Orbit | Chapter Tiga

Chapter Tiga

Exodus

Kegiatan perusahaan benar-benar memaksa Jevin untuk menjadi sebuah robot. Dia tak boleh berpaling sejenak dari rutinitas yang memang sudah dirancang untuk nya sejak dulu. Pertemuan-pertemuan dengan anggota direksi, berbagai macam meeting, sekarang itu adalah satu-satu hal yang nyata bagi nya. Ayah nya, Kevin dan Mala adalah sebuah mimpi kemarin, dan dia merindukan mimpi itu.

Semua nya meninggalkan dia .Ayah nya, saudara satu-satu nya, semua nya pergi untuk menghidupkan kehidupan mereka. Ibu nya dengan tega meninggalkan nya saat dia masih butuh ASI. Ayah nya meninggalkan dia dan fokus dengan Kevin. Kevin meninggalkan nya karena rasa iri tak berdasar yang membuat nya buta siapa yang ayah nya benar-benar sayangi.

Teh panas yang diteguk nya tak bisa menghangatkan hati nya. Udara dingin diluar kantor nya membuat orang ingin berleha-leha saja dirumah, mengelilingi perapian. Jevin memejamkan mata, dada nya terasa sesak. Dia ingin kembali.

Ayah. Dimana ayah nya? Jevin sudah berada dikota yang sama, kenapa ayah nya masih sulit ditemui? Sebegitu pentingkah kekuasaan hingga ayah nya ingin memaksimalkan kekuasaan itu hingga dia meninggal? Dia bahkan tak mempercayai Jevin yang sudah disekolahkan tinggi-tinggi dan tetap menjadi salah satu pemimpin perusahaan. Jevin hanya pegawai traning, ayah nya masih memegang kendali, begitu sibuk hingga tak mengacuhkan anak nya yang merengek ingin diperhatikan.

Telepon diruangan kerja nya berbunyi, Jevin tersentak. Apa melamun sebentar saja dia tidak bisa?

“Tuan Sanusi, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda”

Jevin mengerinyit “Stepanhie, bukankah pertemuan saya pukul empat nanti?”

Terdengar suara gemerisik, lalu seseorang berbicara “Aku hanya sebentar, ayolah Tuan Sanusi”

Wanita ini sama sekali tidak ada sopan santun nya, Stepanhie sudah berumur empat puluh tujuh tahun dan dia merebut telepon itu seenak nya saja dari Stepanhie, tanpa minta izin sama sekali.

“Baiklah Stepanhie, bawa dia masuk”

Jevin sudah mengantisipasi perempuan itu masuk. Pintu ruangan nya diketuk, lalu Stepanhie masuk lebih dulu diikuti seorang perempuan seusia nya yang langsung tersenyum sok akrab, Jevin mengerinyit.

“Ini Nona McLean Tuan, dia…”

Perempuan itu berjalan mendekati Jevin, masih tersenyum. Stepanhie sadar dia diusir secara tak langsung oleh sikap perempuan ini. Wanita paruh baya itu melirik atasan nya, Jevin mengangguk.

“Terima kasih Stepanhie”

Setelah mendapat izin dari atasan nya Stepanhie berjalan keluar dari ruangan, ketika pintu ruangan itu ditutup mereka masih diam. Jevin harus memulia pembicaraan, dia tuan rumah disini.

“Jevin Andrio Sanusi” Jevin berdiri dari duduk nya, lalu mengulurkan tangan.

“Yvonne McLean” Perempuan itu membalas jabatan Jevin.

“Anda mau teh?”

Come on Jevin, jangan terlalu formal. Kita seumuran kan?”

“Bagaimana pun juga kita dikantor, Nona McLean”

So? Listen, orang tua kita lagi perang disana,mereka pingin salah satu dari kita nerusin apa yang mereka udah dapatkan. Kalau kamu masih pakai prinsip ‘kita ini dikantor’ berarti kamu mau perang-perangan kayak orang tua kita?”

Jevin berdiri dan berjalan menuju pantry nya, mengambil segelas teh . Dia menyodorkan segelas teh itu pada Yvonne yang duduk santai disofa nya. “Saya do’akan semoga orang tua anda yang menang” Ujar Jevin sambil ikut duduk disamping Yvonne.

Yvonne terkekeh “Kamu fikir aku jadi perempuan gak sopan kayak gini buat jadi orang kantoran? Jangan terlalu rendah hati, setiap aku berdoa aku selalu do’ain kamu yang menang kok”

Jevin ikut terkekeh “jadi kita senasib?”

Yvonne mengangguk semangat “Apa kelakuan kamu yang gak mau belajar bahasa Jerman itu juga salah satu rencana supaya dewan direksi gak milih kamu pas voting nanti?”

Jevin tersenyum “iya”

“Ternyata kamu kekanak-kanakan juga ya, Tuan Sanusi”

Just like you

“Seharus nya kamu gak usah belajar tentang apapun mengenai perusahaan juga, kalau cuma gak bisa bahasa Jerman mereka pasti bisa maklumin”

Jevin terdiam. Kevin sudah ambil start untuk melawan ayah nya dengan tidak belajar apa-apa mengenai perusahaan. Kevin membentangkan sayap nya duluan dan meninggalkan Jevin sendirian. Sayap Jevin diberati oleh segala tanggung jawab karena Kevin tak bisa lagi diharapkan untuk menjadi penerus ayah nya, begitu berat hingga Jevin tak dapat lagi terbang.

Excusme? Hallo” Yvonne melambaikan tangan nya didepan wajah Jevin. Jevin tersentak dan mata nya langsung menatap mata abu-abu Yvonne. Yvonne tertawa.

“Wajah kamu lucu kalau kaget”

Jevin tersenyum “ Terima kasih Yvonne”

Yvonne tersenyum mengejek “Sekarang aku udah bukan lagi Nona McLean? Bukan nya kita sekarang ada dikantor?” Ujar Yvonne yang dibalas tawa singkat Jevin.

Yvonnne melirik jam tangan nya, dia menghela napas“Okay Jevin, sekarang aku harus pergi. Terima kasih buat teh nya. Sampai ketemu lagi”

“Sampai ketemu lagi”

Yvonne bangkit dan diikuti oleh Jevin. Tanpa pamit Yvonne langsung berjalan keluar,meninggalkan Jevin yang kembali sendiri, mulai berkelana lagi kealam lamunan nya.

****

“Kev, sorry mobil Bian kena macet.”

Kevin menghela napas. Dia mati bosan dikedai kopi, sedikit menyesal karena memaksa Bayu untuk menemui nya dikota yang selalu macet ini, semua nya menjadi lebih lama. Seharus nya dia saja yang pergi ke Bandung. Hanya Bayu yang akan dia beritahu, tidak ada yang lain lagi. Dan Kevin pun yakin Bayu tidak akan memberitahu siapapun didunia ini kecuali dengan satu orang, Bian.

Dia akan memiliki Mala,setelah semua orang meninggalkan nya Mala datang dengan tiba-tiba. Penyamaran ini sudah sebulan dilakukan Kevin, sama sekali tak ada rasa menyesal dalam hati nya, dia merasa bahagia. Dia tidak akan melepas Mala, bahkan untuk Jevin sekalipun.

Ibu nya begitu tega pergi kesurga lebih dulu, tak peduli dengan penderitaan Kevin. Ayah nya sibuk mengurus semua keperluan Jevin dan menyuruh nya untuk tinggal bersama di Frankfurt. Luar biasa. Jevin benar-benar raja. Pendidikan tinggi, segala fasilitas diberikan secara penuh untuk nya. Jevin pun pasti tak bisa berlama-lama berpisah dengan ayah, maka nya dia dengan gampang menuruti permintaan ayah nya untuk segera menyusul ke Frankfurt. Meninggalkan Kevin yang semakin membenci keluarga nya sendiri.

Dia tidak akan menyerahkan Mala. Mala akan mencintai nya. Jevin hanya pecundang yang terlalu menganggap enteng Mala. Perempuan itu terlalu baik untuk si berengsek Jevin.

“Kevin”

Kevin mencari asal suara itu. Ternyata Bayu sudah sampai.

Lelaki androginy itu memasang wajah heran “Kamu kenapa?”

Kevin menggelang singkat“Gak papa, mana Bian?”

Bayu menarik tempat duduk dihadapan Kevin “Bian langsung tancap gas balik kekantor, dia ada meeting dua jam lagi”

“Ini udah jam tiga, dua jam lagi udah pulang kantor dong? terus kok bisa-bisa nya dia nyuri waktu jemput kamu distasiun? Kena macet lagi”

Bayu mengendikkan bahu “Kayak nya bulan ini dia sibuk banget. Buat weekend ini dia gak bisa ke Bandung”

“Sesibuk nya dia, kamu juga gak bakal dikacangin kan? Lagian kasian juga, Bian tiap weekend cuma duduk digaleri liatin kamu ngelukis buat menuhin deadline. Terus kenapa Bian yang pergi ngapel? Kan yang macho nya kamu Yu?”

Bayu tertawa renyah “iya gak bakal dikacangin, tapi selalu kena damprat. Contoh nya aja tadi sepanjang jalan dia ngomel terus kayak emak-emak, agak nyesel juga tadi kenapa gak naik taksi aja.” Bayu menghela napas panjang. “ Dan Bian gak sekasian itu digaleri, dia bakal jadi emak-emak yang ngepelin lantai galeri, sambil marah-marah, karyawan galeri langsung nyari benteng persembunyian kalau dia udah dateng!” Ujar Bayu sambil menjewer telinga nya sendiri.

Kevin tertawa. Mala nya juga seperti itu, jika berbicara hampir tidak bisa direm. Studio lukis nya sudah bersih mengkilap, dan sekarang setiap Kevin melukis dia diwajibkan untuk membentang berlembar-lembar koran agar lantai tak lagi terkena cipratan cat. Kevin menghela napas, dia merindukan Mala nya.

“Ngomong-ngomong tumben kamu mau dengerin curhatan, sambil senyum-senyum lagi?” Bayu menjentikkan jari nya “Mulai tertarik jadi gay?”

Kevin tertawa, entah kenapa dia bahagia sekali. Ini saat nya dia memberitahu kabar terbaru ke sahabat nya itu “Aku udah punya pacar!” Kevin berusaha setenang mungkin saat mengucapkan kalimat itu. Tapi yang keluar justru nada yang terlalu bersemangat.

Bayu langsung berdiri “Serius Kev? Ketemu dimana?”

“Dia dateng sendiri kerumah”

Bayu mengerinyit heran “Gimana bisa? Dia sales? Cerita yang lengkap dong!”

“Seminggu lalu, pas pagi-pagi dia mondar-mandir didepan gerbang rumah, sampe tengah hari. Terus aku kan ngerasa risih, jadi aku datengin dia, eh dia malah meluk, ya udah pacaran”

Bayu tersenyum sinis “Kamu kira saya bodoh Kak Kevin?”

“Ya emang aku cerita beneran”

“Jadi pacar kamu itu cewe gila gitu? tiba-tiba meluk orang tanpa kenal? Berarti kamu juga gila dong, dipeluk cewe dikit aja langsung ngajak jadian!”

“Kami udah jadian sembilan tahun, jadi wajar dong kalau dia main sosor-sosor aja”

Bayu memasang wajah serius “Kev, relasi ku banyak yang single. Mau lokal, bule, homo, kulit hitam, kulit putih, semua nya lengkap. Tinggal bilang aja kalau emang kamu udah se-kesepian itu”

“Bayu, aku serius. Okay, emang kami baru ketemu seminggu lalu. Tapi dia dan aku udah nganggap kami jadian sembilan tahun. Dia itu pacar nya Jevin. Jevin gak ngasih tau kalau dia bakalan pindah ke Frankfurt.” Kevin tersenyum “Mala itu baik banget, dia…”

Wait, kamu ngaku-ngaku jadi Jevin? Ini bukan april mop Kev”

“Aku serius Bayu” Ujar Kevin tegas.

“Dia pacar kembaran kamu dan masih mau disosor?” Tanya Bayu dengan nada makin meninggi

“Jevin itu chicken, dia gak ngasih tau Mala kalau dia mau ke Frankfurt. Apa maksud nya coba? Dia sama sekali gak pantes buat Mala!”

Bayu tak bisa berkata-kata, dia benar-benar shock “Kev, kayak nya aku pergi dulu ya. Kita harus bicara, tapi nanti. Aku bakal kontak kamu”

Tanpa babibu lagi Bayu langsung bangkit dari duduk nya dan melenggang pergi.

“Bayu! Bayu!” Teriak Kevin, dia tak lagi peduli dengan pengunjung kedai kopi yang melihat adegan dramatis mereka.

“Bayu! Mala mau kenalan sama kamu!” Bayu sudah keluar dari kedai kopi. Bayu benar, mereka harus berbicara dilain waktu. Informasi ini memang cukup membuat kaget. Biarkan saja dulu Bayu naik taksi, menelepon Bian dan menceritakan semua nya.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s