Evening Moment

couple-session-granville-island

Wajahnya seram, anak-anak akan lari tunggang langgang jika kebetulan lewat di dekatnya. Wajah datarnya sangat mengintimidasi. Kulitnya sawo matang, rambut botak, badan tegap berisi. Dia adalah satpam kompleks rumah ku.

Kebiasaaan ku yang aneh sejak dia datang kekompleks ku, berjalan-jalan setiap sore dan melewati pos satpam didekat gerbang kompleks, dia akan duduk disana, bekerja shift malam, membaca koran dengan secangkir teh panas yang asap nya masih mengepul. Kadang rutinitas membaca nya akan ditemani oleh suara merdu kakak penyiar radio.

Nama nya Handoko, pria asli Medan. Bicara nya masih kental dengan logat Medan yang cenderung cadas, namun dia sangat baik hati. Suka menegur orang, rajin sholat jum’at, dan cinta kebersihan. Aku tau diapun mengenal ku, orang aneh yang setiap sore keluar kompleks. Kadang ketika dia membaca dia melirik ku.

“hati-hati Jess, nanti kamu suka lagi sama dia” Nia masih terikikik dengan ceritaku tentang Handoko yang mengganti frekuensi radio semalam sore.

“aku Cuma penasaran aja sama Handoko Ni, bayangin aja aku tuh gak pernah liat dia senyum, liat dia ketawa, muka nya itu ya kayak gitu terus”

“ya jadi kamu mau nya muka dia berubah gitu?”

Aku tak menjawab, ku masukkan saja coffee late ku ke dalam mulut. Nia menepuk pundak ku masih sambil terkikik.

“Jess, semua rasa suka awal nya dari penasaran kan? Aku liat Mas Handoko-mu itu juga ganteng kok, gak usah malu-malu lah”

“Kamu ngaco tau gak!”

“Kamu yang ngaco! Tau sedetail itu sama kebiasaan si Handoko Handoko itu. Sampe frekuensi radio yang biasa nya dia denger aja kamu tau. Dan yang lebih ngaco lagi, kamu panik pas tau Handoko ganti frekuensi!”

Nia memang menyebalkan, tapi dia adalah satu-satu nya orang yang kuceritakan semua tentang Handoko. Selalu ada Handoko Session disetiap pertemuan kami, dan setiap Handoko Session itu berlangsung Nia akan tertawa hingga perut nya kaku.

Nia berhenti tertawa, namun senyuman geli nya masih terpampang diwajah mungil nya “Kamu yakin Handoko udah kenal kamu?”

Aku memutar bola mata “ya pasti dia tau aku lah, sebagai satpam dia harus tau warga yang dia lindungin kan?”

“iya juga sih” Tiba-tiba wajah Nia bersinar, dia mengenggam tangan ku dengan semangat “Eh Jess, gimana kalau sore ini kamu gak usah lewatin pos satpam nya Handoko?”

“eh kenapa?”

“udah gak usah aja! Nanti kamu liat reaksi dia pas dia tau kamu gak lewat pos satpam, nyariin kamu gak?”

Nia benar, aku harus melihat bagaimana reaksi Handoko setelah selama ini selalu ku ganggu dengan tidak langsung.

“Nanti kamu temenin aku ya Ni?”

Nia tersenyum geli dan mengangguk “Pasti, Jesslyn sayang”

****

Jam empat sore, untuk hari ini aku duduk didalam mobil Nia yang terparkir sedikit tersembunyi didepan gerbang kompleks ku. Aku masih bisa melihat pos satpam yang memang bagian depan dan samping kanan hanya tertutup sepertiga nya saja. Handoko duduk disana, teh manis panas dan koran menemani nya seperti biasa.

Handoko membaca dengan khidmat hingga setengah jam kemudian. Setengah jam setelah itu? Dia mulai tidak konsen lagi dengan bacaan nya, sering sekali dia mengangkat wajah nya dan melihat kejalan dimana satu-satu mobil mewah keluar masuk kompleks rumah ku. Nia histeris melihat gelagat Handoko.

“Tuh! Liat Jess! Dia nungguin kamu!”

“Apa sih? Jangan kebawa perasaan deh” Aku membalas perkataan Nia dengan jengkel, tapi dalam hati aku senang juga melihat gelagat Handoko yang seperti itu.

Handoko menaruh koran nya dan duduk dengan resah. Dia meminum teh dengan pandangan mata nya menuju jalan. Lalu dia berdiri dan melihat kebelokkan menuju blok rumah ku. Dan aktivitas itu diselingi dengan adegan mondar-mandir.

“Ini udah pasti Jess! Dia pasti suka sama kamu!”

Aku diam dan mengabaikan Nia yang heboh sendiri dibalik kemudi. Tanpa sepengetahuan nya aku tersenyum. Entah kenapa, hati ku bahagia sekali rasa nya.

Handoko bertingkah seperti itu sampai suara murratal qur’an dari mesjid terdengar. Lalu dia duduk, menyerah menunggu ku. Biasa nya sebelum suara murratal qur’an bergema aku sudah jalan kaki pulang menuju rumah. Nia kembali menyampaikan pendapat gila nya.

“Udah selesai ngintai nya, sekarang ayo kita sapa Mas Handoko!”

Aku memegang seatbelt yang ingin dilepas nya, lalu menatap nya dengan death glare ku “Kamu gila apa? Enggak! Aku gak mau!”

“Jesslyn, kamu gimana sih? Kita disini lama tau gak! Jadi kita cuma buang-buang waktu aja?”

“Kalau kamu mau nemuin dia yaudah kamu aja, aku gak mau”

Nia menghela napas nya, dia pasti kesal dengan ku. Tanpa aba-aba dia melepas seatbelt nya dan membuka pintu mobil. Setelah keluar dia mendekati pos satpam. Handoko langsung berdiri ketika Nia datang. Nia berbincang sebentar dengan Handoko sambil beberapa kali menunjuk kearah mobil yang aku naiki. Apa yang dia perbincangkan? Apa dia memberi tahu bahwa aku ada disini?

Setelah berbincang beberapa saat Nia berjalan diikuti dengan Handoko. Astaga mereka berjalan kerah mobil! Apa yang harus aku lakukan? Aku panik sendiri. Aku menyisir rambut ku dengan jari, mengambil kaca rias didasbor Nia dan mengecek apa make up ku masih rapi atau perlu di touch up lagi.

Handoko berdiri dibelakang mobil. Nia mengetuk jendela mobil disamping ku. Aku membuka kaca jendela dan Nia hampir terbahak saat melihat wajah ku yang mungkin sudah memerah.

“Jess, kamu bantuin Mas Handoko yah dorong mobil nya, kamu gak bisa ngemudiin mobil kan?” Nia berbicara sambil menahan tawa. Kenapa sahabat karib selalu membuat kita malu?

“Jess ayo cepetan keluar, kasian Mas Handoko, masa dia dorong sendiri” Nia menaik-turunkan alis nya, ingin sekali aku menghapus gambar alis menyebalkan nya itu.

“Udah gak papa kak, aku aja yang dorong sendiri.” Ujar Handoko yang sudah mengambil ancang-ancang untuk mendorong mobil Nia. Suara Handoko yang tegas dan logat Medan nya yang kental tiba-tiba membuat jantung ku berdegup.

“eh, gak boleh gitu dong mas. Ayo Jess, cepetan!” Nia membuka pintu mobil ku dan menarikku keluar. Orang yang pertama kali kulihat ketika aku keluar adalah Handoko dengan wajah nya yang terkejut. Aku tersenyum sambil mengganggukkan wajah untuk menyapa nya.

“aih, kak Jesslyn?” Tiba-tiba saja dia berdiri tegap ketika melihat ku.

“Selamat sore mas”

Aku berjalan pelan menuju belakang mobil Nia. Aku yakin Nia pasti terkikik didalam mobil. Sementara aku disini mati gaya dihadapan Handoko. Kami berdua mendorong mobil menuju gerbang kompleks. Tenaga Handoko sangat kuat, mobil ini bisa berjalan karena nya, sangat tak mungkin karena aku.

“aih kak, mau nya dari tadi aku bantuin kelen* yakan kak? Padahal aku dah liat mobil ini dari tadi. Kupikir kok gak jalan-jalan pulak lah mobil ini, rupa nya ini mobil kak Jesslyn”

“enggak kok Mas, ini bukan mobil saya”

“Apa gak pengap didalam mobil kak?”

“Enggak kok, kan ada AC nya”

“oh iya ya. Maaf lah kak, aku gak tau, tak pernah-pernah aku naik mobil kek* gini”

Aku tersenyum dan mengangguk. Lalu tiba-tiba saja kami sudah sampai dipos satpam. Handoko mendorong mobil sambil berbincang dengan ku. Ketika aku mengangkat galon penuh air, jangan kan berbincang, berpikir saja aku tidak bisa.

Setelah mobil berhenti didepan pos satpam Nia keluar dari mobil sambil memegangi perut nya. Perut nya mungkin kaku karena tertawa terlalu keras. Senyum nya mengembang sempurna.

“Kak, kakak mau teh manis?”

Aku menggelengkan kepala dengan cepat “eh, enggak mas gak usa…”

“oh iya mas, boleh” Nia memotong dengan cekatan, kurang ajar betul.

Handoko bergegas pergi kedalam pos satpam dan menuangkan teh dari ceret elektrik ke mug. Dengan sopan dia memberikan mug-mug itu.

“Mau nya kakak dari tadi minta tolong sama ku, ini dah mau maghrib, bengkel dekat sini pun udah pada betutupan, kalo kakak mau aku bisa dorongkan mobil kakak sampe rumah Kak Jesslyn”

Nia terkekeh kecil, aku sebenar nya yakin dia ingin tertawa terbahak-bahak, namun dia sadar dia cukup membuat ku malu “Gak usah lah Mas, mobil nya kalo didiemin lima menitan bakalan nyala sendiri kok”

“Tapi tadi kakak disana udah lebih sejaman, gak nyala-nyala nya mobil nya kak”

“Tadi kita berdua ketiduran mas, yakan Jess?” Nia melirikku, dia benar-benar puas.

Aku tersenyum “iya mas”

Handoko menyisir mencoba merapikan rambut botak nya, dia tersenyum malu-malu “tadi aku pikir Kak Jesslyn sakit loh maka nya hari ini gak lewat pos satpam, dah aku tunggui tapi kakak tak lewat-lewat, rupanya* kakak ada didekat ku sore ini, kadang sekat betol-betol buat orang terasa jauh yakan kak?”

Aku tersedak teh yang kuminum. Handoko berkata seperti itu bagaikan baru memberitahukan kalau anak itik nya menetas semalam. Nia sudah tertawa lepas, wajah nya memerah. Aku batuk-batuk karena tersedak. Handoko tertawa kecil dan salah tingkah.

-END-


*Kelen : Kalian

*Kek : Seperti

*Rupanya : Ternyata

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s