Orbit | Chapter Empat

Chapter Empat

The Liar And The Loser

Tiba-tiba saja semua baju-baju yang ada dilemari terasa begitu sedikit. Kevin tak pernah segugup ini. Dia mengacak rambut seleher nya yang basah, bingung dengan apa yang akan dipakai nya untuk menemui Mala. Dia baru tahu bahwa jatuh cinta serumit ini, semua nya ingin ditampilkan secara sempurna, dan keinginan itu membuat nya repot sendiri.

“Jev, kamu bisa jemput aku dikampus gak?” Satu kalimat dari Mala yang membuat sore nya tiba-tiba begitu berbeda. Biasa nya dia akan melukis hingga malam, tak mandi-mandi. Hanya kantuk yang membuat nya berhenti melukis.

Ini kali pertama nya dia akan menjemput wanita yang memang pasangan nya. Jantung nya berdebar. Mala akan pulang dari kampus nya, disapa oleh beberapa mahasiswa ketika berjalan menuju gerbang. Dia akan berdiri menunggu didepan gerbang, dan tersenyum ketika Kevin datang. Lalu mereka akan menghabiskan malam dengan indah. Makan malam, ke bioskop dan bingung mau memilih film apa yang akan ditonton, lalu didalam mobil ketika mengantar Mala kerumah nya mereka akan membahas film itu sepanjang perjalanan.

Kevin tersentak, sial! Dia melamun. Buru-buru dia mengambil baju yang tergantung dalam lemari. Tak lagi melihat pantulan dirinya dikaca karena itu hanya akan membuat nya merasa tak cocok dengan baju nya. Menyisir rambut dan menguncir nya hingga rambut nya menjadi sebuah gulungan kecil dikepala nya. Kevin tertawa, dia selalu membiarkan rambut gondrong nya digerai. Kevin setengah berlari saat menuruni tangga. Dengan cepat dia memakai sepatu dan mengambil kunci mobil nya. Dan mobil merah itu meluncur menjemput pujaan hati sang empunya.

***

Sapaan beberapa mahasiswa menemani nya. Jevin tak juga tampak, mungkin terjebak macet. Sudah setengah jam lebih Mala menunggu. Tak apa, dia yakin Jevin nya pun mencoba untuk datang secepat mungkin.

Suara klakson memanggil nya. Mala menoleh, sebuah mobil juke tak jauh didekat nya. Itu pasti Jevin, Mala tersenyum. Kemudian dia mengerinyit. Sejak kapan Jevin memakai mobil trendy?

Jevin nya adalah seorang yang kaku dan diam. Setelah pertemuan mereka dirumah Jevin entah kenapa dia terasa begitu berbeda. Walau itu perbedaan yang baik Mala tetap merasa ada yang aneh, dia takut.

“Mala, maaf ya tadi aku kelewatan jadi harus muter balik” Wajah bersalah Jevin membuat nya ingin tertawa. Mala tak perlu takut, Jevin yang dicintai nya pada dasar masih sama, masih mencintai nya.

“Maka nya kalau dijalan jangan melamun, kelewatan itu kesalahan fatal”

Jevin tertawa sambil mengangguk. Tangan kekar nya merangkul Mala dengan mesra. Jantung Mala berdebar, selalu seperti ini. Sembilan tahun berlalu dan debaran itu masih ada.

***

Mereka akan kebioskop setelah makan. Mala sudah menyetujui nya. Ternyata ini yang nama nya berkencan, benar-benar membuat bahagia. Kevin tak bisa berhenti tersenyum mendengar celotehan Mala. Dia begitu polos dan penuh semangat. Semua yang diceritakan nya begitu menarik, bahkan yang sudah diceritakan berulang-ulang tetap tak akan membuat Kevin bosan mendengar nya.

Kepergian tiba-tiba Jevin dari hidup Mala adalah sebuah anugrah untuk nya. Dia bisa memiliki Mala dengan mudah. Dia harus berterima kasih kepada Jevin karena dengan begitu pecundang nya dia pergi meninggalkan Mala.

Ponsel nya berbunyi. Mala yang dengan semangat bercerita langsung diam. “Kev, handphone kamu”

Kevin mendengus, siapapun yang menelepon dia benar-benar tak tau waktu! Kevin mengambil ponsel nya dengan malas dari kantong celana nya. Bayu menelepon.

“Siapa yang nelpon Jev?”

“Bayu”

Mata Mala langsung berbinar “Bayu temen yang mau kamu kenalin ke aku?”

Kevin mengangguk. Ponsel nya masih berdering. Setelah menghela napas berkali-kali dia menempelkan ponsel ke telinga nya.

“Iya Bay?”

“Kev, dimana sekarang?”

“Aku dijalan, mau pergi sama Mala”

Bayu diam sebentar, dia masih belum siap mendengar kata Mala secara tiba-tiba.

“Kenapa Bay?”

“Aku udah didepan gerbang. Cepat kesini”

Giliran Kevin yang terdiam. Dia melirik Mala. Mala menatap nya dengan penuh tanya. Lebih baik dia matikan saja telpon dari Bayu.

“Ada apa Jev?” Tanya Mala ketika Kevin meletakan ponsel nya didashboard.

“Tadi Bayu bilang dia udah didepan rumah aku”

Mala memegang paha Kevin dengan semangat, bibir nya tersenyum lebar “Kita gak usah jadi aja nonton nya. Ayo kita ketemu sama Bayu sekarang”

Jantung Kevin seperti naik. Mala belum bisa bertemu dengan Bayu sekarang “ Gimana kalau besok aja? Kayak nya Bayu cuma mau numpang tidur aja deh. Besok aku jemput, okay?”

Wajah Mala berubah kecewa tapi dia tetap mengangguk. Hati Kevin kembali hangat, Mala sangatlah manis.

“Kamu sebegitu mau nya ketemu sama Bayu. Bayu itu gak suka perempuan tau!”

Mala menatap Kevin sambil menyipitkan mata nya “Jadi Bayu suka laki-laki?” Mala mengangguk dengan lambat “ada kemungkinan dia suka sama kamu berarti?”

Kevin terbahak “ ya enggak lah! Aku sama dia udah temenan dari SMP.”

Mala mengendikkan bahu “ya siapa tau kan?”

Kevin tertawa kecil, tak mau menimpali imajinasi Mala yang memang selalu luar biasa.

“Tapi Jev, aku gak yangka kamu punya teman kayak Bayu. Dari SMP lagi. Kamu ingat gak waktu SMP diem nya kamu gimana? Bahkan kamu gak punya temen sebangku dulu” Mala mengatakan nya dengan sangat ringan, tapi benar-benar berdampak besar untuk keberanian Kevin.

Dirinya dan Jevin ternyata begitu berbeda. Mala sangat mengenal Jevin dan dia berulang kali curiga dengan Jevin yang dia temui sekarang. Jantung Kevin kembali berdebar, apa dia harus menjadi Jevin seutuh nya supaya Mala tak lagi mempertanyakan perubahan kekasih nya dulu dan sekarang?

***

Dengan terburu Jevin masuk kedalam mobil mewah didepan kantor nya, tak tahan dengan angin dingin yang berhembus dibulan desember. Baru saja dia duduk, ponsel nya berdering. Ada pesan yang masuk.

‘Aku tunggu kamu jam tujuh. Kita minum teh’

Jevin tersenyum kecil. Dia baru hampir dua bulan ada di Jerman. Hanya Yvonne yang dia tau berani seperti ini, entah dari mana dia tau nomor ponsel Jevin.

‘Maaf, aku gak bisa. Aku ada dinner’

Tak lama ponsel nya berdering lagi. Jevin membaca pesan dari Yvonne dan terkaget. Seperti nya Yvonne tak mengenal kata penolakan. Yvonne semakin mengerikan.

‘Maaf, maksud aku kita minum teh diapartemen kamu. Aku tunggu’

***

Setengah tujuh malam. Jevin sudah naik lift menuju lantai apartemen nya. Entah dari mana Yvonne tau dimana alamat nya. Entah bagaimana Jevin mengetahui bahwa Yvonne sungguh-sungguh akan datang, bukan sekedar ingin mempermainkan Jevin. Dan benar, Yvonne terlihat berjongkok didepan pintu apartemen.

“Yvonne”

Yvonne menoleh dan tersenyum. Kulit pucat nya dibalut kaus turtle neck dan celana jeans, rambut pirang nya diikat seadanya sehingga beberapa helai rambut keluar dari kerumunan kunciran namun terlihat sangat cantik. Yvonne berdiri, terlihatlah mantel coklat tebal ditangan kanan nya.

“Kamu tau? satpam bolak-balik kesini karena curiga sama aku”

Jevin menaikkan sebelah alis mata nya “Sejak kapan kamu disini?”

“Empat jam lalu mungkin”

Jevin menggelengkan kepala nya, tak menyangka perempuan cantik nan kaya raya ini begitu bebas. Dia memasukkan kode pengaman apartemen nya dan mempersilahkan Yvonne masuk lebih dulu. Tanpa permisi Yvonne langsung menuju dapur. Membuatkan teh sesuai janji nya.

Jevin melirik aktivitas Yvonne sebentar dan duduk disofa ruang tamu. Aroma teh melati menyerbu hidung nya, membuat dia memejamkan mata, terasa damai.

“Ini teh anda Tuan”

Jevin tersenyum lalu menghirup teh nya dan meminum nya dengan khidmat.

“Kamu ngebatalin janji dinner kamu?” Tanya Yvonne yang duduk disamping Jevin yang dibalas dengan anggukan.

That so romantic untuk orang sesibuk Mr. Sanusi, itu kehormatan besar buat ku”

Jevin tersenyum kecil. Diletakkan segelas teh melati itu dimeja “Kamu tau darimana nomor handphone sama alamat ku?”

Yvonne tertawa meremehkan “Jangankan nomor handphone sama alamat kamu. Kalau aku mau bisa aja aku tau nomor rekening sekaligus pin nya dan berapa kali kamu beli underware dalam setahun”

“Kamu punya temen hacker kayak difilm-film?”

Yvonne tergelak “No! Aku hacker nya!”

“Luar biasa. Sejak kapan kamu jadi hacker?”

“udah lama, daddy sering berurusan sama polisi gara-gara itu. Dia sering ngelarang aku buat ngelakuin itu. Tapi itu passion aku, sesuatu yang aku cinta” Yvonne mengendikkan bahu “Tapi daddy tau apa soal passion?”

Jevin tak menjawab apapun. Hanya Mala lah satu-satu nya orang yang pernah mencurahkan isi hati ke Jevin dan Mala tak pernah minta Jevin membalas omongan nya. Jadi dia tak tahu harus berkata apa saat Yvonne bercerita. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya menenggak teh melati nya.

“Ceritakan tentang keluarga kamu Jev”

Jevin menatap Yvonne yang juga menatapnya dengan penuh harap. Jevin tersenyum kecil dan kembali menenggak teh nya.

“Gak ada yang spesial. Aku punya Ayah sama saudara kembar”

Yvonne mengangguk “Ibu?”

“Udah meninggal”

Sorry Jev

Jevin tertawa kecil “It’s okay. Selain itu aku punya pacar”

“Pacar?”

“hm, nama nya Mala”

“Jadi sekarang kamu sama pacar kamu lagi sering-seringnya telponan dong?”

“Enggak juga. Dia gak tau aku pergi ke Frankfurt” tanpa sadar Jevin menghembuskan napas nya dengan lambat, mencoba mengeluarkan sedikit kesakitan nya.

Yvonne terdiam. Ditatap nya Jevin yang kembali menenggak teh nya. Lalu dia terpejam sebentar, Mala membuat nya patah hati karena terus melawan rindu. Kenapa Jevin tak memberitahu kepergian nya? Jevin memikul banyak beban dibahu nya. Entah kenapa Yvonne merasa panas. Dia ingin tau bagaimana keluarga Jevin dinegeri asal nya. Sepulang dari rumah yang membuat nya betah ini dia akan langsung menuju kamar, mengunci pintu, menyalakan komputer nya yang sebulan belakangan tak pernah dia jamah, terus menatap monitor nya hingga mata nya minus sekalipun.

 

 

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s