah. Ibu Pertiwi sudah berubah.

-||-

Seharus nya mereka masih kertas putih dengan sedikit noktah. Tapi entah kenapa sekarang mereka lebih tua dari usia mereka. Dari mana mereka tau tentang hal-hal yang seharus nya belum mereka ketahui? Apakah kita tau? Apakah kita larang? Apakah sebenar nya kita lah yang menunjukkan nya kepada mereka?

Advertisements

One thought on “Ibu Pertiwi

  1. Baca kalimat terakhir malah ngemaknain ibu pertiwinya jadi negara sendiri :/ XD Aku suka blog kamu. Simple yet cool. Aku mau deh, kalau sempat bantuin kamu buat poster cerpen. Tapi kemampuan aku emang masih kurang siiih. Kebetulan aku pernah liat form req kamu di blog PDA (poster design art). Tapi gak ada yang ngetake karna mungkin castnya bukan orang korea kali yaak?? Tapi kalau kamu bersedia sih, aku mau bantu. Kalau tertarik ke blog ku aja yah! Kalau enggak juga nggak papa. Soalnya aku suka aja baca tulisan kamu. Simple!! Salam kenal ibul (berasa aneh .-.) XD

    Liked by 1 person

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s