Sesajen Untuk Neptunus

Dari aku mulai mengerti dunia sampai aku belum baligh,ayah ku selalu pergi ditengah malam dan kembali pada pagi hari seminggu kemudian, membawa jala dan wajah lelah namun senang, tapi kadang wajah nya bagai habis menelan pil pahit lantaran apa yang dicari nya tak seperti yang dia idamkan.
Kata ibu ku pekerjaan ayah ku adalah seorang nelayan, pencari ikan, salah satu elemen penting dibangsa ini. Aku diam saja, mungkin ibu ku hanya ingin membesarkan hatiku, jika ayah ku adalah elemen paling penting untuk bangsa kaya ini kenapa sampai saat ini ayah ku belum punya kapal juga?

Kecuali laut sedang tak berkawan ayah diam minum kopi dirumah, kadang pergi kewarung kopi dekat dermaga, mengeluh pada kawan senasib. Tak mungkin ayah mengeluh pada ibu, ibu adalah perempuan, jika mencoba mengeluh pada perempuan yang ada ayah ku malah kena damprat.

Sekali-kali aku meminta ayah untuk mengizinkan ku ikut berlayar. Ayah tersenyum sambil mengelus kepala ku dia menggeleng, selalu seperti itu, tak pernah mengizinkan ku ikut. Kadang dia mengatakan bahwa pasti banyak PR, dia menyuruh ku mengerjakan PR. Ayah tak tau bahwa PR selalu keselesaikan sepulang sekolah supaya malam-malam nya aku bisa bermain samberlang* dengan teman-teman ku.

Ayah ku selama berhari-hari bahkan berminggu ada dilaut, hanya air yang dilihat nya, jauh dari ku, dari ibu dan dari mesjid. Apakah ayah ku sembahyang? Bagaimana ayah ku bisa tau waktu sembahyang? Apakah suara TOA dari mesjid didepan rumah ku bisa terdengar? apa di kapal ada surau sehingga ada yang adzan? Lama aku memendam pertanyaan itu hingga akhir nya aku menyerah dengan rasa penasaran. Ayah tertawa kecil saat aku bertanya.

“tentulah ayah sembahyang, ayah tak mau masuk neraka” ujar ayah ku sambil kembali mengirup segelas kopi hitam

Setahun sekali akan ada upacara pemberian sesajen oleh dukun-dukun laut, mereka meminta pada jin laut supaya ayah ku dan ayah-ayah kawan ku yang juga nelayan jangan ditelan oleh mereka, anak mereka ada tujuh dan masih kecil-kecil. Jika ayah-ayah kami ditelan ombak kami mungkin takkan bisa sekolah lagi. Dukun-dukun itu pun meminta supaya diberikan tangkapan yang banyak dan juga supaya jin laut tak mengamuk dan mengirim tsunami kekampung kami. Selain meminta yang tidak-tidak ternyata dukun-dukun itu pun berniat menyuap.

Lalu ayah kembali melaut tengah malam nya, sehabis sembahyang tahajud ayah menghisap sebatang rokok sambil menata jala nya lagi, menegak kopi hitam nya sekali lagi dan pergi dari rumah. Besok nya ketika aku terbangun dari tidur ayah sudah tak ada, dan disamping ku sudah ada uang jajan dari ayah.

Lima hari berlalu dan ayah akhir nya kembali, laut sedang tak berkawan, badai akan sering muncul. Keesokan nya ibu kawan ku datang, menanyakan apakah kapal yang membawa suami nya terlihat ayah ku, ayah menggeleng. Ibu kawan ku menangis, ayah segera keluar mencari bantuan dan ibu ku menenangkan wanita yang baru ditinggal suami nya itu. Kawan ku menangis didepan rumah ku, bersama adik-adik nya yang terheran melihat kakak mereka asik menyeka air mata.

Lalu kampung ku sepi, semua nya merasa sedih. Awan duka mengendap dikampung ku membuat waktu terasa lamban dan gersang. Aku dan kawan-kawan ku tak bermain selama beberapa hari guna menemani ibu-ibu kami yang menghibur keluarga yang berduka. Ibu kawan ku yang ditinggal suami nya sering sekali melamun kulihat, lalu, mungkin dia tak sadar, air mata keluar begitu saja dari mata nya.

Sepedih itukan kehilangan keluarga? Aku hanya berharap dikeluarga ku akulah yang pertama meninggal.

Ayah ku pulang dari tahlilan empat puluh hari ayah kawan ku, dia tak melaut. Tak ada yang berani angkat sauh karena ombak sedang besar. Nelayan-nelayan yang lain menarik kapal dari laut dan memperbaiki kapal yang sudah dihantam ombak selama berbulan-bulan. Ayah tak mungkin bisa memperbaiki kapal karena dia tak punya kapal. Untuk mendapat uang ayah membantu para pengrajin kapal yang sedang banyak orderan untuk mendempul atau mengecat ulang.

Setiap pagi ketika tak melaut ayah berjalan bersama ku dan ketiga adik ku yang lahir nya rapat-rapat, mengantar kami kesekolah. Jika ada yang lelah ayah akan menggendong kami, jika ayah yang lelah kami tak tau karena ayah tak pernah kelihatan lelah. Ketika kami sampai digerbang sekolah ayah tersenyum dan kembali berjalan pulang kerumah.
Saat aku dan adik ku pulang sekolah buku-buku pelajaran dan buku tulis sudah dimeja bersampulkan bagian belakang kalender tahun lalu yang didapat dari apotek, putih bersih. Ketika kami ingin mengambil buku-buku kami ayah melarang, nasi untuk merekatkan sampul belum lagi kering, jadi kami belum bisa menamai buku-buku bersampul cantik itu.

Dua bulan kemudian laut kembali seperti sedia kala, ombak-ombak nya menggulung bergiliran bagai rambut keriting boneka India dan ayah ku kembali mempersiapkan jala yang menggantung dua bulan belakangan ini.

Suara gemericing dari pemberat jala membuat ku tersentak, aku keluar dari kamar dan melihat ayah sedang duduk menghabiskan rokok dan kopi hitam nya, ketika melihat ku didepan kamar ayah menyuruh ku duduk dipangkuan nya.

“kenapa abang tak tidur? dah malam ni”

Aku diam saja, malas sekali rasa nya berbicara.

Ayah mendudukkan ku ditempat nya tadi duduk. Lalu mengambil jala yang tergeletak dilantai. Setelah meminta izin dari ibu, ayah keluar dari rumah, kulihat tubuh tegap namun goyah kesamping ayah, dibahu kanan nya tersampir jala-jala penangkap rezeki. Lalu ayah menghilang, tubuh nya tersembunyi dihalaman yang tak terkena lampu depan. Angin laut yang kebetulan ingin ketengah laut juga menemani ayah menuju kapal tempat dia menumpang mencari rezeki. Dan aku duduk sendiri, tiba-tiba sangat merindukan ayah.

 

*samberlang : sejenis permainan petak umpet tapi terdiri dari dua kelompok, kelompok yang bersembunyi dan kelompok pencari. Untuk mengalahkan kelompok yang bersembunyi kelompok pencari hanya perlu menyambar tubuh kelompok pencari.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s