Halte, Hujan, Sang Lelaki

ai ai gasa

Hari ini kamu menunggu nya lagi. Cuaca mulai mendung, aku tau kamu tidak bawa payung. Kamu adalah lelaki yang tak pernah mau repot, walau kadang ketidak-mau repotan mu membuat rugi dirimu sendiri.

Perempuan itu memang selalu terlambat, kalian sering bertengkar karena masalah ini. Aku membela mu, bukan karena aku menyukai mu. Aku adalah perempuan, tapi aku tak selama itu berdandan. Apa mungkin dia berlulur sebelum bertemu dengan mu? Tapi kalian setiap hari bertemu, pasti kulit nya sekarang tipis.

Sudah mulai gerimis, kamu semakin kesal. Handphone kekasih mu tak aktif, benar-benar hari yang sial ya? Aku minta izin untuk tertawa dalam hati.

Kamu menyerah melawan cuaca, kamu menyetop taksi tapi tak ada taksi yang mau menepi. Aku melipat bibir ku untuk menahan tawa. Kau melirik ku, aku segera menunduk, sambil menutup mulut ku yang tak bisa berhenti tersenyum geli.

Kamu mendengus dan berhenti menyetop taksi. Pasrah dengan tetesan hujan yang mulai membasahi buku pengantar bisnis yang kau jadikan pelindung kepala mu dari tetesan air hujan. Dimana kekasih tak berguna mu itu? Ini bukan pertama kali nya kamu dibuat nya menunggu seperti orang bodoh! Dia benar-benar tak berguna.

Dia tidak akan datang, kekasih mu tidak akan datang. Ketika dia melihat hujan ini dia pasti akan tetap berada ditempat dia duduk sekarang, jika dia keluar menemui mu maka alis dan lipstick nya harus ditouch up. Seharus nya kamu mengerti dengan keadaan kekasih merepotkan mu itu.

Hujan semakin deras, hujan itu mengarah kehalte tempat kita berteduh. Kamu hampir basah kuyup. Beberapa kali kamu melirik ku, mungkin ingin menumpang payung. Aku merasa harus memberikan mu tumpangan, jika tidak apa yang nanti kau pikirkan?

“Mas, hujan nya deras banget. Disini aja mas” Ujar ku sambil membuat ruang lebih untuk mu dibawah payung ini.

“Makasih ya mbak” dia berjalan kearah ku, wangi tubuh nya merambat kehidung ku. Tuhan, dia wangi sekali!

Kita saling diam, ini canggung sekali. Aku ingin mencairkan suasana, tapi aku tidak tau harus mengatakan apa. Kamu juga terlihat tidak nyaman. Akhir nya ku putuskan saja untuk melihat jalanan yang mulai digenangi air.

“Saya sering liat mbak disini”

Aku menatap nya, dia tersenyum. Bibir merah nya tersenyum untuk ku! Mimpi apa aku semalam? “Saya juga sering liat mas”

“Mbak kerja didaerah sini ya?” Suara nya merdu sekali. Ini benar-benar hari yang indah. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu, apa jangan-jangan wajah ku sekarang sudah memerah?

Kamu terdiam lagi, mungkin sudah kehabisan pertanyaan karena aku tidak balik bertanya untuk mencairkan suasana. Ini adalah saat nya diri ku untuk memulai pembicaraan.

“Mas kuliah ya?”

Kamu menolehkan wajah mu kearah ku sekilas lalu kembali menatap jalan sambil mengangguk “Iya mbak.”

Aku ikut mengangguk, tak tau lagi aku harus berkata apa. Apa aku harus bertanya tentang perempuan itu? Tidak. Apa nanti yang akan dipikirkan nya? Aku tidak mau dia salah paham.

Kamu, lelaki tampan yang hampir setiap hari menunggu perempuan yang sebenar nya tak benar-benar mencintai mu. Aku turut berduka cita atas apa yang kamu rasakan pada nya. Aku sedih, masih ada orang bodoh didunia ini.

Awal nya aku tak pernah memperhatikan mu, tapi lama-lama aku terbiasa dengan kehadiran mu disini. Menunggu dengan wajah tak sabar dan menghela napas berkali-kali. Banyak perempuan yang melirik mu berkali-kali disini, kamu sama sekali mengacuhkan mereka. Cinta sungguh bodoh, kamu buta. Lepaskan penutup mata mu, dan cari pasangan yang lebih mementingkan mu daripada kulit nya, make up nya, dan tatanan rambut nya.

Hujan berhenti, lamunan ku tentang mu juga harus selesai. Matahari semakin merangsek turun. Aku harus pulang.

Aku mengulurkan tangan, mencoba menangkap tetesan hujan yang tinggal rintikan ringan.

“Mas, hujan nya udah reda”

“Iya, mbak”

“emm…saya duluan ya mas”

Kamu menoleh sebentar kearah ku lalu ikut mengulurkan tangan “Hujan nya masih rintik-rintik loh mbak”

Aku tersenyum, mencoba seramah mungkin. “Enggak apa-apa kok mas”

Kamu mengangguk dengan lambat, terlihat memikirkan sesuatu “Makasih ya mbak…”

“Dira”

Kamu tersenyum “Makasih ya mbak Dira”

Aku mengangguk lalu menurunkan payung yang tadi menaungi kita. Mengikat nya lagi dan mengangguk sekali untuk menyapa mu sekali lagi dan aku berjalan meninggalkan halte.

Kau masih memandangi ku. Ada apa? apa ada yang salah dengan bagian belakang tubuh ku? Jangan seperti itu, berhentilah memandangi ku. Kau benar-benar membuat ku canggung.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s