Satu Juta Keping

Picture31

Perempuan itu menghela napas nya lega sambil tersenyum. Diambil nya map hijau lumut dan dia berdiri menuju ruangan ku yang ditutupi kaca satu arah. Jantung ku berdegup kencang. Segera ku tidurkan dua bingkai foto disamping laptop yang ada dimeja kerja ku, sangat tak lucu ketika dia melihat wajah nya menghiasi meja kerja ku.

Setelah mengetuk pintu dan ku persilahkan dia pun masuk keruangan ku, menyodorkan ku map hijau yang dipegang nya tadi.

“ini berkas perjanjian perusahaan kita dengan PT. Rockeldge pak” suara nya khas nya yang riang menciut ketika berbicara dengan ku, selalu begitu.

“Rockeldge? aku tak pernah membuat perjanjian dengan mereka”

“Bu Sinta yang menyetujui kerjasama dengan PT. Rockledge pak, saat itu bapak..”

“kalian melakukan perjanjian dibawah tangan ku? sejak kapan perusahaan ini mempekerjakan pegawai yang tak menghormati atasan seperti kalian ha?!!”

Dia menunduk takut. Aku sangat menyukai sikap nya saat ku marahi, sangat manis.

“Periksa ulang lagi perjanjian kita dan minta mereka melakukan rapat dengan ku jika mereka memang ingin bekerja sama”

“tapi pak, mereka menginginkan berkas perjanjian sampai ke mereka minggu ini”

“aku tak mau tau! jika mereka menolak maka batalkan perjanjian! lagi pula ini juga salah mu Alisa! apa guna mu selama ini hah?!”

Dia diam beberapa saat, sambil menunduk diselipkan nya rambut hitam panjang itu ketelinga nya. Wajah nya sudah pias karena ku, manis sekali.

“Ambil lagi berkas ini dan revisi kembali!”

Dengan segera dia mengambil berkas yang kuyakin dikerjakan nya selama dua hari penuh itu dan melangkah pergi setelah menutup pintu.

Dia benar-benar membuatku jatuh cinta, ketika keluar dari ruangan ku dia langsung mengisyaratkan pada rekan kerja satu ruangan nya bahwa dia habis terkena damprat ku, tak ada wajah kesal, malah dia kembali fokus kekomputer nya setelah habis menertawakan sebentar nasib sial nya.

***

Mengapa dia tak datang kehidup ku lebih cepat? aku sangat menyesal dan marah. Perempuan itu dan waktu menjadi sumber kemarahan ku, kenapa aku mencintai Alisa, kenapa waktu sangat tidak tepat, kenapa dia tak melamar diperusahaan ini enam tahun lebih awal? kenapa dia sudah memiliki kekasih? kenapa kekasih nya itu jodoh nya? kenapa dia sangat cantik? kenapa dia sangat periang? kenapa aku sangat menyukai wajah riang nya? ini benar-benar membuat ku marah!

Saat rasa marah ku memuncak yang bisa kulakukan hanya melihat paras manis nya dari balik kaca satu arah yang membatasi ruangan ku dan staff divisi ku.

Aku dikenal dengan sikap tempramental dan dingin, namun aku memberikan nya sikap yang berbeda..

sikap yang lebih tempramental dan dingin, guna menyembunyikan rasa cinta ku yang sudah meluber hingga hampir menenggelamkan ku.

Sering aku memaksa nya lembur dengan pekerjaan-pekerjaan yang sebenar nya bisa dilakukan besok, saat dia berkutat dengan komputer dimeja kerja nya yang tanpa sekat itu aku memandangi nya sambil tersenyum, terpaan cahaya monitor kewajah nya itu benar-benar menambah kecantikan nya.

Bisakah dia kumiliki? kenapa untuk hal yang benar-benar ku inginkan Tuhan seakan menjauh dan mengacuhkan ku?

***

Dua tahun lalu, Dia berbicara dengan rekan nya, sambil tersenyum lebar dia memamerkan cincin berlian yang membelit jari manis nya.

Dia dilamar.

Kurang ajar betul lelaki yang melamar nya.

Rekan nya melonjak senang sambil memeluk nya dengan erat sambil mengguncang tubuh nya tanda betapa bahagia nya dia saat mengetahui dia -alisa-ku dilamar lelaki berengsek yang tak pernah kulihat wajah memuakkan nya itu.

Dan hari itu dia habis kuterror dengan bentakan-bentakkan ku.

Kuingat pula saat dia meminta ijin cuti untuk persiapan pernikahan nya, dengan hati hancur kudamprat dia dengan mengatakan bahwa pekerjaan nya tak pernah ada yang beres, tapi bodoh nya dia tetap ku beri cuti.

Dan aku sadar, jika dia benar-benar milikku aku tak akan pernah bisa menolak semua permintaan nya.

***

Jantung ku seperti naik ke kerongkongan.

Alisa berlari kearah ku sambil melambaikan tangan indah nya , aku mencegah pintu lift menutup untuk membiarkan nya masuk.

Dia membungkuk sambil mengucapkan terima kasih.

Aku diam.

Sial! ternyata hanya kami berdua dilift. Seharus nya tadi kubiarkan saja pintu lift nya menutup.

Suasana canggung, kenapa mau-mau nya aku masuk kesuasana seperti ini.

Dia terus menunduk tanpa berusaha memulai pembicaraan, mana mungkin dia memulai pembicaraan, kami berbicara hanya saat aku mendamprat nya karena kesalahan-kesalahan kecil yang ku besar-besarkan atau sesuatu yang benar dikerjakan nya tapi masih saja dia terkena repetan ku.

Akhir nya pintu lift terbuka, kenapa saat dilantai tempat divisi ku berada baru ada orang yang masuk kedalam lift, benar-benar menjengkelkan.

Suasana langsung diam saat aku melenggang masuk melewati staf-staf ku. Diikuti oleh nya yang langsung merubah suasana mencekam yang ku bawa menjadi lebih ceria.

Kulihat dia membisikkan sesuatu yang langsung membuat rekan nya menjingkat histeris, lalu mereka berpelukkan, kemudian rekan nya mengelus perut rata nya.

Rekan nya mengumumkan sesuatu yang tak bisa kudengar dari ruangan ku, dan kemudian rekan-rekan nya yang lain mendatangi nya dengan riang sambil menjabat tangan nya, bahkan beberapa memeluk nya dengan semangat.

Dia sudah menikah, tentu saja kabar tentang kehamilan begitu membahagiakan.

Dia semakin tak bisa ku jangkau.

Jantung ku seperti ditekan kaki gajah, ngilu sekali. Rasa nya seperti dulu empat tahun lalu, saat aku mengetahui dia sudah punya kekasih. Saat dia masih staff magang didivisi ku.

Karena patah hati, aku sempat naik pitam. Harap maklum, marah adalah rutinitas ku, jika aku tak marah-marah satu divisi pasti akan merasa janggal.

Tapi itu hanya awal nya saja, setelah kupikirkan lagi Alisa ku tak boleh terlalu stress, dia sedang hamil muda. Bisa-bisa bayi itu membawa mudarat jika ibu nya ku buat stress.

***

Perut nya semakin membesar dan jarak ku dengan nya semakin membesar juga, percakapan kami hanya ketika dia meminta izin memberikan berkas dan tanpa dampratan lagi dia kubiarkan lepas, tak pernah lagi aku memarahi nya, tak pernah lagi aku menyuruh nya lembur. Dia lembur jika memang dia ingin lembur.

Saat dia lembur itu adalah waktu yang cukup menyenangkan bagi ku, dengan leluasa aku bisa memandangi nya satu atau dua jam lebih lama, tanpa interupsi dari mana pun.

Aku benar-benar merindukan nya.

Dia terlalu dekat untuk dilihat, terlalu jauh untuk digapai, dan terlalu tak mungkin untuk dimiliki.

Menyadari kenyataan itu aku kembali naik pitam.

Akhir nya waktu berjalan cepat. Perut perempuan periang itu sudah besar sekali, ku dengar samar-samar dia mengandung anak kembar. Oh betapa bahagia nya Alisa ku dan lelaki yang berstatus suami nya itu, benar-benar minta ku panah lelaki beruntung itu.

Dia berdiri, dan berjalan sedikit lambat menuju ruangan ku, tanpa berkas seperti biasa nya. Pasti dia ingin izin cuti melahirkan.

Pintu kaca satu arah yang membatasi tempat ku duduk dengan tempat nya berdiri diketuk oleh nya. Jantungku berdetak cepat, selalu seperti ini. Ku izinkan dia masuk.

Setelah kupersilahkan dia duduk, dia menunduk sebentar untuk mengumpulkan keberanian. Aku sudah sangat terlatih untuk menciptakan aura mengintimidasi, kemampuanku sudah setingkat dengan preman berpengalaman.

“Saya ingin cuti beberapa minggu untuk proses kelahiran anak saya pak”

Amboi, merdu sekali suara mu Alisa. Hampir setengah tahun aku tak mendengar suara nya selama itu.

“Baiklah, sebelum itu kau latih dahulu pegawai yang akan menggantikan mu”

“Baik Pak, saya akan melatih nya dengan baik”

Dia bangkit dari duduk nya dan minta izin untuk keluar dari ruangan ku. Aku diam, kenapa sebentar sekali? aku tak rela. Tapi sial nya dia mengira kediaman ku sebagai tanda setuju, dia pun membungkuk dan berjalan menuju pintu dengan lambat.

“tunggu dulu Alisa”

Dia berhenti dan kembali mendekati meja kerja ku.

“Aku belum pernah mengucapkan selamat atas kehamilan mu” aku mendesah kecil “selamat” astaga, ini sakit sekali!

Dia tersenyum sambil membungkuk kan badan nya “Terima kasih banyak Pak”

“Dan selamat juga atas pernikahan mu” Tuhan…kenapa kau ciptakan patah hati harus sesakit ini.

Dia kembali mengucapkan terima kasih dan membungkuk, dengan permintaan maaf berkali-kali karena menurut nya pertanyaan nya tak sopan dia bertanya kenapa aku tak datang saat resepsi pernikahan nya, padahal saat itu hari Sabtu.

Mana mungkin aku datang, bisa-bisa dia kubawa lari dan ku nikahi di luar negri, tapi kujawab dengan singkat dan dingin bahwa aku sibuk.

Kami diam beberapa saat, ada banyak hal yang ingin kutumpahkan.

“kapan kau bercerai?”

“aku berjiwa kebapakan, menikah saja dengan ku dan akan kurawat anak mu”

“ku lihat kau tak cocok dengan suami mu sekarang, lebih baik kau bercerai saja”

“apa kau bodoh? aku mencintai mu hampir empat tahun! kenapa kau menikahi lelaki tengik itu, bukan menikahi ku Alisa!”

Tidak tidak, bisa-bisa dia melahirkan ditempat jika ku katakan itu sekarang. Mungkin dengan sedikit bersahaja:

“Alisa, wanita yang kucintai, aku mencintai mu sejak kau masih magang disini, aku memperlakukan mu seperti ini karena aku hampir mati mencintai mu dan kau selalu membuat ku patah hati, ku mohon menikah lah dengan ku, dan akan kubuat kau dan anak yang ada didalam tubuh mu bahagia, aku berjanji”

Lalu dia terharu mendengar pengakuan ku dan menikah dengan ku besok pagi nya.

Bahagia nya menjadi pemimpi.

Karena aku hanya melamun tak tentu Alisa kembali meminta izin dan membungkuk, aku masih tak rela tapi aku juga tak bisa menahan nya lagi. Dada ku terasa penuh, ku lihat dia berjalan lambat dan keluar dari ruangan ku dan menjumpai seorang perempuan kecil yang nanti menggantikan nya.

Dari penuh dada ku menjadi sesak.

Aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku sudah patah hati setiap hari nya. Hati ku sudah patah menjadi jutaan keping yang kubiarkan selama bertahun-tahun. Hari ini adalah puncak nya, Alisa ku semakin menjauh, dia pergi menjalani hidup nya ditemani dengan jodoh nya dan sebentar lagi akam ditemani anak-anak nya. Aku saja yang masih melihat nya dari kejauhan, tak bergerak-bergerak.

Perempuan itu dengan ceria berbicara, keceriaan nya bagai palu yang meluluhlantakkan hati ku. Membuat hati ku hancur menjadi satu juta keping kecil-kecil.

 

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s