Orbit | Prolog

orbit1
Poster by Dyzhetta@Art Fantasy

 

Prolog

Kevin membanting koper hitam besar nya kekasur. Tak mengindahkan Jevin yang menangis tersedu-sedu dihadapan nya.

“Kev, kamu emang nya mau kemana? Kamu kan masih kecil” Jevin mencoba merebut koper hitam itu, entah tenaga dari mana Kevin menyambar koper itu dengan cepat, mata nya berkilat marah.

“Bukan urusan kamu aku mau kemana! Gak usah sok peduli, kamu sama ayah sama aja, oh iya aku lupa! Kamu kan emang anak ayah”

Kevin mengancing koper dan pergi begitu saja. Tangisan Jevin makin kuat namun tak bisa menghentikan emosi Kevin yang lebih kuat. Kevin yang memang selalu dingin akhir nya meledak, tamparan ayah nya adalah pemicu ledakan itu.

Dan hanya tinggal Jevin sendiri berdiri dikamar, ditinggal oleh seorang yang dulu adalah satu didalam rahim, orang paling kejam namun paling dia sayangi.

***

Kevin tetap tak pulang walau sudah seminggu setelah peperangan nya dengan ayah. Kevin pergi ke Bandung, entah keberanian dari mana anak kelas dua SMP bisa kesana. Ayah nya sering marah-marah ditelepon karena orang suruhan nya tak bisa memaksa Kevin pulang.

“Kamu ngelamun lagi?”

Jevin tersentak, mata nya langsung melihat anak perempuan yang tersenyum geli saat melihat wajah kaget nya. Suasana kelas nya sudah ribut, ternyata bel pulang sudah berbunyi.

“Ngelamun jangan dibikin hobi Jev, takut nya nanti ada berita cowok paling ganteng disekolah kesambet arwah cewek yang ngegebet dia, gak kebayang deh nanti pas kamu kesambet suara kamu jadi cempreng-cempreng gitu”

Jevin tak menjawab, biarkan dulu dia menikmati wajah gadis manis ini, wajah gadis pujaan nya ini, diam-diam. Semakin lama dia berceloteh semakin bersyukur Jevin.

“Jev, cepetan beres-beres! Ini udah bel pulang loh, aku pulang duluan yah!”

Perempuan itu berjalan santai menjauhi Jevin hingga dia hampir mendekati pintu.

“Mala!”

Dia menoleh, Jevin tersenyum sambil melambaikan tangan”Hati-hati ya”

Dia mengangguk dan tersenyum malu-malu, lalu lari dengan wajah berseri-seri.

Tak berapa lama kemudian Jevin berjalan santai menuju gerbang sekolah. Mobil hitam milik ayah nya terparkir diseberang. Jevin mengerinyit, ayah nya tak pernah menjemputnya.

Didekati nya mobil hitam itu, dan benar ayah nya lah yang ada didalam. Jevin mau bertanya kenapa ayah nya tumben sekali menjemputnya, namun belum lagi kalimat itu terlontar ayah nya sudah menyuruh melihat kebelakang. Disana, Kevin sedang tertidur, kulit nya entah kenapa lebih hitam.

Jevin kaget dan bahagia, Kevin akhir nya pulang!

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s