Seikat nafas untuk Juwita

merokok-membahayakan-anak.jpg

Juwita tak lagi menangis, kulit nya membiru. Bukan karena kedinginan, tapi karena sudah ketakutan duluan, dia harus berhadapan dengan gelap dialam barbazkh. Kenapa harus Juwita? kenapa harus tetanggaku yang bahkan belum bisa berjalan?

Dua bulan lalu Juwita masih dalam gendongan, terbatuk-batuk lantaran tak tahan dengan asap yang dikeluarkan dari mulut ayah dan ibu nya. Tak ada yang mau melarang mereka, termasuk aku. Kami terlalu terbiasa melihat dua sejoli itu merokok hingga merasa semua nya benar, semua nya akan baik-baik saja.

Asap mengepul mengerubuni Juwita, lebih lama memeluk nya dari pada kedua orang tua nya. Memeluk nya dengan begitu erat hingga Juwita tak tahan dan mulai goyah. Radang menggerogoti paru-paru mungilnya.

Disela batuk nya dia menyempatkan diri membuat hidupku lebih ceria ketika dia mulai tertawa, pipi gembul dan tubuh nya yang mulai mengurus tak membuat nya kehilangan semangat untuk tersenyum, saat malam hari dia akan menangis keras dan hingga urat-urat dikening nya bermunculan. Juwita kembali tertawa lagi keesokan hari nya.

Dan Juwita demam hingga harus dirawat, ibu nya menangis tak percaya ketika mengetahui anaknya sudah menderita penyakit yang begitu parah, hati ku hancur. Juwita sudah tak bisa membuka mata nya lagi sejak saat itu. Juwita mulai pucat, tubuh nya mengenaskan, rambut nya tak ada lagi. Juwita menderita, penderitaan itu harus diemban oleh anak kecil yang bahkan belum bisa mengeluh.

Digendongan ayah nya Juwita menyerah melawan hidup, hidup begitu kejam hingga tak tertahan oleh nya. Orang lain dengan egois memenuhi kebutuhan yang tak penting dan membuat nya harus lesu dimakan penyakit.

Tubuh Juwita yang kaku bergerak lesu mengikuti gerak ayah nya yang berjalan menuju liang lahat nya yang mungil. Wajah ayah nya bersimbah air mata, aku tau hati nya hancur dan penuh penyesalan. Tak pernah terpikir dia akan secepat itu bersama anak nya, anak nya yang membuat nya harus mati-matian mencari uang untuk membeli segala keperluan nya.

Juwita tak lagi merasa sakit, tak lagi sesak napas, tak lagi ditusuki berbagai jarum. Juwita yang cantik akan memakai baju indah dari surga, berlari kecil dipelataran istana surga, tertawa lepas tanpa remah-remah batangan manis yang berisi tembakau. Juwita akan menerima banyak hadiah, seikat nafas segar pun akan mudah didapatkan disana.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s