Orbit | Chapter Satu

Chapter Satu

Majelis Meja Makan

Tiga belas tahun kemudian…

Jam delapan pagi, Jevin makan dengan santai sambil memainkan handphone. Tak terasa oleh nya lelaki berambut gondrong yang turun dari lantai dua dengan boxer dan telanjang dada memandangi nya dengan tatapan jengah.

“Kamu makan ya makan, kalo mau maen hape nanti ada waktu nya!”

Jevin melirik laki-laki yang lahir lebih cepat dua belas menit dari nya dan tak ada pilihan lain selain meletakkan handphone itu. Setelah itu tak ada lagi yang mulai pembicaraan, dua lelaki berwajah mirip itu tenggelam pada aktivitas masing-masing yang sama.

“Kev, aku udah ambil tiket, lusa aku pergi ke Frankfurt”

“hmm”

“Kamu mau nitip salam gak buat Ayah?”

Kevin menyisir rambut gondrong nya kebelakang dengan jari, dia melihat Jevin dengan senyum mengejek “ngapain? Emang kalo aku kirim salam ayah bakal lebih sayang sama aku?”

Jevin menghela napas, kembaran nya memang selalu bermulut pedas.

“Bilang aja sama ayah, banyakin kirim duit, aku mau beli alat lukis lebih banyak”

“Kamu yakin gak mau ikut Kev?”

“Kenapa? Udah deh Jevin, aku gak bakal pesta narkoba kok dirumah. Tenang aja kali, kamar kamu juga gak bakalan aku jadiin studio lukis!”

“Aku tau kamu ngerti apa maksudku”

Kevin melahap telur goreng nya, mengisyaratkan bahwa dirinya tak mau lagi membahas perkara yang sama selama sebulan belakangan ini. Setelah itu mereka akan berpisah, berurusan dengan dunia masing-masing. Kevin dengan lukisan nya dan Jevin dengan segala protokol-protokol perusahaan. Mereka hanya bertemu dimeja makan, hanya diam dan kadang berdebat, tak pernah berbicara selayak nya saudara.

Dan untuk pagi ini Jevin lah yang pertama kali undur diri dari majelis meja makan, Kevin tak peduli, lebih tepat nya pura-pura tak peduli. Handphone Jevin yang tertinggal berdering, satu SMS masuk. Kevin penasaran dan dilihat nya ringkasan SMS itu, hanya tiga kata. Dari nama pengirim nya itu adalah kekasih Jevin. Kevin tersenyum, kembaran nya ternyata sudah besar.

“oke, aku tunggu”

 

***

Keramaian bandara tidak bisa menjadi bahan pembicaraan mereka, seperti biasa mereka hanya diam, terlalu nyaman dengan suasana canggung hingga jika salah satu mencoba mencairkan suasana itu berarti dia adalah orang aneh.

“Kamu gak ketinggalan apa-apa?”

Jevin menggeleng “enggak”

Kevin mengangguk sambil tersenyum kecil ”gak nunggu seseorang?”

“enggak”

“Emang Nimala Sari gak bakal kesini?” Kevin tertawa ketika leher Jevin menjadi begitu lentur, seperti gerak leher ayam sedetik saja leher nya sudah memutar dan mata nya memandang Kevin.

“Tau darimana kamu?”

“Gak penting, semua formalitas yang biasa dilakuin saudara udah aku lakuin, so let me go home” Tanpa menunggu persetujuan Jevin dia langsung melenggang pergi, tak ada pelukan perpisahan, tak ada moment minum kopi dan bercerita ini-itu. Hanya sesederhana itu, hanya didalam rahim mereka dekat, saat masuk kedunia mereka hanyalah dua manusia yang kebetulan punya tanggal lahir dan wajah yang sama.

Jevin melihat saudara nya yang berjalan santai tanpa lagi melihat kebelakang. Saudara nya itu terlalu kesal dengan nya. Kevin membenci Jevin karena Jevin adalah anak kesayangan ayah mereka, hati nya tertutup rasa dengki yang entah darimana dia dapat. Tanpa Kevin sadari bahwa sang ayah selalu memberi apa yang Kevin inginkan dan Kevin pun tak sadar bahwa sedetikpun Ayah mereka tak pernah mau tau apa yang Jevin inginkan.

***

Sebulan berlalu sejak kepergian Jevin. Kevin mati bosan, Bayu harus menetap di Bandung karena pameran nya sebentar lagi. Kevin tak punya banyak teman, dia sudah capek melukis. Melukis adalah hal pertama yang dia lakukan ketika Jevin tak lagi satu rumah dengan nya.

Tak ada lagi bahan makanan yang tersisa, biasa nya Jevin yang membeli semua amunisi dapur, sekarang dia tak ada, Kevin akan menjadi anak kost-kostan. Mungkin sekarang saat nya dia memasukkan pembantu dirumah ini.

Setelah mengambil stok terakhir roti dapur Kevin kembali menaiki tangga menuju kamar sekaligus studio lukis nya. Tak sengaja dilihat nya seorang perempuan muda sedang berjongkok didepan gerbang rumah nya. Perempuan itu jelas ingin masuk kerumah, tapi dia tak juga memencet bel, wajah nya terlihat khawatir. Kevin tak pernah melihat perempuan ini.

Kevin mengendikkan bahu nya dan meneruskan menaiki tangga. Jika nanti dia memang mau masuk kerumah pasti dia juga akan memencet bel.

Sejam…dua jam…tiga jam, hampir tengah hari dan perempuan ini tak juga memencet bel. Kevin penasaran, apa perempuan itu sudah pergi? Mungkin dia anggota MLM yang sedang mencari downline, ketika mau menuju rumah ini para tetangga menyuruh nya untuk mengurung niat nya karena yang tinggal disana adalah dua anak kembar yang ditakuti anak-anak komplek.

Perempuan itu masih disana dan tak juga memencet bel! Kevin lama-lama kesal, kurang kerjaan sekali perempuan itu mondar-mandir didepan rumah orang. Perempuan itu membuat nya seperti dalam distro dimana dia adalah pegawai distro yang selalu mengikuti pelanggan. Kevin tak tahan, dengan cepat dia menuruni tangga, dia harus mengurus perempuan gila ini.

Dengan hanya memakai boxer Kevin berjalan keluar rumah, nanti saja malu nya, sekarang saat nya mendamprat perempuan gila ini. Panas nya cuaca tak terasa dikulit putih Kevin. Perempuan itu melihat Kevin dan langsung mendekati pagar.

Dengan kasar Kevin membuka pagar dan bersiap memarahi. Tapi, tanpa basa-basi perempuan itu langsung memeluk nya erat, tanpa peduli bahwa Kevin hanya memakai boxer,tanpa peduli bahwa Kevin belum mandi, tanpa peduli bahwa Kevin tak menduga kejadian nya seperti ini. Perempuan itu memeluk Kevin seolah Kevin sudah hilang berwindu-windu, lalu dia menangis.

Perempuan itu memukul dada putih Kevin tanda frustasi “kamu kemana aja Jev? Kenapa gak kabarin aku sebulan ini?”

Kevin membeku. Ternyata ini adalah Mala. Setan darimana yang membuat Jevin setega itu tak memberitahu kepergian nya pada kekasih nya sendiri. Kevin ingin membuka suara, menjelaskan bahwa Mala salah orang, namun pelukan itu melonggar dan mereka tak lagi berpelukan. Mala menangkupkan tangan nya kewajah Kevin, mata nya masih semerah saga dan berlinangan air mata. Hidung merah nya terlihat kontras dengan kulit wajah nya yang kuning langsat. Wajah Mala adalah fruktosa. Kevin terpaku beberapa saat, kemudian dibelainya wajah pipi berair Mala.

“Maaf ya, aku lagi banyak kerjaan”

“Kamu gak pernah bisa ditebak Jev”

Kevin menarik Mala kembali kepelukan nya. Dia memejamkan mata. Rasa iri nya pada Jevin makin bertambah.

“Jevin?”

“hmm”

Mala melepaskan lagi pelukan itu, lalu memandang Kevin dengan wajah heran “Rambut kamu cepet banget gondrong nya”

***

Frankfurt…

Bagaimana dengan Mala nya? Sedang apa dia? Apa Mala sudah menganggap hubungan mereka sudah berakhir karena tiba-tiba Jevin menghilang begitu saja? Apa Mala tak berusaha mencari nya? Kenapa Mala tak juga mendapat nomor baru nya? Kenapa Mala juga ikut-ikutan mengganti nomor ponsel? Kenapa Mala menutup semua akun media sosial nya? Kenapa seolah Mala-lah yang tiba-tiba menghilang?

Jevin menghela napas, udara dingin bulan Desember membuat dada nya semakin sesak. Dia lesu.

Mala. Nimala sari. Satu-satu nya perempuan yang mau mengajak nya bicara saat mereka masih SMP, perempuan yang disukai Jevin setengah mati, namun Mala terlalu periang untuk Jevin yang hidup nya seolah selalu kelabu. Maka dipendam nya saja cinta monyet nya dalam-dalam.

Dipendam nya saja perasaan bahagia saat Mala meminjam pulpen, tipe-x, atau buku catatan pada nya. Rasa berbunga-bunga saat dia meminta buku catatan pada keesokan pagi, Mala akan mengambil buku catatan itu dari tas pink nya, memberikan buku catatan penuh cinta itu lalu tersenyum, manis, manis sekali.

“Makasih Jev”

Suara nya akan terus terngiang-ngiang dipikiran Jevin. Senyuman Mala mampu membuat perut Jevin dipenuhi kupu-kupu. Dan pagi itu akan terus membuat Jevin bahagia hingga dia kembali tidur. Hanya kadang terusik oleh Kevin yang ketahuan mencuri uang nya untuk membeli cat atau kanvas baru.

Masa SMA adalah masa kosong, Jevin tak satu sekolah lagi dengan Mala. Tak ada lagi sensasi perut dipenuhi kibaran sayap kupu-kupu. Saat-saat SMA nya adalah saat-saat membosankan. Tapi masa membosankan itu sirna saat pensi perpisahan murid kelas dua belas sekolah nya diadakan.

Mala datang bersama teman nya untuk menjadi perwakilan OSIS dari sekolah nya. Rambut bergelombang nya, kuncir kuda nya, kulit kuning langsat nya, senyuman madu nya, semua nya tiba-tiba terlihat lebih indah. Itulah pertemuan pertama mereka setelah tiga tahun hanya bertemu selintas dan sekedar saling menyapa.

Mala langsung menyatakan bahwa dia menyukai Jevin saat itu juga, saat Jevin mengajak nya kekantin tapi mereka hanya diam-diam saja, tak tahu apa yang mau dibicarakan. Jevin menahan senyum saat Mala menembak nya, diapun langsung menerima cinta Mala. Dan ribuan kupu-kupu kembali hidup diperut Jevin, setelah acara pernyataan cinta itu mereka berbicara tentang masa-masa SMP mereka, tertawa sesekali. Benar-benar menyenangkan. Dan pembicaraan terus berganti-ganti setelah bertahun mereka menjalin cinta.

Jevin menghela napas, kaca jendela yang berembun membuat pandangan keluar terbatas. Tanpa terasa dia resmi mencintai Mala hampir sembilan tahun baru kali ini dia sadar dia belum menceritakan apa-apa pada Mala, sedikitpun. Mala tak pernah protes, tak pernah marah dan selalu membuat nya nyaman dengan tidak melulu meminta dikenalkan pada dua orang laki-laki aneh dan tak peduli satu sama lain itu.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s