Nasrul

Jalanan terasa dekat sekali untuk Nasrul, tiba-tiba dia sudah sampai diterminal angkot dekat rumahnya. Ingin rasanya dia salah naik angkot lalu nyasar entah kemana dan tak bisa pulang karena uang lima ribu itu uang terakhirnya. Berkali-kali dia menghela napas sambil berjalan menuju rumah.

Sebulan lalu dia kena PHK, pabrik tahu tempat dia kerja gulung tikar karena harga kedelai naik bagai cheetah lari menanjak. Dia diberi pesangon lima ratus ribu lalu dengan berat hati Nasrul pergi ke rumah, mengadu pada bini dan tiga anaknya yang kecil-kecil.

Kawannya mengajak berdemo ke kantor DPR, Nasrul tak mau. Tak baik memprotes nasib pada bapak ibu wakil rakyat itu, mereka sudah pening memikirkan akhir bulan ini mau berlibur ke negara mana.

Nasrul adalah lelaki dengan tubuh hitam legam dan badan kekar berotot. Bukan karena sering berolahraga, tapi karena dua belas tahun dia mengangkat kedelai basah dengan berat 45 kilo setiap hari kecuali pas hari raya idul fitri, hari raya haji, pas maulid dan isra’ mi’raj, atau pas saudara juragan tahunya kawin.

Walaupun badan dan mukanya seperti algojo Nasrul punya perangai seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Bicaranya sedikit, dia tersenyum pada siapa saja yang berpas-pasan dengannya, tak pernah mengamuk pas anaknya mengencingi bajunya yang paling elok; baju safari yang biasa dipakai nya buat sholat jum’at. Damai sekali perangainya memang, hanya saja dia miskin, jika dia kaya pasti dia akan menjadi idaman wanita kota; badannya berotot dan punya kotak-kotak delapan biji di perut. Sifatnya membuat meleleh wanita-wanita kota itu dan jika dia kaya pasti dia punya muka rupawan dan putih.

Nasrul sampai di muka rumahnya. Anaknya yang paling kecil bermain mobil-mobilan dari botol minuman yang dibuat bapaknya semalam. Melihat bapaknya datang Si anak bungsu langsung berlari minta digendong dan memeluk bapaknya, Nasrul menciumi anaknya bertubi-tubi sampai anaknya tertawa manja.

Sambil menggendong si bungsu Nasrul masuk kerumah kayu peninggalan bapaknya, cuma ada anak ke duanya yang membawakan nya kopi pahit. Nasrul bertanya dimana ibu dan kakaknya, anak ke duanya menjawab ibu dan kakaknya sedang mencari rongsokan buat dijual ke tukang loak.

Nasrul diam, dia merasa bersalah. Sebulan sudah dia menjadi pengangguran, uang lima ratus ribu habis lebih cepat karena anak bungsunya kena muntaber dua hari setelah dia dapat pesangon. Anaknya dibawa kerumah sakit, waktu itu tak sampai pikiran dia tentang biaya pengobatan anaknya. Akhirnya dirumah sakit anak nya ditelantarkan karena dia belum bayar uang sewa dokter yang judul kerennya uang administrasi. Dengan ikhlas Nasrul membayar uang administrasi. Dokter adalah perpanjangan tangan Allah, jadi harus dituruti apa mau dokter.

Uang perawatan anaknya per malam makin membengkak, uang pesangonnya sudah kandas. Kartu keluarga miskin dia tak punya. Orang rumah sakit mengancam akan memulangkan anaknya yang masih parah muntabernya. Ketua RT menyuruh dia mengurus kartu kesehatan untuk keluarga miskin supaya bisa berobat gratis, dia pun menurut. Tapi rupa nya disana pun dia dimintai uang administrasi, mau tak mau dikasihnya lah uang administrasi itu.

Dimana-mana uang administrasi, mungkin karena kartu yang di genggamannya adalah kartu dari bahan plastik kwalitas super, bukan ecek-ecek.

Nasrul akhirnya bisa tersenyum lega saat orang-orang pintar perpanjangan tangan Allah itu tak merajuk lagi dan mau menyembuhkan anaknya.

Dua minggu kemudian anaknya sembuh, sesampainya di rumah Nasrul membeli setandan pisang dan membagikan pisang itu ke anak-anak tetangganya sebagai ungkapan syukur yang tiada tara kepada Allah.

Tapi, uang lima ratus ribu itu sudah kandas sebelum istrinya membeli beras. Nasrul pun sudah letih berjalan mencari kerja, kadang dia duduk-duduk di terminal dekat rumahnya sambil berpikir kenapa dia tidak mendapat satu pun pekerjaan di terminal itu. Kadang disana dia membantu anak gadis dan ibu-ibu dengan mengangkat kardus-kardus bertumpuk mereka yang entah apa isinya. Sering dia dikira orang jahat tapi kadang kebaikan hatinya dibalas dengan uang sepuluh – dua puluh ribu. Nasrul tersenyum penuh syukur, anak dan istrinya pun bisa kenyang untuk hari ini.

Malam beranjak makin pekat, ketiga anaknya sudah tidur pulas dikamar. Nasrul dan istrinya bercakap-cakap di ruang tamu yang juga ruang tv, ruang bermain, ruang makan, dan kamar tidur untuk Nasrul.

Nasrul memijit kaki istrinya yang baru pulang tadi sore. Di lihatnya istrinya itu pulang sambil membawa karung besar, lelah sekali muka istri dan anaknya tadi. Anak sulungnya begitu sampai di rumah langsung mandi dan tidur, di bangunkan untuk sholat maghrib dan dia kembali tidur pas habis sholat isya. Istrinya tak bisa, begitu pulang dia harus memandikan dua anaknya, mengajari anak kedua nya membaca karena akan masuk SD, mendiamkan anak bungsunya yang rewel karena sudah mengantuk.

Nasrul makin merasa bersalah, tadi sebelum istri dan anaknya pulang dia sudah mencuci piring dan menyapu rumah untuk mengurangi beban istrinya. Dia tak bisa mengajari anaknya membaca lantaran dia buta huruf, dia tak punya suara syahdu macam istrinya untuk membuai si bungsu dan kedua anaknya tak tahan punggungnya harus digosok oleh Nasrul saat mandi karena tenaga bapaknya macam kuda.

Dia menghela napas dan memijit kaki istrinya lebih kuat meski tetap lembut. Istrinya sadar suaminya sedang dirundung rasa bersalah padanya. Dia bangkit dari duduk selonjornya dan menyeduh kopi pahit kesukaan suaminya guna menghibur lelaki berhati putih itu.

Istrinya memberikan secangkir air gula berwarna hitam itu, Nasrul mengambilnya dengan senyum penuh terima kasih. Setelah meminum dua teguk dia kembali memijit kaki istrinya sambil berkata besok dia saja yang memulung, istrinya lebih baik di rumah mengurus anak-anak mereka.

Advertisements

You Can Be An Endorphin

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s