Orbit | Chapter Dua

orbit1
Poster by Dyzhetta@Art Fantasy

Chapter Dua

Sang Peri

Kevin masih melingkarkan tangan nya dipinggang Mala saat mereka memasuki rumah nya. Rumah besar itu membuat Mala terperangah sebentar.

“Kamu tinggal sendiri dirumah sebesar ini Jev? Mubadzir banget”

Kevin tak menjawab. Dia ikut-ikutan memperhatikan rumah nya sendiri, jangan-jangan ada foto dia, Jevin dan ayah nya yang bergantung didinding, namun akhir nya dia sadari mereka tak pernah melakukan foto keluarga.

“Setelah aku mondar-mandir gak jelas kayak orang gila baru kamu kasih aku masuk rumah kamu” Mala memperhatikan rumah besar yang didominasi warna putih itu, benar-benar terlalu besar untuk ditinggali sendiri.

“yang penting kamu udah aku kasih masuk kan?”

Mala melirik Kevin lalu memalingkan muka sambil tersenyum “kamu tau? Aku kira kamu ikut-ikutan aliran sesat gitu, terus rumah kamu penuh sama tulang-tulang manusia, maka nya kamu gak mau bawa aku masuk”

Kevin tersenyum “khayalan kamu serem juga ternyata”

Mala tertawa dan menyenderkan kepala nya kedada telanjang Kevin “kamu kemana aja sih sebulan ini Jev? Tiba-tiba ngilang gitu, kamu gak mikirin aku apa?”

“Kan aku udah bilang aku sibuk Mala, aku harus bikin lukisan yang banyak soal nya aku…”

Mala memandang Kevin penuh tanda tanya “Kamu ngelukis? Sejak kapan?”

“Aku ngelukis udah lama tau”

“Kita pacaran juga udah lama, tapi kenapa aku baru sekarang tau?”

Kevin terdiam, suara Mala mulai merendah. Semua kebohongan yang baru dilakoni nya membuat nya selalu gugup.

Mala menghela nafas nya “Kamu memang gak pernah ngizinin aku buat bener-bener masuk kehidup kamu Jevin, kamu nyaman sama semua ini? Kamu nyaman sama keadaan dimana pacar kamu gak tau apapun tentang kamu?”

Suara Mala benar-benar penuh dengan kekecewaan. Kevin masih diam, memikirkan kembaran nya yang begitu tega menyembunyikan siapa diri nya dihadapan Mala. Sekarang Mala adalah milik nya, milik Kevin, Mala akan lebih bahagia bersama nya.

“Kamu mau kenalan sama Bayu?”

“Bayu?”

“Dia temen aku dari Bandung, dia pelukis juga. Dan mau pameran loh”

Mala langsung menarik senyuman nya, ini kali pertama Jevin mengajak mengunjungi teman-teman nya. Kemana kekasih nya hilang selama sebulan ini? Kenapa dia mendadak berubah? Jevin sekarang bukanlah Jevin nya sebulan lalu, semua sangat berbeda. Namun hanya satu yang sama, pandangan itu,pandangan yang selama ini menguatkan Mala, yang selalu membuat Mala yakin bahwa Jevin sangat mencintai nya walaupun dia merahasiakan segala nya.

Mereka berjalan dengan tangan Kevin dipinggang Mala dan Mala menyender manja dibahu Kevin, membuat kaki mereka seperti dicecoki dua bola pemberat, mereka berjalan dengan sedikit terseret. Hari ini adalah puncak segala nya. Penantian dengan cemas selama sebulan membuat Mala malas melakukan apapun, Jevin hilang tiba-tiba. Semua teman yang menjadi tempat curhat nya menyerukan hal sama: mungkin Jevin memang niat nya hanya untuk memainkan Mala. Tapi Mala yakin itu tak benar, hanya dia dan tuhan yang tau betapa banyak Jevin berkata-kata lewat sorot mata nya.

Jevin merahasiakan segala nya, memang, Mala pun sadar itu. Tapi mereka tak mengetahui bahwa Jevin tak pernah menyembunyikan perasaan nya. Bagi Mala, Jevin memegang hati nya dan menunjukkan pada dunia seperti patung liberty yang menunjukkan obor nya. Hati Jevin seperti akuarium raksasa, seperti simulator benda-benda angkasa diplanetarium. Terpampang luas, tergantung orang lain apakah mau melihat apa tidak.

Mala masuk kedalam ruangan yang terang benderang, lantai nya sedikit kotor dengan cat-cat lukis. Ada beberapa kanvas kosong, kebanyakan sudah dilukis dengan sangat indah.

“Ini semua kamu yang lukis Jev?”

Kevin tersenyum “iya, aku ngelukis marathon sebulan ini”

“Pantesan kamu ngilang, ternyata kamu bener-bener sibuk ya”

Kevin mengangguk dan mengikuti Mala yang berjalan mendekati sebuah lukisan. Mala menunjuk sebuah lukisan seorang wanita bergaun putih bersayap yang duduk diranting pohon dihutan.

“Tinkerbell?”

“Mirip Tinkerbell ya?”

Mala menggeleng dan tetap memperhatikan lukisan itu “enggak juga sih, soal nya satu-satu nya peri yang aku tau cuma tinkerbell”

“Kalo gak punya wawasan luas gak usah sok-sokan jadi kritikus deh” ujar Kevin sambil merangkul Mala penuh sayang. Mala menyikut perut Kevin dan tersenyum.

“Semua objek lukisan kamu peri?” tanya Mala yang dibalas anggukan dari Kevin

Mala tergelak “Astaga, dari luar keliatan nyeremin, dalem nya imut-imut ya”

Kevin tak menjawab, dia meletakkan dagu nya dikepala Mala, sangat nyaman. Mala masih memperhatikan lukisan-lukisan Kevin yang didominasi warna hijau khas hutan.

“Itu lukisan terbaru kamu?” Tanya Mala sambil menunjuk lukisan dua bayi yang tertidur dalam buaian terbuat dari sekumpulan kapas yang berdiri dipojok ruangan, tepat disamping jendela. Kevin mengangguk, masih dalam posisi menempelkan dagu nya dikepala Mala. Mala berjalan mendekati lukisan itu, tak mengindahkan Kevin yang mengerinyit kesal.

“Kok ini lukisan bayi sih?”

Kevin berjalan mendekati kanvas itu, dia berdiri disamping Mala, mengelus lukisan nya”ini belum selesai, peri nya belum aku lukis”

“jadi sini ada peri nya juga? Lukisan nya punya judul gak?”

Kevin mengangguk, entah kenapa wajah nya berubah menjadi sendu “Born and Death

“Jadi bayi-bayi itu simbol born nya, terus peri yang mau kamu gambar itu…”

“Peri nya bawa dua bayi itu dari surga ke dunia, setelah dia berhasil bawa mereka ke dunia si peri malah pergi ke surga”

“Jadi peri nya meninggal setelah ngelahirin anak nya?”

Kevin mengangguk lagi dan memberi kesan dia tak ingin membahas perihal lukisan nya lagi. Kevin mengambil tempat cat lukis nya dan mengisi dengan beberapa warna, lalu duduk didepan lukisan born and death, menyelesaikan lukisan nya.

Mala masih berdiri, memperhatikan Jevin nya yang tak nyaman dengan pembicaraan mereka tadi. Jevin terlihat sangat terluka, begitu merindukan sang peri. Dia mengelus bagian kosong dikanvas itu, dan sekarang Mala tau bahwa ditempat kosong itulah Jevin akan melukis sang peri.

***

Horizon mulai tampak dibagian barat, Mala dan Kevin berjalan menuju gerbang rumah, bergandengan tangan. Taksi sudah menunggu diluar gerbang rumah Kevin.

“Maaf ya Mala aku gak bisa ngantar kamu pulang”

Mala tersenyum mahfum, bagi Mala ini adalah penebusan salah nya karena membuat Jevin nya bersedih siang tadi “Gak papa Jev, kamu masih sibuk banget. Harus nya aku yang minta maaf udah bikin kerjaan kamu hari ini kecancel

Mala berjalan menjauh dan masuk kedalam taksi, dia membuka kaca mobil dan melambai ke arah Kevin. Wajah nya bahagia sekali. Senyuman fruktosa nya membuat hati Kevin warna-warni.

Taksi itu pun berlalu, Kevin masih tak bergerak. Sekarang dia sadar begitu jahat diri nya. Dia mengambil Mala, kekasih Jevin, kekasih kembaran nya sendiri. Dia memanfaatkan sifat misterius Jevin, dan kepolosan Mala. Dia membuat orang lain menderita diakhir nanti. Bagaimana pun juga Mala dan Jevin harus tau apa yang dia lakukan saat ini.

Kevin tersentak. Tidak. Jevin sudah mendapatkan semua nya sejak mereka lahir. Kasih sayang ayah, segala fasilitas, semua nya. Jevin adalah raja, jadi tidak apa-apa jika dia mengambil satu dari sekian banyak hal yang dimiliki Jevin. Tidak akan ada yang menderita nanti, Mala akan mencintai diri nya sebagai Kevin William Sanusi, bukan sebagai Jevin atau siapapun. Dan Jevin juga akan melupakan Mala, ada banyak hal yang bisa mengalihkan perhatian Jevin dari Mala.

Langkah pertama untuk membuat Mala menjadi milik nya adalah dengan mencari tau apapun tentang Mala. Dan dia juga harus bertemu dengan Bayu. Secepat nya.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s