Seribu Malaikat

600-thousand-angels

 

Nisman terperangah. Entah kenapa mata nya langsung berair, tak pernah-pernah dia menangis begitu mudah selama ini. Kebahagiaan dalam hati nya membuat dia beku. Saat kesadaran nya sudah kembali disalami nya Buk Bidan dengan sepenuh hati, begitu bersemangat nya sampai Nisman terbungkuk-bungkuk.

Ayu ikut menangis. Jari lentik nya berulang kali menghapus air mata yang tak berhenti-berhenti keluar. Dia mengelus punggung Nisman yang berguncang karena juga menangis. Dia sama sekali tak menyangka, akhir nya do’a nya dan suami nya dikabulkan setelah delapan tahun menikah.

Setelah penyakit kista yang diderita nya empat tahun yang lalu mereka hanya bertawakal. Jika ada yang bertanya kapan punya anak mereka akan menjawab nanti jika Allah sudah berkenan. Dalam hati mereka bertanya, kapan mereka diberi kepercayaan? Apakah kista itu adalah petunjuk bahwa Allah tak mempercayai mereka untuk membesarkan anak?

Nisman tak menyerah. Hingga malam dia masih menunggu penumpang dengan motor bebek nya, tak lelah-lelah. Dia menabung supaya dua bulan sekali dia bisa membawa Ayu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Setelah uang itu habis dia akan menabung lagi untuk dihabiskan lagi didua bulan berikut nya.

Disenja saat Nisma pulang dari mengojek Ayu menghampiri nya yang tengah melepas lelah dikursi plastik diruang tamu yang sekaligus ruang tv mereka.

“Mas, kita bisa kebidan gak mas?”

Nisman melirik istri nya. Wajah Ayu memang sedikit pucat “Bisa Yu, nanti malem kita kebidan ya.”

Ayu mengangguk sambil memegang perut nya “Perut ku kayak kena badai mas”

Nisman tertawa geli “Kamu kayak nya masuk angin ini. Angin puting beliung”

Ayu memukul paha Nisman yang duduk diatas nya lalu ikut tertawa. Kemudian dia berjalan menuju dapur dan kembali membawa secangkir kopi hitam untuk suami nya. Hari ini dia lupa menyiapkan kopi, perut nya benar-benar bermasalah hingga satu harian dia hanya bisa berbaring menahan mual.

Diklinik sederhana itu Nisman dan Ayu duduk menunggu antrian. Wajah Ayu semakin pucat, Nisman semakin khawatir pula. Apa kista nya ada lagi? Tidak, dua bulan sekali Ayu dikontrol dokter, dokter bilang Ayu aman dari kista.

“Yu, perut mu sakit banget ya?”

Ayu menggeleng “Bukan sakit mas, tapi mual banget. Jangan-jangan Ayu punya maag”

“Masuk angin aja kali ini Yu” Ujar Nisman sambil memijit bahu Ayu yang dibalas oleh anggukkan kecil dari istri nya.

Nisman memejamkan mata nya. Dia tidak sanggup kalau melihat Ayu yang menangis sendirian ditengah malam karena penyakit nya empat tahun lalu itu. Ayu terlihat tenang namun dia tau jika dikamar mandi Ayu selalu menangis, hingga hari ini. Nisman selalu berupaya agar Ayu selalu makan-makanan yang baik. Nisman mengangguk pasti, istri nya hanya masuk angin.

Mereka akhir nya dipanggil oleh perawat. Masuk dan bertemu dengan bidan yang memang sudah mereka kenal. Jantung Nisman berdebar-debar, masa lalu membuat nya kembali memikirkan yang tidak-tidak.

Ibu Bidan duduk dibangku dan melihat raut wajah ketar-ketir Nisman yang duduk diseberang meja nya. Ibu Bidan tersenyum, diapun tau bagaimana Nisman berusaha untuk istrinya.

“Iman, si Ayu hamil” satu kalimat dari Ibu bidan sanggup membuat dua orang dihadapan nya seperti tersengat lebah.

Ayu menutup mulut nya, air mata mengalir begitu saja. Nisman masih membeku, perlahan dia melihat Ayu yang sudah menangis, Ayu mengangguk. Nisman langsung berdiri kemudian menyalami Ibu Bidan dengan semangat, mengucapkan terima kasih berkali-kali.

“Ini masih hamil muda Man, jadi dijaga baik-baik ya!”

Nisman hanya mengangguk, isakan membuat nya kesulitan berbicara.

Ibu Bidan menyuruh Ayu membawa suami nya keluar. Ayu memapah suami nya keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka berdua terus menangis disepanjang jalan. Beberapa tetangga mereka bertanya kenapa menangis, kemudian ikut mengucapkan hamdallah ketika tau. Beberapa juga ikut menangis. Malam itu adalah salah satu malam paling membahagiakan. Seribu malaikat terbang diruang pemeriksaan diklinik kampung. Mengibaskan sayap nya dengan perlahan. Menguapkan jutaan keping kebahagiaan.

****

Ayu terkejut saat sedang menyiapkan makanan untuk sahur. Mulas yang dirasakan nya begitu hebat. Dia terduduk dilantai dapur sambil memegang perut besar nya, tak sanggup menyahut Nisman yang memanggil nya dari ruang tamu.

“Astagafirullah Yu!” Teriak Nisman saat melihat Ayu yang sudah berkeringat jagung karena menahan sakit.

Reflek Nisman mengeluarkan saputangan lalu memilin nya. Dia masukkan saputangan itu ke mulut Ayu, supaya istri nya tak menggigit lidah atau bibir nya. Dengan cekatan dia menggendong Ayu, membawa nya keklinik.

Matahari semakin naik. Puasa tanpa sahur tak membuat Nisman lemas untuk hari ini. Ayu memandangi suami nya. Tangan Nisman gemetar sejak tadi. Kontraksi Ayu semakin sering, wajah pucat Nisman juga semakin sering tampak. Ayu bahagia, dia benar-benar merasa dicintai.

“Mas, nanti anak nya mau dikasih nama apa?”

Nisman mengelap kening Ayu yang kembali berkeringat jagung, mulas nya makin cepat. “Nanti ajalah masalah nama Yu, gampang itu. Yang penting anak nya keluar dulu”

“Ya bentar lagi juga bakalan keluar mas. Bu Bidan aja udah siap-siap mas”

Nisman memandang Ibu Bidan yang tengah menyiapkan beberapa gunting. Kaki nya langsung terasa lemas.

“Mas mending gak usah nemenin Ayu, takut nya malah Mas yang pingsan”

Nisman ingin membantah tapi Ayu sudah menunjukkan wajah tak ingin ditemani. Dengan gontai Nisman berjalan keluar dari ruangan bersalin itu. Mata nya langsung bertemu dengan teman karib nya yang sesama pengojek, Ari.

“Tenang Man, pas istri ku melahirkan aku juga diusir keluar” ujar Ari sambil menunjuk kursi disebelah nya. Dengan gontai Nisman melangkah kearah tempat duduk kemudian duduk sambil mengacak-acak rambut nya.

“Nanti malem kamu udah jadi bapak Man, gak seneng kamu?”

“seneng ndas mu. Istri ku mules-mules kok aku seneng?”

Ari tertawa “Serahin aja semua ke Allah Man, kamu panik-panik kayak begini juga ndak ada guna nya” Ari menepuk punggung Nisman “Ini baru pertama kali, jadi kamu masih kayak gini. Pas udah yang kedua, ketiga pasti ndak akan sepanik ini Man”

Sekarep mu lah Ri” jawab Nisman yang dibalas tawa Ari yang kemudian menepuk-nepuk pundak Nisman.

Tiga jam entah kenapa terasa lambat hari ini. Nisman tak bisa lagi duduk. Suara sekecil apapun bisa membuat jantung Nisman naik. Ketika pintu ruang bersalin itu terbuka, jantung nya berdebar benar-benar kuat. Ibu Bidan tersenyum menenangkan. Anak nya laki-laki, sehat wal afiat. Istri dan anak nya sekarang tengah dibersihkan.

Nisman tersungkur. Satu dari seribu malaikat rela mendatangi rumah kecil nya dan bersedia untuk tetap tinggal. Membahagiakan nya dan Ayu. Air mata mengalir deras dipipi Nisman. Ari menyuruh nya bangkit dan memeluk nya.

Dua laki-laki berkawan itu dibolehkan untuk masuk. Kaki Nisman gemetar melihat bayi yang mata nya masih tertutup itu menguap beberapa kali dalam ranjang kecil. Ayu tersenyum melihat Nisman yang begitu terperangah melihat anak nya. Ari menepuk pundak Nisman.

“jangan diliatin terus Man,diazanin sana!”

Nisman melirik Ayu. Dia takut menggendong bayi yang baru keluar dari rahim itu. Ayu melirik perawat klinik. Perawat itu dengan cekatan menggendong bayi lelaki itu dan mendekatkan kearah Nisman. Mata Nisman kembali berkaca-kaca melihat anak nya.

Alunan azan mengalun lirih dari klinik itu. Seorang ayah mengazani anak nya sambil sedikit tersedu, pertanda malaikat itu diterima dengan hati riang dan penuh rasa syukur.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s