Land of dream

696_0.jpg

Aku tinggal dinegara paling tertutup didunia, wisatawan asing tak boleh tunggang langgang tralala trilili sembarangan disini, menonton acara tv negara lain sama saja dengan mengantar nyawa. Tak seperti yang kalian bayangkan, aku baik-baik saja disini, aku tak tau berita macam apa yang kalian dengar dan baca hingga kalian merasa negara tempat ku tinggal adalah negara yang penuh dengan siksaan, tapi hidup ku tidak lah semenyedihkan itu.

Aku menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dilakukan sahabat kecil ku ini.  Mungkin karena dicampakkan kekasih nya seminggu lalu si otak udang satu ini berencana ingin bunuh diri. Sebelum bel sekolah berbunyi dia memintaku untuk permisi saat pelajaran tengah berlangsung dan harus lewat depan kelas nya, ada yang mau ditunjukkan nya, aku penasaran dan kuturuti apa mau nya.Beberapa menit aku sampai ditoilet dia pun datang dengan wajah waspada. Dilihat nya bilik-bilik WC untuk memastikan hanya kami yang ada disini.

“Eunhyuk, aku tau apa yang mau aku tunjukkan?”

Aku mengendikan bahu, kalau aku tau mana mungkin aku menuruti keinginan bodoh nya. Melihatku tidak terlalu peduli dengan barang yang akan ditunjukkan dia menghela napas.

“Ini barang langka kau tau! Hidup mu akan berubah jika memiliki benda ini”

Aku memutar mata malas “ya sudah tinggal tunjukkan saja!”

Dia tersenyum misterius, lalu dengan gaya slowmotion dia mengambil barang yang digadang-gadang nya bisa merubah hidup ku. Jantung ku berdegup kencang melihat barang itu, aku memandang sahabat kecil ku ini dengan tatapan shock, melihat ku terkejut seperti rambut kena sengat api senyum nya makin puas. Ya, dia benar, benda ini akan merubah hidup ku jika orang lain tau dan melaporkan kepetugas. Sibodoh satu ini benar-benar bisa merubah hidupku dari seorang pelajar menjadi tawanan yang menunggu dieksekusi! Dia punya sebuah MP3 player!

Refleks aku menyambar MP3 player itu dari tangan nya dan segera menyembunyikan benda itu kesaku celana ku, lalu mendorong lelaki tengik ini hingga dia tersuruk kelantai.

“Lee Donghae! Apa kau bodoh? Ini dilarang! Kau mau mati? Kalau kau mau mati jangan ajak aku!” wajah ku terasa panas,napas ku tersengal-sengal karena menahan emosi ku yang sudah sampai diubun-ubun tapi aku harus tetap merendahkan suara ku.

Dia bangkit dan mengguncang tubuh ku “Hyuk! Ini kesempatan besar buat kita! Apa kau tidak bertanya-tanya dari mana aku bisa dapatkan barang ini tanpa ketauan petugas?”

“aku tidak perlu bertanya pertanyaan memalukan macam itu! Kau mau menjadi pengkhianat? Silahkan! Aku tidak peduli! Jangan bawa aku dalam misi pengkhianatan mu ini!”

Aku mencampakan MP3 player sialan itu dan memandang Donghae dengan berang “aku sudah menjadi pengkhianat dengan tidak melaporkan mu, jika kau mau mencari teman untuk mengantar nyawa cari yang lain!”

Aku pergi dengan langkah panjang dan kudengar dia memanggilku supaya aku mau mendengar hasutan nya lebih jauh lagi. Dia benar-benar sudah gila.

Setelah itu dia mulai menjauhi ku, dia tak datang kekelas untuk mengajak ku makan siang, dia tak menegurku jika berpas-pasan dan membuat sebuah kesan yang membuatku segan untuk mendekati nya. Aku tak terbiasa dengan situasi seperti ini, Donghae adalah teman ku sejak kecil. Kami memang sering berselisih tapi satu atau dua hari kemudian salah satu dari kami akan menyapa seperti tak ada masalah apapun dan perselisihan kami akan selesai tanpa ada satupun yang meminta maaf. Tapi kali ini berbeda, ini sudah sebulan setelah perselisihan dikamar mandi itu.

“Donghae” Dia mengangkat kepala nya dan terkejut melihat ku didepan nya dengan membawa kotak bekal.
Aku duduk didepan nya, dia melihat ku sekilas dan melanjutkan makan nya. Lalu kami makan dengan diam, begitu canggung.

“Aku sudah menghancurkan MP3 player itu”

Aku mengangguk, tak tau harus menjawab apa.

“ini semua gara-gara kau”

Aku langsung membatalkan makanan yang hampir saja masuk ke mulut ku “kenapa gara-gara aku? aku mengatakan hal yang benar, dengar, aku disini karena aku tak tahan kita bertingkah laku seperti tak saling kenal, jangan bahas itu lagi! itu perkara sensitif Donghae!”

“penyelundup itu sudah berkali-kali keluar masuk perbatasan tanpa ketahuan dan dia bersedia untuk mengeluarkan kita Hyuk! Kita punya peluang untuk keluar dari negara ini!” ujar nya membandel.

“apa karena kau dicampakkan Ji Hyo kau memutuskan jadi pengkhianat? Perempuan memang selalu membuat otak kita rusak!”

“aku hanya ingin punya kehidupan yang lebih baik disana Hyuk!”

“kau mau kehidupan yang lebih baik? Rajin belajar dan jadilah anggota intelejen!”

Donghae diam, dia masih ingin berdebat tapi dia lebih memilih mengalah. Kami melanjutkan makan dengan pikiran yang sama.

Aku memandang Donghae sekilas, merasa bersalah karena aku membuat mimpi nya hancur. Air mata nya menetes dan berakhir dimakanan nya, aku semakin merasa bersalah. Orang tua ku meninggal karena pernah mencoba kabur dan gagal, orang tua nya saat ini telah menjadi warga negara dinegara tetangga. Aku selamat karena aku menolak untuk ikut orang tua ku kabur karena aku tak mau meninggalkan Donghae, dan Donghae harus menerima kenyataan pahit karena dia bersikeras tak mau ikut orang tua nya karena dia tak mau meninggalkan aku.

Aku tak sanggup melihat air mata yang turun dan isakan kecil nya, rasa bersalah ku semakin menggunug, dan yang bisa kulakukan hanyalah menunduk dalam-dalam.

****

Donghae tak pernah membahas perkara itu lagi, tapi tingkah nya semakin aneh. Kantung mata nya tebal dan menghitam, tanda kelelahan. Dia tak mengizinkan ku untuk masuk kedalam rumah nya. Dia makan dengan begitu cepat, menjadi lebih pendiam dan selalu bersikap waspada.

Dia bukan Donghae yang aku kenal selama ini, aku penasaran. Rasa penasaran memang membuat kewalahan, aku tak dapat mengatasi rasa penasaran ku lagi. Akhir nya aku berniat untuk masuk kedalam rumah nya dan mencari tau apa yang membuat dia menjadi aneh seperti belakangan ini.

Rumah nya begitu tak terawat, bercup-cup mie instan bertumpuk, entah berapa lama dia makan makanan ini. Aku menggelengkan kepala membayangkan betapa dia betah dengan suasana seperti ini.

Donghae tak ada dirumah, aku pun tak tau dia ada dimana, tapi karena jiwa yang tertekan aku hanya bisa mengendap-endap padahal tak ada orang disini. Aku menuju kamar Donghae, takut-takut dia sedang tidur disana, jadi aku bisa lebih waspada untuk mencari tahu kenapa dia selama ini.

Pintu kamar itu tertutup, aku mengerinyit, Donghae tak pernah menutup pintu sejak kecil, jika seseorang menutup pintu kamar nya dia akan sangat marah. Rasa penasaran ku semakin menjadi-jadi.
Kubuka pintu kamar nya perlahan-lahan, dan betapa terkejut nya aku dengan apa yang ku lihat. Dikamar ini ada laptop, handphone yang ditaruh sekena nya ditempat tidur, MP3 player yang dulu pernah dia tunjukkan dan sebuah koper berwarna biru.

Tiba-tiba tanpa sempat aku mengelak dari belakang seseorang memukul tenguk ku dengan kuat. Mata ku langsung berkunang-kunang dan aku kehilangan orientasi. Lalu gelap dan aku tak ingat lagi aku diapakan.

****

Telingaku mendengar suara ribut seperti bunyi mesin. Udara disini lebih dingin dari pada dirumah Donghae. Aku berusaha membuka mata ku yang berat nya minta ampun, setelah mata ku terbuka hal yang kulihat pertama kali adalah dinding yang terbuat dari logam. Aku ada dimana? Apa aku ada dipenjara? Apa yang memukul ku itu adalah tentara yang curiga dengan rumah Donghae? apa aku akan dieksekusi?

“kau sudah dua hari pingsan, ku kira kau koma” suara kurang ajar itu terdengar. Tiba-tiba dada ku seperti mau meledak. Segera aku bangkit dari tidur ku dan menarik kerah baju nya.

“kita ada dimana bodoh? Kau yang merencanakan hal ini hah? Kenapa kau memukulku? Bagaimana kalau leher ku patah?”

“tenang Hyuk! Kau baru sadar, jangan banyak bergerak! Kau mau kepala mu pusing?”

Aku duduk dan memandang nya bengis”sekarang jawab aku, kita ada dimana?”

“kita ada dikapal teman ku yang pernah kuceritakan”

Aku mengerinyit “kapan kau cerita kau punya teman yang punya kapal?”

“kau tak ingat? aku pernah cerita tentang penyelundup yang memberiku MP3 player itu, dan sekarang kita ada dikapal nya! Dan kau tau? Sebentar lagi kita akan sampai!”

Perasaan ku tak enak “sampai? Sampai kemana?”

“kenegara yang bisa mewujudkan semua keinginan kita!” dia menjawab dengan begitu senang sedangkan jantung ku seperti ingin melompat. Dia benar-benar keras kepala. Aku benar-benar muntab.

“sudah kubilang jangan bawa aku, kenapa kau masih saja membawa ku menantang maut? Aku menyesal kenal dengan mu Lee Donghae!!”

“Hyuk! Kita bisa minta perlindungan!”

“kalaupun kita minta perlindungan tak menutup kemungkinan mereka menembak kita dijalanan atau menabrak kita ketika kita menyebrang. Kita ini pelajar! Mereka sangat mudah melacak kita Donghae!” aku meremas rambut ku, aku begitu kalut sekarang. Bayangan kematian orang tua ku kembali menghantui ku.

Donghae duduk disamping ku dan merangkulku “percaya aku Hyuk! Bukan kah kita bersahabat? Aku sudah merencanakan ini dengan baik, aku sudah memperkirakan semua nya. Mati itu bukan urusan kita, jika kita memang ditakdirkan mati pasti kita akan mati, entah bagaimana cara nya” nada bicara melembut dan dia menempuk bahuku untuk semakin meyakinkan ku.

Aku terdiam, ku pandangi sahabat ku ini dengan seksama. Sorot mata nya yakin kalau dia akan bahagia dikehidupan baru nya.

Donghae, dia sudah terlalu banyak berkorban untuk ku. Dia bisa saja meninggalkan ku sendirian ketika orang tua nya mendapatkan kesempatan untuk pergi. Dia bisa saja pergi sendirian tanpa mengajak ku jika dia mau,tapi dia tak melakukan itu.

Suara mesin berbunyi begitu kencang dihiasi beberapa kali bunyi-bunyi peluit. Kapal semakin mendekati tanah harapan itu. Dengan harapan sebegitu besar Donghae akan hidup disana. Sedangkan aku, terlalu nyaman dengan tidak berbuat apa-apa, menerobos dan melakukan hal baru adalah sebuah momok, pecundang yang saat ini tengah mencoba lebih kuat. Aku sudah tersedot kedalam arus impian dan semangat Donghae, tak bisa keluar lagi. Tiba-tiba aku merasa begitu beruntung, aku balik merangkul nya sambil dalam hati aku berdoa semoga manusia berhati putih ini menggapai semua pengharapan nya dinegeri tempat dia menyimpan harapan-harapan nya, dan dalam hati ku pula aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin, apapun rintangan nya, dinegara manapun aku berada, apapun yang terjadi, untuk sahabat ku yang begitu tulus.

END.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s